Kisah Nyata: Mayat Si Kecil Dalam Pelukan Ibudanya
Diposting oleh
Unknown
|
"copy paste dari fans page strawberry"
Hari ini melelahkan sekali, aku harus berganti kereta sampai 2 kali,
dari arah Depok menuju stasiun Kota, dari stasiun Kota nyambung lagi
dengan kereta Patas arah Angke sampai stasiun Merak. Tapi karena jadwal
kereta kadang tidak jelas, harusnya kereta Patas berangkat pukul 10 tapi
jadi molor jauh tidak jelas pukul berapa kereta harus berangkat (mirip lagu Iwan Fals).
Sesaat aku duduk di gerbong yang tidak terlalu padat, disisiku ada
seorang ibu yang menggendong anaknya sepertinya sedang terlelap. Karena
jenuh menunggu kereta tidak berangkat-berangkat, akhirnya untuk mengusir
rasa kejenuhan aku mencoba mengajak ngobrol ibu yang menggendong
anaknya tepat disebelahku.
Aku : “Ibu, ini anak ibu?”
Ibu : “Iya, neng”. Menjawab dengan tanpa ekrspresi dan aku semakin penasaran.
Aku : “cantik ya bu, anaknya”. Terlihat sekali anak itu didandani
dengan bedak dengan baju warna pink serta sedikit celak dimatanya.
Ibu : “Terima kasih, neng”. Masih tanpa ekspresi. Lalu ku lanjutkan pertanyaanku.
Aku : “Mau kemana, bu?”.
Ibu : “Ke daerah Rangkasbitung”. Sambil menyebutkan suatu daerah di Rangkasbitung.
Aku : “Wah, jauh ya bu”.
Ibu : “Iya, neng”. Masih dalam ekspresi tak jelas.
Kereta sudah 1 jam lamanya tapi belum jalan juga, katanya ada banjir di
daerah Tanah Abang, otomatis perjalanan kereta sementara banyak yang
tertunda.
Anak dalam pangkuan si ibu tadi masih dengan tenang
dalam pelukan ibunya, padahal penumpang semakin sesak terasa tak nyaman
dan mulai panas. Aku kembali penasaran kok bisa anak sekecil itu tetap
tenang dalam keadaan kereta yang sangat panas tak ada penyejuk sekedar
kipas angin saja.
Aku : “Bu, kok anaknya anteng ya..padahal panas gini”. Aku kembali membuka pembicaraan.
Tiba-tiba si ibu menangis….
Aku : “Bu, maaf…ada yang salah dengan kata-kata saya”. Tanyaku semakin penasaran.
Ibu : “Tidak, neng…ibu sedih sekali”. Dia sepertinya mulai membuka diri padaku.
Aku : “Kenapa sedih, bu?”.
Ibu : “Maaf, neng…tolong setelah ibu ceritakan semuanya jangan katakan
pada siapapun, pada penumpang maupun kondektur. Neng, mau janji?”.
Aku sangat penasaran cerita apa yang akan disampaikan si ibu, sampai
berpesan jangan sampai menceritakan pada penumpang kereta dan kondektur.
Apa hubungannya mereka dengan si ibu ini.
Aku : “Insyallah, bu. Saya tidak akan menyampaikan kembali cerita yang akan ibu bagi pada saya”.
Ibu : “Terima kasih neng, sebelum dan sesudahnya.” Kemudian aku menyimak isi cerita si ibu.
Sudah satu minggu ini anaknya sakit panas tapi si ibu hanyalah pemulung
yang mengais rizki lewat sampah-sampah yang berserakan. Penghasilan
yang tidak menentu. Kalaupun dapat uang dari hasil menjual sampah
plastiknya, itupun tak seberapa hanya cukup untuk makan. Dia tidak punya
tempat tinggal tetap, kadang tidur di emperan atau di bawah jembatan
layang.
Si ibu ingin sekali membawa anaknya ke dokter tapi dia
tak memiliki uang, karena dia bukan warga DKI Jakarta dan tak memiliki
KTP DKI jadi dia tidak mendapatkan jaminan apa-apa. Si kecil anaknya
hanya diobati ala kadarnya tapi ternyata penyakitnya tak kunjung sembuh.
Sampai subuh tadi akhirnya si kecil dalam pangkuannya meninggal dunia.
Setelah meninggalpun dia bingung, kalau harus dikubur di Jakarta,
ongkos untuk menguburkannya pun dia tak punya cukup uang. Dan bila dia
bawa ke kampungnya yang cukup jauh dari kota Jakarta dengan menggunakan
mobil jenazah, itupun tak cukup ada uang, dibutuhkan uang sekitar Rp
1.000.000,-. Uang sebesar itu kata si ibu sangat besar dalam ukuran dia.
Akhirnya, lewat bantuan para gelandangan dan pemulung terkumpullah uang
sebesar Rp 250.000,- uang sebesar itu cukup untuk membawa si kecil ke
kampung halamannya dan dikuburkan disana yang tidak memakan biaya besar.
Aku benar-benar tercengat dengan penuturan si ibu, lalu atas seizin si
ibu ku pegang tangan si kecil nan cantik dalam pelukan ibunya.
Subhanallah…benar ya Robb, tangan mungil itu begitu dingin tak ada
denyut nadi disana. Ku cium dengan lembut keningnya, amat dingin tak ada
jiwa disana. Ya Robb, si kecil nan cantik itu tertidur damai dalam
pelukan si ibu yang amat menyayanginya.
Aku tak dapat menahan
haru, ingin rasanya ku peluk dia dan ibunya. Begitu sulitnya hidup ini
sampai akhir hayatnya pun si kecil nan cantik itu tak merasakan
keramahan negeri ini. Aku hanya terdiam dan menatap haru, sungguh ingin
rasanya aku berteriak pada negeri ini.
Wahai penguasa nan
congak dan sombong, lihat… ada rakyatmu yang begitu menderita.
Terbelenggu dalam kemiskinan dan keangkuhanmu. Tak bisakah kau membuka
mata hatimu, tetapi kepongahan terus menjalar dihatimu.
Si ibu, tak pernah meyalahkan siapapun dengan keadaanya, dia hanya mengatakan “ini takdir Tuhan”.
Kereta sesaat melaju, aku kini terdiam tanpa kata. Tak ada pertanyaan
yang membuatku penasaran, kini sudah aku dapatkan jawaban dari
keterdiaman si ibu dan indahnya tidur panjang si kecil nan cantik.
Selamat tidur nak, Allah bersamamu selalu dalam damai di surga sana.
Semoga bermanfaat bagi yang membacanya .....
SEKERLIP CINTA DI BAWAH DERAI HUJAN "bagian 4"
Diposting oleh
Unknown
|
(Bagian 4)
Hari itu merupakan pagi yang indah, keindahannya mampu menyejukkan
embun yang menari lembut di kelopak dedaunan . Sesekali wajah pagi
mengedipkan matahari yang mulai malu-malu menampakkan diri yang
kerapkali berusaha menutup wajahnya dengan selembar awan putih namun
kehadiran pangeran bumi, membuatnya tidak berdaya untuk menghindar
sehingga matahari pun tersenyum cerah menghangatkan suasana ibarat kisah romansa sepasang pujangga cinta.
Kiara berputar-putar di depan cermin. Dia memperhatikan dirinya yang
dibalut kebaya panjang yang ia pakai. Hari ini, ustadz Hanif akan
datang untuk mengkhitbahnya (meminang-pen). Dia pun tersenyum melihat
bayangan dirinya sendiri di dalam cermin. Tiba-tiba seorang wanita
setengah baya, memasuki kamarnya.
“kiara-kiara,,bukannya masmu
datang siap zuhur,,kok udah gak sabaran,,masih pagi-pagi udah siap-siapa
pakai kebaya,”ujar wanita itu menggoda Kiara. kiara menjadi salah
tingkah. Wanita yang ternyata ibunya itu, duduk di kursi depan meja
rias, beliau pun tertawa melihat kelakuan putri bungsunya itu.
Kiara bergelayut manja di bahu ibunya. Dan memandang wajah ibunya dari cermin.
“ibu,,,,hari ini kiara bener-bener bahagiaaaaa banget, akhirnya sebentar lagi anak ibu ini akan menikah dengan pangerannya...”
“iya,,sebentar lagi,,kau pergi ninggalin ibuk sama bapak, ikut sama
suami,,,akhirnya bapak sama ibuk udah kehilangan satu anak lagi”ujar ibu
sambil mengelus kepala Kiara.
“ibu dengerin deh, kiara menikah
bukan berarti kiara akan berpisahkan dengan ibu?apa perlu setelah kiara
menikah nanti, kiara tetap tinggal di sini aja?”tanya kiara.
“hush
ngawur kuwi,,,kalau orang udah nikah itu, suami yang menjadi panutan
buat istri, ibarat pepatah jawa surgo nunut neroko katut, ngikut
kemanapun suami pergi,mana bisa seenakmu sendiri,trus gak bisa juga
masih manja kayak gini”omel ibu sambil menjewer lembut telinga putrinya
itu.
“tapi walaupun kiara udah menikah , kiara gak kan biasa
menghilangkan kebiasaan manja sama ibu kayak gini ..”ujar kiara. dia
pun mencium lembut pipi ibu yang sangat dia cinta itu. Ibu tersenyum
melihat kiara dari cermin.
Kesibukkan juga terlihat di rumah ustadz hanif.
Terlihat ummi, ayah dan Ustadz Hanif berkemas-kemas, mempersiapkan semua yan akan di bawah kerumah kiara.
“dimana syafi’i, ummi tidak ada lihat dari tadi?”tanya ummi sambil tetap merapikan beberapa bingkisan di depan beliau.
“dia pergi ke pasar bengkel tadi pagi, dia mengurus masalah pemasokan
barang di kedai dodolnya”ujar ustadz ahanif sambil ikut merapikan
bingkisan itu.
“ternyata syafi’i itu hebat ya, belum lagi tamat kuliah tapi udah jadi saudagar,,,”sela ayah
“iya,,bocah itu memang piawai untuk masalah dagang”sambung ustadz Hanif sambil tersenyum.
“oh iya,,hampir saya lupa mi, sebelum fi’i pergi dia ada menitipkan
dodol, dia meminta untuk kita bawa ke Rumah Kiara dan lainnya untuk
Ranti di malaysia”ujar ustadz hanif lagi. Ranti adalah adik sulung
ustadz hanif dari pernikahan ummi dengan ayah tiri beliau. saat ini
Ranti sedang mengenyam pendidikan S1 nya Di negeri jiran Malaysia.
“ternyata syafi’i itu perhatian betul ya sama si ranti,,sepertinya baru
kemarin dia meminta kamu untuk membawakan dodol”ujar ummi. Ustadz hanif
yang diajak bicara hanya tersenyum mendengarnya.
“ya wajarlah
mi,,ranti kan udah dianggap seperti adinya sendiri oleh syafi’i malah
dia juga lebih dekat dengan syafi’i daripada dengan hanif”sahut ayah
tersenyum sambil melirik kearah hanif. Ustadz hanif tertawa renyah
menanggapi perkataan ayah itu.
“gimana mau dekat sama hanif, wong
kalau ketemu sama hanif suasananya jadi sepi seperti suasana di
pemakaman pahlawan, mana cocok dengan ranti yang ributnya bukan main
seperti pasar”tukas ummi.
“tapi saya akhirnya bersyukur juga pada
gusti Allah, cah bagus ini akhirnya telah menemukan seseorang bidadari
yang bisa melumerkan hatinya yang beku, lihat itu wajahnya sekarang,
gak dingin lagi,, malah cerah seperti bulan purnama”goda ummi sambil
mengusap-usap kepala putra yang paling disayanginya itu.
“sudah
ummi,,,ayah,,,cukup ya, saya gak bisa bicara apa-apa lagi untuk
menanggapinya”ujar ustadz hanif yang mulai menampakkan wajah malu.
“kalau begitu sekalian aja nif, ambil dodol itu biar yang untuk kiara kita bungkus bersama yang lainnya disini”pinta ummi.
Kemudian ustadz hanif pun melangkah menuju mobil beliau. Beliau pun
membuka bagasi dan mengambil sebuah kotak berisi beberapa bungkus dodol
beraneka rasa itu. Tiba-tiba ponsel beliau berbunyi. Beliau kesulitan
mengambil ponselnya di saku kemeja beliau kenakan. Kemudian beliau
letakkan kotak tersebut di atas bangku yang terletak di depan teras
rumah. Terlihat nama sekretaris jurusan di layar ponsel beliau.
“assalammu’alaikum pak yamin...”salam beliau. Terdengar sahutan pak
yamin dari seberang sana. Kemudian beliau pun terlibat pembicaraan
singkat dengan pak yamin
“baiklah saya akan kesana...”ujar beliau
mengakhiri pembicaraan, setelah mengucapkan salam beliau pun menutup
ponselnya. Beliau mengambil kembali kotak itu dan bergegas masuk
kedalam rumah.
“ummi,,tampaknya saya harus ke kampus dulu, insya
Allah setengah jam kemudian saya akan pulang”terang beliau sambil
meletakkan kotak berisi dodol itu di atas meja makan.
“lho,,bukannya nanti jam 1 kita harus sudah berangkat.?”tanya ummi heran.
“lebih baik kamu tunda dulu untuk urusan kampus hari ini hanif,.”sambung ayah..
“tapi pak yamin, menelepon saya dan terlihat ada urusan yang sangat
penting, tidak sepertinya beliau meminta saya untuk datang seperti ini
”ucap ustadz hanif.
“tapi kamu harus cepat pulang,,jangan sampai
kita terlambat datang kesana, kita tidak boleh memberikan kesan pertama
yang tidak baik kepada keluarga kiara,,paham itu nak...”ujar ummi sambil
menepuk bahu putranya itu. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 11
pagi. Sedangkan mereka sekeluarga akan berangkat ke Tanjung Morawa
sekitar pukul 12.45 siang. Beliau menyambar jaket dan bergegas menuju
ke mobil beliau. Kemudian Mobil toyota rush silver itu pun melaju
dengan kencang menuju kampus.
Beberapa menit kemudian, beliau telah
sampai di kampus. Beliau pun langsung menuju kantor jurusan, dari sudut
koridor beliau melihat pak yamintergesa-gesa keluar dari kantor. Lalu
ustadz hanif pun datang menhampirinya.
“assalammu’alaikum pak yamin”salam beliau kemudian
“wa’alaikumussalam,,”jawab beliau
“ada apa sebenarnya, apakah rapat bersama rektor akan dilaksanakan hari
ini?”tanya beliau. Tapi pak yamin hanya memperlihatkan wajah diam. Dan
menggelengkan kepala.
“mereka meminta saya untuk tidak menjelaskan,,, kenapa anda harus datang kesini...”ujar pak yamin.
“mereka? Mereka siapa maksudnya pak..?” tanya Ustadz hanif. beliau memandang pak yamin dengan tatapan tidak mengerti.
“dua orang perempuan dengan anak-anaknya, saya juga tidak kenal, ustadz
lihat saja ya sendiri, sekarang saya sedang ada kelas , saya pamit dulu
assalammu’alaikum”pamit pak yamin tersenyum. Dan berlalu pergi
meninggalkan ustadz hanif yang masih dengan air muka penuh tanda tanya.
Perlahan beliau melangkahkan kaki menuju ruangannya. Dari bibir pintu
langkah beliau terhenti ketika beliau melihat dua orang wanita berada di
dalam ruangannya. Seorang wanita berkerudung biru tua yang tidak pernah
ia kenal sebelumnya duduk di atas sofa sambil memangku bayi, tidak
jauh darinya seorang wanita lainnya mengenakan jilbab yang hampir
menutupi seluruh tubuhnya sedang duduk di atas kursi dengan menghadap
kearah meja kerja beliau. Sehingga beliau tidak dapat melihat siapa
wanita itu. Ketika beliau akan mengucapkan salam, Tiba-tiba seorang anak
laki-laki kira-kira berumur 3 tahun datang dari sudut ruangan
menghampiri wanita itu.
“ummi..haqqi bisa buat ni,,”seru anak itu sambil mengacungkan pesawat kertas dan menghampiri wanita itu.
Wanita tersebut membalikkan badan ke arah anak itu. Ustadz Hanif
terkejut sekali ketika ia melihat, siapa wanita itu. Beliau terperangah
melihatnya. Wanita itu pun tersadar, dia pun menoleh ke arah ustdaz
hanif. Wanita itu pun tertegun memandang ustadz hanif. Tatapan mereka
bertemu seperti yang pernah terjadi pada 4 tahun yang lalu. Seolah-olah
membuka kembali tabir masa lalu yang penuh luka dan kepedihan.
Wanita itu menghampiri ustadz hanif.
“mas hanif,,,,,,,,”ucapnya lirih.
Ustadz Hanif diam tidak bergeming sedikit pun. Beliau benar-benar syok
melihat wanita itu. wanita yang seharusnya sudah hilang dari kenangannya
itu, mengapa harus hadir kembali di hadapannya. Dia adalah Wanita yang
telah menghancurkan perasaan dan cintanya yakni Syafa Fadhilla
Khudhori. Kini, Wanita itu memilki penampilan yang berbeda tidak
seperti ketika terakhir kali beliau bertemu dengannya di maroko. Dulu
dia berpenampilan seperti seorang muslimah kebanyakkan. Namun syafa yang
berada di hadapan beliau saat ini terlihat lebih anggun dengan hijab
yang jauh lebih sempurna di banding sebelumnya. Mungkin ini dikarenakan
karena ia telah menikah dengan seorang suami dari keluarga salafiah.
Ustadz hanif tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa berdiri mematung,
ketika syafa melangkah semakin mendekat ke arah beliau.
“mas
saya....”syafa tidak melanjutkan perkataannya. Ustadz hanif menatap
tajam kearah syafa, syafa tak kuasa menatap beliau dia pun menundukan
kepalanya.
“ma-maafkan saya,,,”suara syafa terdengar terbata-bata,
terlihat wajah penuh penyesalan di raut wajahnya. Ustadz hanif masih
diam dengan ekspresi kosong. Susana hening sejenak. Wanita berkerudung
biru yang sedang menggendong bayi itu menggandeng anak laki-laki tadi
untuk mengajaknya keluar dari ruangan itu. melihat hal itu, ustadz hanif
menghela nafas perlahan.
“kita bicara di luar....”ujar ustadz hanif
dingin. lalu beliau melangkahkan kai meninggalkan ruangan itu, dengan
patuh syafa mengikuti beliau sedangkan wanita yang satunya lagi
memandang mereka dengan diam lalu dia tetap tinggal dalam ruangan
bersama bayi dan anak laki-laki itu.
setelah sampai di sebuah
gazebo yang tidak jauh dari ruanagan kantor beliau, ustadz hanif
menghentikan langkahnya. Suasana tampak lengang hanya kicauan burung
yang melantunkan senandung hari di ujung pagi. Namun tampaknya
senandung itu, mengalun disaat yang tidak tepat. ustadz hanif
menggenggam dada beliau. masih terasa perihnya luka menyesaki rongga
dada. luka yang teramat dalam yang masih membekas di hatinya.
“apa yang kamu lakukan disini?”tanya beliau. Beliau pun menoleh ke belakang, menatap dingin ke arah wanita itu.
“maafkan saya mas,saya benar-benar telah melakukan dosa besar di
hadapan mas, atas kesalahan saya di masa lalu..”ucap syafa, suaranya
terdengar bergetar. Syafa menghela nafas, dia berusaha menguasai dirinya
di depan ustadz hanif. Dia melanjutkan kata-katanya kembali.
“dulu, saya tidak berniat untuk meninggalkan mas, itu semua saya lakukan
dengan terpaksa karena tuntutan orang tua saya agar saya menikah
dengan laki-laki lain”
Ustadz hanif membuang tatapannya. Untuk beberapa saat dia masih terdiam.
“itu semua sudah tidak ada lagi hubungannya dengan saya, hal itu sudah
saya anggap sebagai masa lalu, dan tidak perlu di ungkit-ungkit
kembali..”sahut beliau.
“apakah sekarang mas, masih membenci
saya?sedangkan sekarang ini saya tidak tahu harus mengadu kepada siapa
lagi, di setiap kali saya memohon petunjuk kepada Allah, hanya mas yang
memenuhi pikiran saya, karenanya, saya putuskan untuk mencari mas,
karena saya yakin hanya mas yang dapat membantu saya dalam situasi ini,
sya yakin ini adalah jawaban Allah untuk saya...”ujar syafa, isak
tangisnya pun mulai terdengar.
Ustadz hanif tertegun mendengarnya,
“Apa maksud kamu?”tanya beliau. Beliau pun menoleh ke arah syafa.
Syafa pun menangis .
“saya sekarang telah bercerai dengan suami saya, mas”
Ustadz hanif terkejut mendengarnya. Air mata syafa pun bercucuran di
sudut matanya, dengan lemah ia menatap wajah dingin ustadz hanif.
“bagaimana bisa saya dapat bahagia dengan sebuah pernikahan jika selama
ini dia telah banyak melakukan tindakankasar dan semena-mena terhadap
saya dan anak-anak, ternyata perkiraan keluarga saya selama ini terhadap
dia adalah salah ternyata dia bukan figur seorang suami atau seorang
ayah yang baik untuk keluarga saya”ujar syafa masih dengan isak
tangisnya.
Ustadz hanif hanya diam membisu. Lalu beliau menghela nafas
“saya tidak ada hak,,untuk ikut campur dalam rumah tangga orang lain
apalagi harus mendengarkan sebuah aib rumah tangga yang seharusnya
tidak boleh diceritakan kepada orang yang tidak memiliki kepentingan
disana, bahkan Allah sangat melaknat akan hal itu”ujar beliau tanpa
menatap sedikit pun kearah syafa.
“sekarang saya tidak punya banyak
waktu, saya tidak ingin pembicaaan kita disini menyebabkan fitnah bagi
orang lain yang melihatnya sedangkan saya hari ini harus malangsungkan
pertunangan”
Pertunangan?”tanya syafa tidak percaya.
“ karena
itu saya tegaskan kepada kamu , sebagai seorang wanita baik-baik, tentu
kamu sangat menyadari bukan? pantas atau tidak kamu bersikap seperti
itu kepada seorang laki-laki yang ajnabi, terlebih lagi laki-laki
ajnabi itu akan menikah, saya yakin kamu juga sangat memahami bagaimana
menjaga marwah dan harga diri. silahkan kamu meninggalkan kampus ini dan
kembalilah ke pekanbaru kemudian selesaikan persoalan rumah tangga yang
kamu alami dan jangan berharap apapun lagi kepada saya, karena saya
tidak ingin terlibat dalam sebuah masalah yang saya tidak ada
kepentingan disana ”terang beliau, beliau pun membalikkan badan dan
berlalu pergi.
“mas hanif!!!”seru syafa. Ustadz Hanif menghentikan langkah beliau.
“saya mohon,,tolong mengertilah dengan keadaan saya ini,,,”ujar syafa
dengan suara terisak. Ustadz hanif tidak bergeming. tanpa berbalik
sedikit pun, beliau melanjutkan langkah meninggalkan wanita itu. namun
syafa mengejar beliau dan berlutut di hadapannya.
“apa yang kamu lakukan? Cepat kamu berdiri”ujar ustadz hanif panik. Syafa menangis lalu dia menundukkan wajahnya.
“tidak mas,,saya tidak akan pergi dari tempat ini,saya akan lakukan
apapun, jika perlu saya akan mencium kaki mas, jika itu bisa membuat mas
dapat mengerti apa yang saya alami saat ini,saya benar-benar
membutuhkan bantuan mas, karena mantan suami saya akan membawa anak-anak
saya ”ujar syafa, terasa sekali syafa yang mencoba menahan isak
tangisnya dari gemetar suaranya.
“selain itu bukankah dulu mas
pernah berkata kepada saya walaupun pada akhirnya kita tidak berjodoh,
mas tidak akan membiarkan saya menghadapi masalah saya sendiri, mas
tidak akan tinggal diam saat saya menderita apalagi hingga saya
mengalami masalah keretakkan rumah tangga seperti ini dan saya juga
sangat mengenal siapa Hanif Izzat Ma’arif ,,dia bukanlah seorang
pengecut dan munafik, sehingga dia tidak akan melupakan begitu saja
apalagi menjadi orang yang tidak komitmen dengan apa yang pernah dia
katakan ”tutur syafa , wajahnya masih tertunduk menatap kedua kaki
ustadz hanif.
“karena itu,,,saya datang kesini untuk menagih apa
yang pernah mas katakan itu.....”lanjut syafa, perlahan dia mengangkat
wajahnya memandang ustadz hanif.
Ustadz Hanif termanggu mendengar
penuturan syafa. tatapan beliau yang kosong seolah-olah menerbitkan
ribuan kata kebimbanganyang semakin berkecamuk di kepala beliau. di
dalam hati, Beliau pun membenarkan apa yang dikatakan syafa, bahwa
beliau dulu memang pernah mengatakan hal itu kepadanya, tapi saat itu
beliau tidak pernah berpikir jika perpisahannya dengan syafa berakhir
dengan cara yang begitu menyakitkan. Namun kini keadaanya telah berubah
karena rasa sakit itu beliau mengenang syafa sebagai seorang yang
menebarkan luka yang sangat dalam di hatinya. Diam-diam beliau menyesali
apa yang pernah beliau katakan dulu, sebuah perkataan terkesan sepele,
tidak penting, dan kata-kata yang hanya mengikuti emosi sesaat saja,
sedangkan beliau sendiri tidak bisa menjamin apakah beliau benar-benar
bisa memenuhinya.tapi ustadz hanif bukanlah tipe seorang yang tidak
bertanggung jawab dengan apa yang pernah beliau katakan. Sekarang
beliau kembali terdiam, hanya itulah yang bisa beliau lakukan saat ini.
Hati beliau pun dengan pilu mengadu “ya Allah...apa yang harus hamba
lakukan...”
Perlahan Beliau pun memandang syafa yang masih berlutut di hadapannya. Dan bertanya
“apa yang harus saya lakukan untuk membantumu?”
Syafa terhenyak seketika mendengar pertanyaan ustadz hanif itu, dia memandang beliau dengan tatapan tidak percaya.
Ku takkan pergi bila kau anggap aku ada
Hanya mencintamu pun aku bisa
Takkan ku sesali hidup tanpamu aku bisa
Akan hanya cinta yang ku bawa pulang (kau anggap apa-ungu)
SEKERLIP CINTA DI BAWAH DERAI HUJAN.. bag 5
Diposting oleh
Unknown
|
manakala hati menggeliat mengusik renungan
mengulang kenangan saat cinta menemui cinta
suara semalam dan siang seakan berlagu
dapat aku dengar rindumu memanggil namaku
saat aku tak lagi disisimu ku tunggu engkau di keabadian
aku tak pernah pergi selalu ada di hatimu
engkau tak pernah jauh selalu ada di hatiku
sukmaku berteriak menegaskan ku cinta padamu
terima kasih pada maha cinta menyatukan kita
saat aku tak lagi di sisimu ku tunggu kau di keabadian
(CINTA SEJATI- BCL ost habibie ainun)
♥ BAGIAN 5 ♥
Dengan risau Kiara mondar-mandir di depan kamarnya. Saat itu
penampilannya sangat anggun sekali dengan kebaya biru muda yang dia
kenakan, senada dengan jilbab yang terpasang dengan cantik semakin
membuatnya terlihat sangat ayu bak putri keraton.
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Namun tamu penting yang di tunggu dari tadi tidak kunjung tiba.
tiba-tiba terdengar ucapan salam dari teras rumah.
“assalammu’alaikum,,,”
“wa’alaikumussalam”sahut Bapak di ikuti oleh beberapa orang yang telah berkumpul di ruang tamu.
Orang itu memasuki ruang tamu, ternyata dia adalah syafi’i. Kemudian
dia duduk di sisi bapak. Kiara dan dua orang temannya mengintip dari
balik tirai kamar.
“hei cah-cah gadis, ngintip-ngintip kayak
gitu,,,,,orah ilok(pantang-pen),,,”tegur ibu yang tiba-tiba saja hadir
diantara mereka.
Kiara langsung beringsut masuk ke dalam kamar,
sedangkan kedua temannya terlihat bercakap-cakap dengan ibu di luar.
Kiara benar-benar cemas saat itu, dia meremas sendiri jemarinya dengan
gelisah. dia juga sangat penasaran apa yang di sampaikan syafi’i kepada
bapak, ini pasti berkaitan dengan keluarga ustadz hanif yang tidak
kunjung datang, kemudian dia membuka jendela kamarnya yang menghadap
kearah halaman rumah. Dia melihat syafi’i di antar oleh ayah dan ibu
keluar rumah. Dan terdengar percakapan mereka.
“itulah pak, saya
juga tidak tahu kenapa ustadz hanif tidak ada kabarnya dari tadi, di
telepon gak di angkat-angkat tadi sempat di cari juga ke kampus juga
tidak ada, tadi sebenarnya pak Siswoyo (Ayah Ustadz Hanif-pen) yang mau
datang kesini tapi kondisi beliau tidak memungkinkan untuk datang, jadi
kebetulan saya pulang dari bengkel langsung ditelepon sama beliau untuk
mengatakan ini kepada bapak, ya kami akui ini benar-benar situasi yang
sangat tidak mengenakkan dan kami benar-benar sangat mengecewakan bapak
dan keluarga, sekali lagi kami benar-benar mohon maaf”ujar syafi’i.
Bapak menepuk bahu syafi’i.
“ya sudah,,kami dapat maklum, kami yakin ini pasti bukan keadaan yang
disengaja, malah sekarang kita yang khawatir ada apa dengan nak hanif,
sampai tidak ada kabarnya seperti itu...”
Tiba-tiba terdengar suara nyaring handphone syafi’i, raut wajahnya terlihat sumringah
“ustadz hanif.....”bisiknya kepada bapak dan ibu. lalu dia angkat telepon itu.
“assalammu’alaikum ustadz,,,,”tampak syafi’i sedang mendengarkan ucapan ustadz dari seberang sana.
“gimana? Rumah sakit?”wajah syafi’i berubah panik, bapak dan ibu juga panik mendengarnya.
“halo-halo...ustadz”terdengar suara koneksi yang terputus begitu saja dari handpone syafi’i.
“itu tadi nak hanif kan?kenapa dengannya?”tanya ibu dengan panik.
“saya tidak yakin....” gumamnya. syafi’i diam termanggu dengan raut wajah bingung.
“ada apa sebenarnya dengan ustadz?”tanyanya dalam hati.
“nak hanif...”ibu membuyarkan kebingungan syafi’i.
“pak, ibu saya pamit,,saya harus memastikan dulu dimana ustadz hanif
dan apa yang terjadi sebenarnya,,dan sekali lagi atas nama keluarga
beliau kami mohon maaf”ujar Syafi’i sambil menyalami bapak dan ibu.
tanpa basa-basi, syafi’i bergegas menuju sepeda motornya dan tancap gas
meninggalkan kediaman kiara tersebut.
“ibuk,,,,,kiara tidak ada di
kamarnya.....”tiba-tiba terdengar suara Anggi salah satu teman Kiara.
ibu terkejut mendengarnya. `
“kiara...kemana dia?”
dengan
setengah berlari bapak dan ibu menuju kamar putrinya itu. disana mereka
hanya melihat kerudung berikut aksesorisnya tergeletak di atas ranjang.
Di tengah keributan halte tempat penantian bus kota. Kiara
menunggu bus kota yang biasa menuju ke kampus dengan harap-harap cemas.
Dia memang nekat meninggalkan rumah begitu saja, setelah mendengar
kata-kata rumah sakit. Dia khawatir terjadi sesuatu yang tidak di
inginkan pada Ustadz Hanif. Dengan kebaya biru dan kain panjang yang dia
kenakan cukup menarik perhatian orang-orang yang juga sedang menanti
bus di halte itu. sesekali ia memperbaiki letak sandalnya, dia baru
menyadari bahwa dia masih menggunakan sandal berhak tinggi. Orang-orang
ada yang saling berpandangan heran karena melihat penampilan kiara,
tapi karena pada dasarnya kiara adalah orang yang sangat cuek, membuat
keadaan itu tidak mengganggunya sama sekali apalagi dalam keadaan
seperti ini tidak ada waktu baginya untuk peduli dengan perhatian
orang-orang kepadanya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, terlihat di layar
ponselnya dengan nama kontak “Bapak”. Kiara mengangkat ponselnya.
“Bapak,,,maafin kiara, kiara benar-benar panik dengan ustadz, saya harus
menemuinya, jangan khawatir,,saya tidak apa-apa pak,,saya akan segera
pulang ,
Iya......assalammu’alaikum”den
“aku gak boleh sedih,,,,itu hanya ponsel
aku bisa mendapatkannya kembali,ustadz hanif jauh lebih penting”serunya
dalam hati. Lalu dia pun meneruskan perjalanannya menuju kampus. Saat
itu waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 sore. Dia merasa yakin kampus
pasti telah tutup, tapi besar harapannya dia bisa mendapatkan informasi
tentang beliau disana. Dengan terburu-buru kiara melangkah ke sisi jalan
tapi dia merasakan sakit di daerah kakinya, ternyata sandalnya itu
membuat jemari kakinya memar. Namun dia tidak memperdulikan hal itu
dengan langkah yang tertatih dia menghentikan angkot dengan jurusan ke
arahkampusnya.
______________________________
Mobil toyota rush berwarna silver itu memasuki halaman rumah
klasik-minimalis yang terdapat di jalan kesawan – Medan itu. bertepatan
dengan itu, syafi’i menyusul dengan motor satria nya dari belakang
mobil. Dia membuka helmnya, dan memandang dengan heran kearah mobil itu.
Ummi dan Pak Siswoyo tergopoh-gopoh menuju ke halaman rumah menyambut
kedatangan ustadz hanif. Ustadz hanif keluar dari mobilnya kemudian
beliau membuka pintu mobil dan keluarlah seorang wanita menggendong
bayinya dan disusul wanita lain yang menggendong seorang anak laki-laki.
Syafi’i, ummi dan ayah terkejut melihatnya.
“hanif,,,ada apa ini?
Diakan......”tanya ummi bingung melihat hal itu. syafa yang menyadari
tatapan heran dari keluarga ustadz hanif itu, hanya bisa diam dan
tertunduk tanpa berkata-kata apapun.
Ustadz hanif terdiam sejenak.
“ummi ,, bayi syafa tadi terkena demam tinggi jadi saya membewanya ke
rumah sakit, dan ponsel saya low bate jadi tidak bisa menjelaskan lebih
banyak”imbuh beliau.
“lalu...”ummi tidak melanjutkan kata-katanya, karena tiba-tiba saja bayi yang di gendong syafa menangis.
“saya mohon,,syafa bisa tinggal di sini dulu mi, untuk malam ini,,,
insyaAllah besok siang dia akan kembali ke Pekanbaru...”ujar ustadz
hanif.
Syafa menghampiri ummi dan mencium tangan beliau. ummi hanya diam melihatnya.
Ummi memandang Syafi’i dan ayah, ayah menganggukkan kepala kepada ummi.
“ya udah..ayo kita masuk dulu....”ujar ibu, lalu mengantar syafa, dan baby sister nya itu ke kamar tamu.
Ayah memandang hanif dengan diam, lalu menghampiri ustadz hanif dan
menepuk bahu beliau, kemudian masih dalam diam beliau meninggalkan
ustadz hanif yang terlihat murung di wajahya. Syafi’i menghampiri
beliau.
Syafi’i tidak ingin berbicara banyak dengan beliau. karena
dia sangat menyadari orang yang sudah dia anggap seperti abangnya
sendiri itu sedang mengalami suatu hal yang berat, sehingga dia
mengurungkan niatnya untuk bertanya banyak hal kepada beliau. apalagi
dengan melihat kehadiran syafa tentu hal itu menyimpan beribu pertanyaan
di benak syafi’i.
“ustadz....kita harus mencari syafa, dia kini
sangat mengkhawatirkan ustadz,,”ujarnya kemudian. Sepintas Ustadz hanif
terkejut mendengarnya, serta merta beliau pun masuk kedalam mobil di
ikuti syafi’i.
Syafi’i mengambil posisi di belakang setir. Dia
melirik ustadz hanif yang mengusap wajah nya, tergambar jelas kerisauan
bercampur rasa bersalah yang begitu dalam terlihat di wajah beliau.
mobil itu pun melaju meninggalkan rumah itu
Kiara duduk
termanggu di sisi kantor jurusan. Dia tidak mendapatkan informasi apapun
tentang ustadz hanif disana. Dia pun beranjak bangkit meninggalkan
teras kantor menuju mushalla ketika terdengar kumandang azan magrib.
Beberapa menit kemudian dia pun berjalan dengan gontai menuju halte.
Halte itu tampak sepi, dia kembali duduk di penantian bus sesekali ia
meremas ujung kebayanya. Saat ini dia masih menkhawatirkan ustadz hanif.
Kata-kata rumah sakit memang cukup menjadi hal yang menakutkan buatnya.
Sedangkan ustadz hanif dan syafi’i kembali melintasi kota setelah selesai melaksanakan shalat di masjid setempat.
“kemana kita mencarinya lagi ustadz?”tanya syafi’i dengan mata yang masih fokus menatap jalan di depannya.
Ustadz hanif memainkan touch screen ponsel beliau.
“belum ada kabar dia pulang ke rumah”ujar beliau kepada syafi’i.
“ustadz ada menghubungi orangtua kiara?”tanya syafi’i.
Ustadz hanif melemparkan pandangannya kesisi jalan.
“iya,,bahkan mereka juga sangat mengkhawatirkan saya,,sehingga saya
tidak sanggup untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya”
Beliau
masih menatap sisi jalan. Masih dengan pandangan kosong. Lampu-lampu
jalan berwarna-warni yang menyemarakkan kota tak mampu menarik beliau.
beliau hanya diam seribu bahasa entah pikiran apa yang berada di
benaknya.
“saya tahu,,dimana dia sekarang...”ujar beliau tiba-tiba.
“putar balik saja kita ke kampus”pinta ustadz hanif. Tanpa bertanya
syafi’i pun langsung memutar balik setir dan menuju ke kampus.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan kampus, ustadz hanif
meminta syafi’i menghentikan mobil, ketika mereka sampai di halte depan
kampus. Dari seberang jalan Tampak seorang gadis berkebaya biru duduk
termenung menunggu bus kota di halte . Ketika ustadz hanif membuka
pintu. Tiba-tiba saja bus kota merapat di halte, lalu gadis itu naik ke
dalam bus tersebut.
Ustadz hanif masuk lagi ke dalam mobil dan
meminta syafi’i untuk mengejar bus itu. tidak lama kemudian mobil itu
pun tepat berada di belakang bus itu. dengan lihai syafi’i memotong bus
itu dan mendahuluinya. Ustadz hanif memintanya untuk berhenti dan di
turunkan di halte yang tidak jauh di depan mereka.
“nanti saya hubungi lagi kamu....”ujar ustadz hanif setelah sampai di halte yang di tuju.
“oke ustadz,,saya duluan,,assalammu’alaikum”ucap
Perlahan bus kota yang di tunggu pun datang. Ustadz hanif pun berdiri
menyambut bus itu. bus itu merapat di sisi halte, dengan sigap beliau
pun naik ke dalam bus. Bus beranjak meninggalkan halte itu. ruangan bus
terlihat lengang, hanya beberapa orang nampak di sana. Mata beliau
mencari di mana kiara. pandangan beliau pun berhenti pada seorang gadis
yang tertidur sendiri di kursi memanjang terletak di bagian paling
belakang bus. Dengan tenang beliau menghampirinya. Lalu beliau duduk di
sampingnya. Ditatap kembali kiara yang terlihat lelah, memiringkan
wajahnya ke arah beliau dengan mata terpejam.
Ustadz hanif menarik
syal putih yang beliau kenakan, dan beliau selimutkan ke tubuh kiara.
kiara tidak bergeming, dia masih terlihat pulas dalam tidurnya. Beliau
menatapnya lagi, lalu beliau pun membuang tatapan beliau ke depan bus,
perasaan bersalah masih menggelayut di hati beliau. terbayang kembali di
dalam ingatan, bagaimana sebelumnya beliau bisa dekat dengan syafa
hingga beliau memiliki hati untuknya, walaupun pada awalnya di mata
beliau kiara sama dengan gadis yang lain, samasekali tidak memiliki
keistimewaan apapun didalam hati beliau. jika bukan karena kerja sama
penelitian yang merupakan awal kebersamaan mereka, mungkin beliau masih
sulit untuk dekat apalagi hingga membuka hati untuk seorang gadis.
Seketika kembali terbersit dalam ingatan tentang pertemuan beliau
dengan syafa hari ini.
“sadarlah....syafa adalah masa lalu,,”tegas
beliau dalam hati. Kembali beliau melirik kearah Kiara. gadis itu
masih terlelap. tiba-tiba tanpa sadar kepala kiara bergerak ke arah
bahu beliau. beliau pun tertegun ketika kepala kiara telah menyentuh
bahu beliau. beliau menoleh kearah kiara. namun gadis itu tetap terlelap
seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Menyadari akan hal itu beliau pun
berusaha untuk membangunkannya, perlahan beliau mengangkat tangan kanan
beliau dan mengarahkannya ke kepala kiara. Ketika tangan beliau akan
menyentuh kepala kiara, melihat wajah lelah kiara, beliau pun
mengurungkan niat. Ditariknya kembali tangan beliau , dan kembali
membuang pandangannya ke depan bus. Sedangkan kepala kiara masih tetap
bertumpu di bahu beliau.
Suara tape recorder dari bus mengalun
lembut memutar sebuah lagu yang mengingatkan beliau saat terakhir kali
beliau mengungkapkan perasaan beliau di tengah hujan waktu itu kepada
Kiara.
Aku belajar mencintaimu mencintai tanpa syarat apapun
Meski engkau yang tersulit untukku tapi ku tak ragu
Kini kita semakin jauh bahkan sulit utk kembali
Kuberi semua yang ada padaku tanpa syarat apapun
Aku ingin terus ada di hatimu,,,
Aku lelaki, yang tak bisa mudah menggantimu
Meski aku takut akan kelemahanmu
Kutakkan lari karena cintaku sempurna....
Beberapa menit kemudian tiba-tiba Bus berhenti mendadak karena
menurunkan seorang penumpang. Saat itu pula, kiara terbangun dan dia
sangat terkejut, ketika menyadari kepalanya sedang bertumpu di bahu
seseorang. Dia pun cepat-cepat mengangkat kepalanya dan membenarkan
posisi duduknya.
“maaf...maafkan saya,,saya tidak sengaja,,,,”ujarnya dengan panik.
Orang yang berada di sampingnya hanya terdiam, dengan panik bercampur
malu kiara pun menoleh ke arah laki-laki itu. dia terperanjat.
“ustadz...?!!!...”serunya.
Beliau menoleh dan melempar senyum kepada kiara.
“ustadz...ini benar ustadz?,saya tidak sedang bermimpikan?apakah ustadz
baik-baik saja?”tanya kiara panik dan berusaha menyakinkan dirinya.
Saking paniknya hingga dia tanpa ia sadari dia memegang tangan beliau.
ketika ia merasakan bahwa dia memang tidak mimpi. Terlihat raut wajah
lega terlukis di wajahnya.
“ya Allah,,alhamdulillah,
syukurlah,,,,ternyata saya tidak sedang bermimpi,,,”ujar kiara dengan
wajah berseri-seri. Lalu dia melirik ke arah tangannya yang masih
memegang tangan beliau, baru ia menyadari apa yang ia lakukan
cepat-cepat dia menarik tangannya. Ustadz hanif masih diam seribu
bahasa melihat tingkah kiara. beliau menatap kiara yang masih tersenyum
lega dan beliau pun berujar
“ki...maafkan saya,saya tidak bisa ....”
“ustadz,,,jangan katakaan apapun,,ustadz baik-baik sajakan?saya takut
terjadi sesuatu pada ustadz..,”potong kiara sambil menatap ke arah
ustadz hanif. Wajah kiara terlihat gelisah.
Ustadz hanif
menggelengkan kepala. Kiara tersenyum lega. Wajahnya terlihat
berseri-seri seolah-olah tidak memperdulikan apa pun yang dia alami
selama seharian itu. bus itu pun terus melaju.
Beberapa saat
kemudian mereka pun sampai di tanjung morawa. Mereka pun turun dari bus
itu, dan berjalan beriringan. kiara masih menatap ustadz hanif dengan
wajah berseri. Ustadz hanif menoleh ke arah kiara. kiara tersenyum
kepada beliau dan dia pun menoleh ke arah jalan yang berada di depannya.
“tahukah ustadz...saya benar-benar sangat bersyukur sekali,,,saya
seperti merasakan sebuah kebahagiaan yang tidak terhingga, melihat
ustadz baik-baik saja” ujar kiara dengan matanya yang masih tertuju
dengan jalan yang cukup ramai di lalui oleh pengguna jalan. Ustadz hanif
masih diam, tatapannya juga tertuju ke depan, seolah-olah beliau
kehilangan kata-kata yang harus beliau ucapkan pada kiara. beliau
melihat kiara yang berjalan sedikit pincang
“kenapa dengan kakimu?”tanya ustadz hanif pada kiara dengan memperhatikan kaki kiara.
“oh ini tidak apa-apa kok ustadz, ini...oh ya karena saya tidak biasa
memakai sandal berhak tinggi, jadi pincang-pincang jalannya,,kalau tau
tadi saya tidak akan memakainya”ujar kiara sambil melepaskan sandalnya.
Dia pun kembali berjalan dengan kaki yang hanya terbungkus kaus kaki.
Ketika dia berusaha untuk kembali melangkahkan kaki. Kiara meringis
menahan sakit.
“kita istirahat saja dulu di situ”pinta ustadz hanif
sambil menunjuk warung yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Dengan langkah yang tertatih kiara berjalan menuju tempat itu. dan kiara
pun duduk di bangku yang berada di warung itu. ustadz hanif duduk di
sampingnya.
“angkat kakimu ke atas bangku...”pinta ustadz hanif.
“ustadz,,mana mungkin saya berani mengangkat kaki saya di hadapan ustadz...”ujar kiara.
Tanpa basa basi, ustadz hanif mengangkat kaki kiara. kiara terkejut
dengan yang di lakukan oleh beliau, beliau pun dengan tenang membuka
kaus kaki kiara. terlihat jemari kaki kiara yang memerah dan lecet di
sana. Lalu beliau memesan air dan penicilin kepada pemilik warung itu.
kemudian beliau mencuci luka itu dan membubuhi penicilin ke atas luka
dengan penicilin yang sudah beliau haluskan sebelumnya. Akhirnya beliau
mengeluarkan sapu tangan beliau dan menyobeknya untuk membalut luka itu,
hal yang sama pun beliau lakukan di kaki yang sebelahnya.
Kiara diam sejenak memperhatikan apa yang di lakukan oleh beliau.
“kenapa ustadz lakukan itu? bukankah itu tidak seharusnya di lakukan?”
kiara membuka suara menunjukkan rasa herannya dengan apa yang dilakukan
oleh ustadz hanif itu. ustadz hanif tersenyum mendengar pertanyaan kiara
itu.
“apa kamu ingin mengatakan,, apa yang saya lakukan ini tidak
sesuai dengan syariat, begitu? Jika itu yang ingin kamu katakan,
seharusnya kamu mengulang kembali mata kuliah qawaidh fiqhiyah pada
program sarjana kamu dulu”
Kiara hanya diam mendengar jawaban
beliau. beliau pun selesai membalut luka kiara. serta merta kiara pun
menurunkan kakinya dan kembali mengenakan kaus kakinya.
Ustadz hanif mengeluarkan ponselnya dan jemari beliau terlihat sibuk mengetik sesuatu.
“ki....mengapa kamu tidak ada bertanya kepada saya atas ketidak hadiran
saya dalam acara pertunangan?”tanya ustadz hanif . beliau menoleh ke
arah kiara.
“saya rasa, itu tidak perlu saya tanyakan”
“kenapa?”
“cepat atau lambat, ,ustadz datang atau tidak, saya yakin ustadz bukanlah orang yang main-main”
“walaupun saya akan mengatakan kita belum bisa melangsungkan pernikahan secepatnya?”
Kiara terdiam, dia menoleh ke arah ustadz hanif.
“bahkan jika kita tidak berjodoh sekali pun, saya akan siap
menerimanya, karna dengan merasakan apa yang saya rasakan saat ini,
menjadi seorang wanita yang di cintai oleh seseorang yang saya anggap
terlalu sempurna buat saya dan saya juga bisa mencintai ustadz seperti
ini ,sudah cukup membuat saya memiliki segalanya”
Ustadz hanif tertegun mendengarnya. beliau menoleh memandang kiara.
“malam sebelum acara pertunangan saya bermimpi, kita mendaki sibayak,
mengumpulkan banyak edelweis hingga kita sampai di puncaknya. Lalu
tiba-tiba saya tergelincir ke sisi jurang, saya berteriak minta tolong
kepada ustadz tapi seolah-olah ustadz tidak mendengar suara saya, ustadz
tetap asyik memetik edelweis dan melangkah pergi meninggalkan saya,
sejak itu saya merasa khawatir dengan ustadz. Saya khawatir ada sesuatu
terjadi pada ustadz atau tiba-tiba ustadz akan meninggalkan saya.”ujar
kiara dengan sedih.
Tidak lama kemudian, sorot lampu mobil
menyilaukan tatapan mereka. Mobl itu pun berhenti tidak jauh dari
mereka. Keluar seseorang dari mobil itu. ternyata itu adalah syafi’i.
“bingung saya mencari ustadz sama mbak kiara dari tadi...”gerutunya.
“ya sudah,,sekarang kan sudah ketemu..”sahut ustadz hanif.
“bagaimana?”tanya beliau lagi kepada syafi’i.
Syafi’i hanya memberikan kode dengan membuat lingkaran dari jari
telunjuk dan ibu jari yang melambangkan tanda “ok” dan menganggukkan
kepala. Kiara tidak mengerti apa maksud mereka berdua. Akhirnya mereka
bertiga pun meninggalkan tempat itu dan menuju rumah kiara. jarak antara
jalan raya dengan perkampungan dimana Kiara tinggal memang cukup
jauh, sekitar satu kilometer dari rumah kiara. beberapa saat kemudian
mereka telah di hadang oleh keramaian yang memenuhi jalan desa yang
mereka lalui.
“mengapa ramai”?tanya ustadz hanif. Kiara mengintip
dari jendela mobil, terlihat orang-orang berjejalan, sehingga membuat
mobil itu sulit untuk lewat.
“ini ustadz ada pasar malam”jawab syafi’i yang masih berusaha dengan hati-hati untuk menembus keramaian.
“lebih baik kita jalan saja dari sini ustadz”ujar kiara.
“bukankah kaki kamu sakit, kita lanjutkan saja pelan-pelan..”kilah ustadz hanif.
“tidak apa-apa , kaki saya sudah mendingan kok, lagian rumah saya kan tidak jauh lagi, dari sini”
Ustadz hanif melirik syafi’i. Syafi’i mengedikkan bahu.
“ok...kalau begitu kita jalan saja...”ujar ustadz hanif kemudian.
Ustadz hanif keluar dari mobil. Tapi syafi’i tetap tinggal di sana.
Kiara berusaha membuka pintu yang kemudian di bantu oleh ustadz hanif
membukanya. Memang daerah itu tampak ramai sekali. Kiara sedikit
tertatih.
“ustadz biar saya berusaha untuk lewat..”ujar syafi’i.
Ustadz hanif dan kiara berusaha menerobos keramaian. Setelah mereka
sampai di tempat yang tidak terlalu ramai.
“ternyata masih ada desa seperti ini...”gumam ustadz hanif.
“ha??...maksud ustadz ,?”tanya kiara tidak mengerti
“iya ,, desa yang tidak jauh dari kota,tapi mengapa seolah-olah mereka tidak pernah mendapat hiburan..”jawab ustadz .
“mungkin karena inikan malam pertama pasar malamnya buka, jadi wajar
saja kalau ramai..paling beberapa malam kedepan pengunjungnya tidak akan
seramai ini...”ujar kiara sambil terus melangkah mengikuti ustadz
hanif. Kiara menoleh ke arah pasar malam itu. ustadz hanif yang berjalan
di depannya, berhenti dan menoleh ke belakang. Di lihatnya kiara yang
tersenyum melihat salah satu wahana di pasar malam itu. ustadz hanif
kembali menghampiri kiara.
“kamu ingin naik baling-baling itu....?”tanya ustadz hanif .
“eng ...nggak,,siapa juga yang mau naik, saya tidak mungkin pergi
kesana dengan pakai kebaya seperti ini, lagian pun saya juga masih
terlalu lelah ustadz”ujar kiara sambil melanjutkan langkah kakinya, tapi
tiba-tiba dia menabrak seorang anak perempuan yang berusia sekitar 6
tahun. Kembang gula yang berada di tangan anak itu jatuh ke tanah.
“aduh dek,,maafin kakak ya,,kakak tidak sengaja” ujar kiara kepada anak itu.
Anak itu tidak menjawab dia memungut kembali kembang gula itu. ustadz hanif menghampiri mereka berdua.
“eits,,itu jangan di ambil lagi,,itu sudah kotor ya,”tegur ustadz hanif
, beliau mengambil kembang gula itu dari tangan anak itu. anak itu
terlihat kecewa, cepat-cepat kiara berlutut di hadapan anak itu.
“ya sudah kakak belikan lagi ya....”hibur kiara.
“beneran kak.?...”
“iya..”jawab kiara sambil tersenyum.
“ayo kak,,abang yang jual kembang gulanya di sana,,”seru anak itu
sambil menarik tangan kiara. kiara terkejut, ketika akan melangkah,
langkahnya terhenti, dia pun melepaskan sandalnya. Ketika akan mengambil
sandalnya, anak itu menarik tangannya begitu saja. Akhirnya dia pun
berlari mengikuti anak itu dengan kaki yang terbalut kaus kaki saja.
Ustadz hanif terheran-heran melihat kejadian itu. beliau pun tersenyum
geli dan menggeleng-gelengkan kepala. Mata beliau tertuju pada sandal
kiara yang tergeletak begitu saja, di sana. Beliau pun memungut sandal
itu. dari jauh beliau melihat kiara yang membelikan kembang gula untuk
anak itu. beliau juga melihat seorang pria dan wanita yang mendekatinya,
kemudian pria itu menggendong anak perempuan tadi. Ustadz hanif datang
menghampiri mereka.
“maafkan anak saya ini ya mbak,,,dia memang sedikit nakal”sesal ibu itu.
“oh gak apa-apa kok bu, saya yang salah karena sudah membuat kembang gulanya jatuh,,,”sahut kiara ramah.
“ayoo bilang apa sama tante itu...”pinta ayah itu kepada putrinya yang sudah berada dalam gendongannya.
“makasih ya kak....eh..tante...”ujar anak itu dengan tingkah lucunya. Kiara tersenyum melihatnya.
“iya sama-sama...”jawab kiara. dengan lembut dia pun mengelus rambut anak itu. anak itu memberikan seutas balon kepada kiara.
“untuk tante...”ujar anak itu. kiara tersenyum geli, akhirnya dia
menerima balon itu. lalu keluarga itu berpamitan dengan kiara. ustadz
hanif yang memperhatikan dari tadi, menyerahkan sandal kepada kiara.
“ternyata anak itu, mengenal dengan baik seperti apa karaktermu...”ujar
ustadz hanif sambil melirik ke arah balon yang mengambang di atas
kepala kiara. kiara pun ikut memandang balon itu.
Lalu mereka pun tertawa melihatnya.
Tiba-tiba terdengar letusan kembang api di angkasa. Semua pengunjung
pun memandang ke atas langit. Tampak beberapa anak laki-laki berlari
dengan membawa batangan kembang api di tangannya. Tiba-tiba seorang
bapak datang menghampiri ustadz hanif dan kiara.
“mas,,ini tolong di bantu nyalakan kembang api ya,,,”ujar bapak itu.
Ustadz hanif bingung. “memangnya ada acara apa nih pak...?”
“tidak ada ,,, Cuma biar lebih semarak aja..”jawab bapak itu sambil
menyulutkan korek api pada sumbu kembang api itu. dan menyerahkan
kembang api itu kepada ustadz hanif, dan memberikan satunya lagi kepada
kiara.
Ustadz hanif terkejut ketika bola-bola api keluar dari
kembang api itu. sedangkan kiara tertawa riang melihat bola-bola api itu
meluncur dari kembang api yang berada di tangannya. Keterkejutan ustadz
hanif pun berubah menjadik keceriaan, mereka pun tertawa lepas saat
bola-bola api itu berpendar menjadi kilauan cahaya berwarna-warni di
angkasa di ikuti suara letusan yang memecah keramaian. Ustadz hanif
merasakan hatinya terlepas dari semua beban yang membelenggunya.
Seolah-olah semua masalah yang di alami beliau terpencar bersama
pecahnya setiap bola api yang menghiasi angkasa. Beliau pun melirik ke
arah kiara, terlihat kiara yang tertawa lepas dengan memandang ke
angkasa, sangat jelas raut kebahagiaan terpapar di sana. Ustadz hanif
terpaku sejenak, terasa getaran lembut menyentuh dawai hatinya, sebuah
getaran yang sudah lama tidak pernah beliau rasakan lagi. Beliau masih
terpaku memandang kiara. lalu kiara pun menoleh ke arah beliau, beliau
pun tersadar dan membuang pandangan kembali ke angkasa, senyuman malu
pun terlukis di wajah beliau.
“kembang apinya sudah habis...”ujar
ustadz hanif. Mata beliau masih memandang langit yang penuh dengan
kepulan asap yang menyebarkan aroma mesiu dari kembang api yang telah
habis mereka nyalakan.
“iya sudah habis....kita pulang lagi..”sahut kiara.
“ya..”jawab ustadz hanif mengangguk.
______________________________
Rumah kiara tampak sepi, mestinya tamu-tamu tadi sudah pulang. Dengan tertatih kiara melangkah menuju pintu rumahnya.
“apa ustadz akan ikut saya kedalam?”tanya kiara
“iya, saya ingin mengucapkan pemohonan maaf saya kepada Bapak dan Ibu
atas ketidak hadiran saya tadi” jawab beliau. ketika masuk kedalam
rumahnya, di ruang tamu ternyata dia sudah di sambut oleh bapak , ibu,
kedua kakaknya, dan yang paling mengejutkan di sana sudah menunggu ummi
dan pak siswohyo.
Kiara terkejut sekali melihat mereka. Kiara
menoleh ke arah ustadz hanif. Beliau tersenyum melihat keterkejutan
kiara. sedangkan syafi’i senyum-senyum sendiri. Ternyata mereka berdua
sudah merencanakan hal ini, pikirnya.
Ibu menghampiri kiara.
“nduk,,benar-benar kamu itu anak nakal semua orang mengkhawatirkan kamu,
keluar rumah gak pakai pamit trus di hubungi gak aktif nomor
handponenya”omel ibu.
“kenapa itu kakimu?”tanya ibu lagi.
Kiara yang masih dilanda kebingungan , menggelengkan kepala. Ustadz hanif tersenyum melihatnya dia pun berkata pada ibu
“ini salah saya bu, maafkan saya”
Beliau melirik ke arah kiara.
“seperti katamu tidak ada kata terlambat bukan?”
Kiara menatap ustadz hanif dengan tatapan tidak percaya.
“ ustdaz, anda benar-benar membuat saya sangat terkejut”ujar kiara dengan senyum kesal menghiasi wajahnya.
Semua yang ada di ruangan itu pun tertawa melihat tingkah mereka
berdua. akhirnya kedua keluarga itu pun terlibat perbincangan yang
hangat dan berlangsunglah acara lamaran ala budaya jawa bersentuhan
islam pada malam itu juga.
SEKERLIP CINTA DI BAWAH DERAI HUJAN "bagian 2 dan 3"
Diposting oleh
Unknown
|
Bagian 2
Ustadz Hanif tidak tidur setelah melaksanakan qiyamullail, beliau
melanjutkan kesibukannya mengetik penelitian yang sudah dekat deadline
pengumpulannya. Beliau tetap asyik mengetik , sehingga beliau tidak
sadar waktu berputar dengan sangat cepat. Beliau meneguk kopinya, dan
tersadar kopi itu sudah dingin. Sayup-sayup terdengar adzan subuh
memanggil umat dari peraduannya. Beliau bangkit dari kursinya untuk
mengambil wudhu’. Gemericik air wudhu membasuh wajah lelah beliau,
sehingga beliau merasa segar kembali. Seusai shalat terdengar tilawah
qur’an melantun dengan tartil. Memhiasi wajah pagi, menyegarkan hati
kelam dan menghangatkan senyum mentari yang masih manja untuk bangun
dari buaiannya. Suasana itu terus berlanjut walau telah berlalunya
isti’adzah lalu shadqta mengakhirinya. Beliau melatakkan alqu’an itu ke
dalam tas laptop beliau, pagi ini beliau akan berangkat ke malaysia
untuk menyelesaikan program doktoral nya. Tiba-tiba Teringat pembicaraan
beliau dengan kiara beberapa waktu yang lalu.
“saya harap kamu
telah menyelesaikan pengetikan pada bab 3 dan 4, karena sepulang dari
malaysia saya ingin melihat semua hasil kerja kamu” ujar ustadz hanif
dengan mata beliau yang tidak terlepas dari kitab Bidayatul Mujtahid di
hadapannya.
“jadi saya harus menyelesaikan semuanya ustadz?bagaimana
bisa?sedangkan saya belum menguasai metodologinya?”tukas kiara panik,
dia membolak-balik laporan-laporan yang di buatnya.
Namun ustadz Hanif masih tetap asyik dengan kitabnya tanpa menghiraukan Kiara sedikit pun. Kiara pun menjadi jengkel dibuatnya
“bahkan kita belum observasi ke lapangan.....”sungut kiara jengkel. Tapi ustadz hanif masih dengan tenang membaca kitab itu.
“ustaddddz........!”seru kiara kesal.
Ustadz hanif memukul gulungan kertas ke kepala kiara.
“kamu kerjakan saja,,dan jangan banyak komentar, paham!”beliau menatap kesal kearah kiara.
Kiara melongo di perlakukan seperti itu. Dia pun menghela nafas sambil mengusap-usap kepalanya.
“ya ustadz, insyaAllah saya kerjakan dan akan selesai setelah ustadz
kembali, assalammu’alaikum” sungut kiara sambil menyusun
laporan-laporannya dan bergegas pergi . beliau tersenyum melihatnya
sambil menggeleng-gelengkan kepala .
Ustadz hanif tersenyum
sendiri mengingat peristiwa itu. Memang diakui banyak peristiwa aneh
yang terjadi diantara beliau dengan kiara. Sepertinya beliau akan
banyak bersabar menghadapi gadis yang akan menjadi calon istrinya itu.
Beliau pun mengambil ponselnya di atas meja, beliau ingin menyampaikan
sesuatu sebelum beliau berangkat ke Malaysia. Tapi tanpa sengaja tangan
kiri beliau menyenggol kotak yang berisi tumpukan papper yang terletak
tidak jauh dari meja belajar beliau, sehingga isi kotak itu pun
berserakan ke lantai. Beliau berusaha merapikan kembali makalah-makalah
tersebut dan memasukkannya ke dalam kotak, lalu tiba-tiba beliau melihat
sebuah bingkai berukuran 5 R tergeletak diantara makalah-makalah itu.
Beliau pun mengambil bingkai itu. Terlihat di sana foto seorang wanita
tersenyum dengan manis mengenakan pakaian toga mengapit bucket bunga
ditangannya. Beliau tahu benar siapa wanita itu. Karena Wanita itulah
yang selama ini menjadi alasan baginya untuk tetap bertahan dan dapat
sukses seperti sekarang. Karena dia pernah menjadi bagian dalam hidup
beliau, seseorang yang sangat beliau cintai dan karenanya pula beliau
sulit untuk membuka hati untuk gadis lain karena ia tidak berpikir untuk
bisa menggantikan posisinya . Walaupun mengingatnya sama saja membuka
luka masa lalu yang pernah beliau rasakan. Tapi cinta yang pernah ia
berikan untuk wanita itu memang terkesan begitu dalam. Terbayang olehnya
beberapa tahun yang lalu ketika beliau masih menjalani kuliah di
Universitas Sidi Muhammad Ben Abdullah Maroko. Empat tahun kuliah di
sana, banyak ia lalui kenangan indah bersama wanita itu. Wanita yang
bernama syafa fadhillah khudhori Lc adalah orang yang dikenal beliau
sejak beliau menimba ilmu di Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponorogo
Jawa Timur. Hubungan antara Ustadz Hanif dengan Syafa bukan hanya
kedekatan biasa , bahkan bunga cinta telah tumbuh di hati mereka berdua
sejak mereka menjadi peserta jambore tingkat nasional di cibubur. Tapi
karena mereka adalah santri yang memiliki pengaruh yang baik dan
dikenal sebagai santri yang pintar di sana, sehingga mereka lebih
memilih menjaga nama baik mereka masing-masing tanpa harus
merealisasikan kedekatan mereka. Namun kedekatan mereka semakin terasa
ketika mereka sama-sama mendapatkan beasiswa di Universitas yang sama
di maroko. kedekatan mereka ini juga tidak terlalu mencolok di hadapan
para pelajar yang lain, sehingga tidak banyak yang tahu bahwa ada
hubungan yang spesial antara mereka berdua. Tapi hubungan mereka tidak
berakhir seperti yang mereka harapkan, setelah 5 tahun menjalani sweet
relation akhirnya syafa harus menikah dengan orang lain. Hal ini yang
membuat ustadz hanif benar-benar hancur dan terpukul. Sebenarnya ,
sebelum menyelesaikan kuliahnya di Maroko, ustadz hanif sudah mencoba
untuk meminang Syafa kepada orang tuanya di kota pekanbaru, ternyata
penolakanlah yang terjadi, keluarga syafa fadhilla adalah keluarga yang
memiliki status sosial yang tinggi di masyarakat selain itu mereka
adalah keluarga yang kental dengan ajaran salafi, bahkan mereka sudah
mempersiapkan seorang calon suami yang disesuaikan dengan standar yang
mereka miliki. Setelah beliau mengetahuinya, ternyata calon suami syafa
itu juga seorang pria yang fanatisme dalam ajaran salafi ditambah lagi
dia berasal dari keluarga terhormat. Berbeda sekali dengan beliau yang
hanya berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja sedangkan untuk
mengenyam pendidikan beliau hanya mengandalkan beasiswa.
Ustadz
hanif kembali teringat dengan peristiwa itu dan masih terngiang
kata-kata yang beliau ucapkan saat terakhir beliau dan syafa bertemu
disebuah restoran di kota Marakech al khamra’ sebuah kota yang sangat
indah di maroko, mereka bertemu ketika diadakan agenda rihlah setelah
selesai menyelesaikan studi mereka selama 4 tahun di Universitas yang
terletak di Dahr al Mehraz. Fes, Maroko.
“walaupun saya bukan dari
keluarga kaya, tapi jika saya fanatisme salafiah apakah saya bisa
menikahimu syafa?”tanya ustadz hanif mengawali pembicaraan sambil
mengetuk meja perlahan. Syafa memperhatikan gerakan tangan beliau itu
tanpa ekspresi apapun.
Syafa mengangkat wajahnya “mas, ingatkan
dengan hadits wa man kanat hijrotuhu yusibuha awim ro atin yankihuha
fahijrotuhu ila ma hajaro ilaih,, saya tidak ingin mas seperti sahabat
rasulullah itu mas, yang melakukan hijrah hanya karena mengejar cinta
ummu qais”terang syafa.
“saya lebih baik menjadi seperti halnya
pecinta ummu Qais daripada saya harus kehilangan kamu, ”ujar Ustadz
Hanif sedih sambil membuang tatapannya kearah kerumunan para pejalan
kaki yang memenuhi sepanjang trotoar di kota itu.
“mas,,, jangan
jadikan perasaan yang kita rasa membutakan mata hati, terutama mata hati
kita untuk Allah, mas percayakan dengan jodoh, mungkin ini adalah
pertanda bahwa memang kita .........” Syafa tidak melanjutkan
kata-katanya.
tidak berjodoh?” sambung Ustadz Hanif tenang. Beliau masih memandang kearah kerumunan pejalan kaki di trotoar itu.
“mas...maksud saya,,,”syafa berkata dengan suara lemah dan tatapannya tidak lepas dari Ustadz hanif.
Ustadz hanif menoleh ke arah syafa,
“lalu ,,,,dengan membiarkan kamu menikah dengan orang lain, kamu mengatakan kita tidak berjodoh?
Syafa menundukkan wajahnya. Ustadz hanif menghela nafas, kemudian beliau melanjutkan kata-kata beliau.
Syafa kamu adalah seorang sarjana sekarang,, tolong jawab pertanyaan
saya dengan otak cerdasmu,,, apakah Allah tidak ridho dengan hubungan
yang sudah kita jalin selama bertahun-tahun ini?apakah tidak boleh kita
merasakan bahagia yang sesungguhnya ,,sedangkan masa bahagia itu sudah
berada selangkah di depan kita?
Syafa mulai berlinangan airmata. Beliau pun melanjutkan pertanyaannya.
“Syafa....bagaimana sebenarnya kamu menilai semua perasaan saya selama
ini? kenapa kamu begitu mudah untuk mengatakan kata-kata perpisahan
syafa...?ketika saya telah menganggap kamu satu-satunya buat saya?ketika
telah banyak rencana yang kita buat untuk kehidupan kita kedepan...”
“sudah cukup....cukup!” potong Syafa masih dengan isak tangisnya.
“mas kira saya mau menikah begitu saja dengan orang lain,itu tidak mudah mas...”sambung Syafa.
Masih terlihat jelas syafa yang mulai menangis. Ustadz hanif tertegun
sesaat, saat ini beliau juga sangat sulit untuk menahan semua kepedihan
yang beliau rasakan . jika beliau wanita mungkin sedari tadi dia akan
menangis tersedu-sedu di depan syafa. Kemudian beliau mengeluarkan sapu
tangan dari sakunya, dan menyeka airmata yang jatuh berlinangan dari
sudut mata syafa.
“mari melarikan diri dengan saya, syafa.....”ujar beliau
Syafa terperanjat mendengar kata-kata itu. Dia menatap lekat kearah beliau .
“jika memang dengan cara itu, kita bisa menggapai kebahagian kita,
kenapa kita tidak pergi dan menikah di suatu tempat dimana tidak ada
orang yang mengetahuinya”sambung beliau, saat itu beliau menatap tajam
kearah syafa mencari kesungguhan dan kepercayaan dari orang terkasihnya
itu,.
Kemudian beliau menegaskan“jika kamu bersedia,,sepulangnya
dari maroko saya akan langsung ke kota Pekanbaru , saya tunggu kamu di
airport ”. syafa menatap Ustadz hanif dengan tidak bergeming sedikit
pun, lalu ia pun menganggukkan kepalanya sebagai tanda dia setuju untuk
pergi dengan ustadz hanif.
Lima hari kemudian, Ustadz hanif
bersiap-siap untuk meninggalkan asrama mahasiswa indonesia. Beliau
berencana untuk singgah ke pekanbaru dan bertekad untuk membawa syafa
ke medan, menemui ummi disana. Sedangkan Tiga hari yang lalu syafa sudah
lebih dulu meninggalkan maroko. Sebelum meninggalkan asrama, beliau
mendapatkan surat dari Dr dzakki Syukri, kemudian beliau membacanya.
Didalam surat itu Beliau mendapat tawaran untuk menjadi dosen di salah
satu kampus di maroko. Dan beberapa tawaran beasiswa untuk melanjutkan
S2 disana. Hal ini berkaitan bahwa beliau adalah salah satu mahasiswa
yang mendapatkan predikat (Musyarrof Jiddan/Summa Cumlaude) di akhir
studi sarjananya di Negeri Magribi ini. Sebenarnya
penghargaan-penghargaan itu yang sangat beliau impikan selama ini,
apalagi mengingat beliau bukan berasal dari keluarga yang berada tentu
untuk dapat melanjutkan studi di Universitas Asing hanya dari
penghargaan seperti inilah yang menjadi harapan beliau selama ini. Tapi
beliau memutuskan untuk menolak semua tawaran itu karena saat ini syafa
lebih berarti bagi beliau dibanding itu semua.
Ustadz Hanif
meninggalkan surat itu diatas meja belajarnya, dan berangkat bersama
pelajar indonesia lainnya untuk kembali ke tanah air.
Sesampainya di
pekanbaru, ustadz Hanif menghubungi nomor telepon syafa. Tapi nomor
tersebut tidak aktif, berkali-kali beliau coba nomor itu tapi masih
tidak aktif juga. Beliau kembali memastikan dengan seksama no handpone
yang di beri oleh syafa terakhir kali. Tidak ada yang salah dengan nomor
ini, pikir beliau. Beliau memutuskan untuk menunggu, bandara sultan
syarif kasim 2 mulai di padati oleh banyak pengunjung . tapi tidak ada
tanda-tanda kedatangan syafa di sana. Berkali-kali beliau melirik
arlojinya, dengan perasaan risau dan cemas. waktu merambat semakin
lambat tapi beliau masih tetap menunggu dengan sabar . Enam jam berlalu
begitu saja, tetapi gadis yang beliau tunggu tidak juga menampakkan
diri, senja semakin menggantung di pelupuk barat. adzan magrib pun
terdengar berkumandang lewat siaran televisi . Beliau pun memutuskan
untuk melaksanakan shalat. Seusai dari shalat beliau kembali menunggu,
namun hasilnya tetap sama. Beliau menunggu dengan risau, sesekali beliau
melihat para pengunjung yang berlalu lalang. Terdengar musik radio
mengalun lembut berasal dari sebuah tempat yang tidak jauh dari beliau,
Tak ingin ku jalani cinta yang begini,
yang kutahu cinta itu indah
Tak ingin kurasakan jiwa yang tak tenang
ku mau kau tetap disisiku (Afgan Syah Reza ft Nagita slavina- yang ku tahu cinta itu indah)
Ustadz Hanif termenung sejenak, beliau termanggu mendengarkan lagu itu.
Beliau kembali melirik arlojinya, waktu telah menunjukkan pukul 7
malam,. Beliau membuang pandangannya kearah gerbang bandara dengan
tatapan kosong . akhirnya beliau memutuskan untuk meninggalkan bandara ,
menuju ke satu tempat. Menuju rumah Syafa, saat ini beliau benar-benar
mengkhawatirkannya. Beliau pun akhirnya mengorbankan jadwal
keberangkatannya ke kota medan yang tinggal 30 menit lagi.
Beberapa
menit kemudian akhirnya beliau sampai di depan pintu pagar sebuah
rumah yang pernah beliau kunjungi itu. Setelah membayar biaya taksi
perlahan beliau dekati pagar rumah itu, dari celah pagar mata beliau
menyapu sekeliling rumah itu, tapi rumah itu terlihat sepi. Ketika
beliau akan mengucap salam, tiba-tiba seorang pria setengah baya dengan
memakai seragam security datang menghampirinya. Dan berkata
“mas, orangnya sekeluarga pada pergi ,,,,,”
“pergi kemana ya pak?”tanya Ustadz hanif
Bapak itu menyulutkan rokoknya dan berkata
“iya, pergi katanya, ada acara pernikahan anak perempuan orang yang punya rumah ini”
“pernikahan?”tanya ustadz hanif kaget
“iya, pernikahan mbak syafa di Palembang katanya sih dapat orang
palembang, lagian orang rumah ini baru kemarin perginya mas”.
“kemarin?”tanya ustadz hanif tidak percaya
“iya, jadi saya yang disuruh nunggu rumah ini..”terang Bapak itu sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
Ustadz hanif terperanjat mendengarnya. Tampak jelas wajah beliau yang
memerah menahan kekecewaan dan amarah. Ustadz hanif menghela nafasnya
dengan berat.
“terima kasih pak, sepertinya saya salah alamat”ujar Ustadz hanif dengan kecewa. Bapak itu pun mengangguk dan berlalu pergi.
Kemudian beliau menjauhi pintu pagar rumah itu. Perlahan beliau
merasakan air mata menetes di sudut mata beliau, dengan hati yang
sangat terluka beliau pun bergegas menghapusnya . kepala beliau pun
menengadah ke langit. Langit malam itu tidak terlihat seperti biasanya.
Langit itu seolah-olah akan runtuh, dan siap meluluh lantakkan hati dan
perasaan beliau.
Tak pernah kubayangkan,,, cerita kita berakhir begini ,,,
Tega kau dustai semua .......janji kita berdua (Afgan Syah Reza – Entah)
------------------------------
Berkali-kali kiara menguap di meja perpustakaan itu. Tadi malam dia
tidak bisa tidur, mengerjakan penelitian itu benar-benar membuatnya
stress. Kiara memainkan touchscreen ponselnya. Hari ini sudah genap 4
hari Ustadz Hanif pergi ke Malaysia. Dia membaca inbox pesan yang
terakhir beliau kirimkan:
“gadis kecilku yang baik....selesaikan semua tugasmu dan tunggu abi nilai ya......”
Kiara tersenyum sendiri membacanya.
“gadis kecil apaan.........”sungutnya kesal.
“ternyata beliau memperlakukan saya seperti murid
paud,,benar-benar”kiara berceloteh sendiri. Beberapa menit kemudian
Kiara sudah tertidur dengan membenamkan wajahnya diatas lipatan
tangannya.
Tiba-tiba seseorang mendekatinya.
“hei bangun...”terdengar suara orang itu pelan membangunkan kiara. Kiara tidak berkutik sama sekali.
Ternyata orang itu adalah ustadz Hanif. Beliau mengernyitkan dahi.
Beliau mengetuk-ngetuk meja di depannya,
“hei,,,banguun, sejak kapan perpustakaan menjadi tempat penginapan?”ujar beliau sambil terus mengetuk meja itu.
“sejak saya belum selesaikan tugas itu...”ceracau kiara antara sadar
dan tidak dan dia pun masih tetap membenamkan wajahnya di tangannya.
“apa yang kamu katakan?”tanya beliau kaget. Pertanyaan beliau hanya
dijawab dengan lenguhan kiara saja. Dia tidak sadar bahwa ustadz hanif
sudah berada disampingnya.
Beliau cepat-cepat memeriksa laptop
kiara, dan terlihat halaman microsoft word yang masih terbuka disana.
Beliau menarik kursor hingga halaman terakhir. Beliau benar-benar
terkejut melihatnya.
“astagfirullah,,,apa yang kamu kerjakan selama
ini sampai belum selesai..........”gumam beliau. Beliau pun duduk di
atas kursi yang terletak di samping kiara dan menggeser laptop itu.
Kemudian meletakkan bucket bunga mawar yang beliau bawa pada kursi
lainnya. Beliau membolak balik laporan yang tertumpuk di hadapan kiara.
Beliau memeriksa semua laporan itu. Beliau menghela nafas dan
menggeleng-gelengkan kepala.
Akhirnya beliau pun mengetik semua
laporan-laporan itu. Dan menyempurnakan bagian-bagian yang belum
lengkap. Dengan sigap beliau mengerjakan itu semua mulai mencari rujukan
dari buku-buku sehingga beliau harus mencarinya di setiap rak-rak buku,
mengutip kata-kata dari buku tersebut, menyusun metodologi penelitian
dan mengetik hal-hal yang dianggap perlu. Sesekali beliau melirik
kearah kiara, tapi dia masih belum terbangun dari tidurnya. Hingga 46
menit pun berlalu beliau telah menyelesaikan semuanya. Beliau pun
bernafas lega. Diliriknya lagi kiara, ternyata dia belum terbangun juga.
Beberapa menit kemudian ponsel yang berada genggaman kiara
bergetar. Kiara mengangkat kepalanya dan membaca inbox pesan dari ustadz
hanif yang bertuliskan
“sudah bangun lagi, dan cepat antarkan tugas kamu itu.”
“astagfirullahal adzim,,,”seru kiara. Cepat-cepat dia buka laptopnya
dan masih halaman microsoft word terbuka disana, ketika ia akan kembali
mengetik. Dia pun kaget melihat semuanya sudah terketik dengan rapi. Dia
tarik kursornya dari terakhir kali ia mengetik. Dia benar-benar
bingung, dia pun mengucek-ngucek matanya. Ternyata dia tidak salah
lihat, tugasnya sudah selesai. Tapi siapa yang
menyelesaikannya?pikirnya bingung. Dia membuka inbox pesan di ponselnya,
di bacanya kembali pesan dari ustadz hanif.
“beliau mengatakan
agar bangun,,berarti beliau tahu saya ketiduran disini”ujar kiara dengan
dirinya sendiri. Kiara menoleh kearah sisi kirinya, terlihat bucket
mawar putih tergeletak diatas kursi.
“ya Allah,,,berarti tadi
ustadz hanif kesini, mengerjakan tugas ini dan melihat saya
tertidur,,benar-benar memalukan...”Kiara memukul-mukul kepalanya dengan
kikuk.
Kemudian dia pun bergegas menuju kantor ustadz hanif. Ketika tiba disana terlihat beliau sedang sibuk dengan laptopnya.
“assalammu’alaikum ustadz”ucap kiara pelan.
Beliau melirik kearahnya, “wa’alaikumussalam warohmatullah”kemudian beliau kembali sibuk dengan laptopnya.
Dengan malu-malu kiara memasuki ruangan beliau.
“mana tugas kamu?saya ingin cepat merekapnya dan harus segera
diserahkan ke lembaga penelitian”ujar beliau sambil menatap kearah
Kiara.
“semua sudah saya simpan di sini ustadz”sahut kiara sambil menyerahkan flashdisk. Ustadz hanif menerima flasdisk itu.
“dan maafkan saya, saya tidak menyelesaikan tugas saya tepat waktu dan
tadi ada seseorang nampaknya yang membantu saya menyelesaikan tugas
itu”sambung kiara.
Ustadz hanif tidak menghiraukan perkataaan Kiara.
Beliau hanya sibuk mentrasfer data dari flashdisk ke laptop. Lalu kiara
pun duduk di kursi yang berada dihadapan beliau. Dan ia pun sempat
melirik ke meja sekretaris jurusan yang kosong. Kemudian kiara menoleh
kearah ustadz Hanif. Dengan stelan kemeja abu-abu dan dasi biru tua
bergaris putih beliau terlihat cerdas dan berwibawa hari itu. Kiara
pun terkesima menatap beliau.
Kiara tertegun sejenak sedangkan
beliau tetap tenang dan tidak bergeming sedikit pun. Dia tidak
menyadari kalau sebenarnya ustadz Hanif tahu Kiara terkesima menatapnya
seperti itu.
“saya sadari saya sangat tampan, lalu bisakah kamu
berhenti menatap saya seperti itu?”tukas ustadz hanif, dengan tatapan
matanya tidak terlepas dari layar laptop.
Kiara pun tersadar
cepat-cepat dia menundukkan wajahnya , dia mencoba mengontrol dirinya
dan menghela nafasnya perlahan. dia sadar apa yang dia lakukan tidak
pantas, memandang seseorang laki-laki yang bukan muhrim seperti itu
tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang gadis yang paham tentang
batasan hijab seperti dirinya.
“astagfirullah hal adziem....”bisikKiara
Ustadz hanif pun tersenyum melihatnya. “seorang pria tampan
,,,,,,,sedang konsentrasi dengan sangat serius, bukankah itu satu
pemandangan yang sangat menarik?...apalagi hal itu dilakukan oleh dosen
anda ini,,,”ucap ustadz hanif dengan tenang.
Kiara tersipu malu mendengar ucapan ustadz itu.
“selain berani menatap saya apakah sekarang kamu juga berani untuk
mentertawakan saya?!”sela beliau dengan suara sedikit ketus. Tatapan
beliau pun tertuju pada kiara. Langsung hal itu membuat Kiara menjadi
semakin gugup.
“tidak ustadz..tidak ada..saya tidak ada
mentertawakan ustadz......”ucap kiara dengan gugup, kemudian wajahnya
kembali menunduk. Ustadz hanif menatap kiara dengan tersenyum sinis.
“angkat wajahmu....”pinta beliau.
Kiara kaget mendengar pinta ustadz Hanif, perlahan dia mengangkat
wajahnya sedikit dengan tatapan mata yang masih mengarah ke bawah.
“Lagi....!”pinta beliau lagi. Kiara mengangkat wajahnya sedikit.
“lagi...!”ulang beliau. Kiara mengangkat wajahnya lebih tinggi tapi dengan tatapan matanya yang mengarah ke kanan beliau.
“tatap wajah saya.......!nada suara beliau mulai meninggi. Dengan
refleks Kiara menatap wajah ustadz Hanif, serta merta tidak ada angin
tidak ada hujan beliau langsung menulis tanda cek list di kening Kiara
dengan spidol boardmaker yang sudah di tangan beliau. Hal itu
benar-benar membuat Kiara terperanjat seketika.
“ustadz...kenapa sih
memperlakukan saya seperti anak-anak?....”ucap Kiara kaget, dengan
panik tangannya menggosok-gosok tanda cek list di keningnya tersebut.
“karena saya tidak yakin apakah jenis hukuman untuk wanita dewasa cocok
dengan kamu, jadi saya buat hukuman yang sesuai dengan karaktermu!”ujar
beliau dengan nada sedikit kesal.
”sudahlah .... hentikan kamu
menggosok kening kamu itu,,,jangan kamu berharap .. akan keluar jin dari
sana”ledek ustadz Hanif sambil tersenyum geli
“ustadz...ini tidak lucu, bagaimana bisa ustadz mencorat coret wajah saya seenaknya....”ucap Kiara kesal.
“assaammu’alaikum” terdengar seseorang masuk dengan ucapan salam.
Terdengar suara langkah kaki seseorang memasuki ruangan dan ternyata
orang tersebut adalah pak yamin sekretaris jurusan.
Menyadari akan
hal itu kiara menyembunyikan wajahnya sambil terus menggosok-gosok
keningnya. Pak Yamin pun memandang heran ke arah Kiara.
“kenapa kok nunduk-nunduk kayak gitu?”tanya beliau heran. Ustadz Hanif menutup mulutnya tersenyum geli.
“ustadz, pak yamin,,saya permisi,assalammu’alaikum”pami
------------------------------
Tepat pukul 13.20 wib, kiara meninggalkan kampus dan menuju halte.
Kiara yang bekerja di kantor APSI (Asosiasi Pengacara Syariah Indonesia)
harus mengambil data-data klien berperkara yang belum ia masukkan
kedalam database. Kiara mempercepat langkahnya. Hari ini cuaca terlihat
cerah sepertinya musim penghujan telah berlalu. Cerahnya hari ini,
secerah hatinya ketika bunga-bunga di hatinya bermekaran dengan indah.
Di lihatnya kembali bucket bunga yang ia bawa, berkali-kali dia
tersenyum melihatnya. Lalu tatapannya beralih kearah cincin yang
terpasang di jemarinya dan terngiang kata – kata beliau.
“menikahlah
dengan saya “ ujar ustadz hanif waktu itu, dan itu membuat kiara
tersenyum sendiri . Dia pun menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“ya Allah,,apakah aku sekarang sedang gila....”bisiknya di dalam hati.
Dia memasang headset ponselnya, terdengar lagu yang mewakili perasaannya hari ini
Merah pipi ini saat kulihat dirinya
Mungkinkah ini yang dinamakan cinta
Malu hati ini saat ku tatap wajahnya
mungkinkah ini yang dinamakan cinta (Afgan – Pesan Cinta)
------------------------------
BAGIAN 3
Minggu yang indah menghiasi langit mesjid raya medan kota. Terlihat sejumlah orang keluar dari masjid raya itu.
Ustadz hanif keluar dari mesjid itu dan terlihat beliau asyik bercakap-cakap dengan seorang laki-laki.
“terima kasih banyak ustadz, saat ustadz Ahmad pergi umroh seperti ini,
kami sering kebingungan mencari pengganti beliau untuk mengisi kajian
tafsir qur’an dalam minggu ini, alhamdulillah kami sangat bersyukur
ketika anda bersedia menggantikan beliau , ,, oh ya sebelum terlupa
ini ustadz ada undangan pengajian kamis malam, jika ustadz ada
kesempatan kami berharap ustadz dapat hadir dalam acara ini”ujar orang
itu sambil menyerahkan selembar undangan kepada beliau.
“insya Allah, jika tidak ada aral melintang, saya akan menghadirinya”ujar ustadz hanif.
“sekali lagi terima kasih banyak ustadz, semoga selamat sampai tujuan”ujar pria itu sambil menyalami ustadz hanif.
“iya sama-sama, saya pamit dulu, assalammu’alaikum”ucap beliau
“wa’alaikumussalam,”dengan tersenyum pria itu menyahut salam dari beliau.
Ketika akan menuruni anak tangga mesjid. Seorang gadis manis
berkerudung putih telah menunggu dengan senyuman manis di bawah anak
tangga.
Ustadz hanif terkesima melihatnya. Perlahan beliau menuruni anak tangga.
“apa yang kamu lakukan disini?”tanya beliau setelah sampai di hadapan kiara.
“kemarin saya mendengar dari radio kalau ustadz, mengisi kajian tafsir
qur’an di mesjid raya hari ini, jadi saya datang kesini”
“dengan siapa kamu datang kesini?”
“saya sendirian saja ustadz”
“dari tanjung morawa sendirian sampai kesini?”
“tidak ustadz,,,tadi perginya saya bareng sama mas saya, kebetulan
beliau kalo pagi-pagi sudah berangkat untuk narik angkot.....”
Ustadz Hanif manggut-manggut mendengarnya.
“mas Hanif,,,semuanya udah saya letakkan di mobil,”seru seorang
laki-laki sembari menghampiri mereka. Kiara memperhatikan laki-laki itu,
dia terlihat seumuran dengan kiara. Ustadz hanif mengangguk kepala
kepadanya.
“baiklah,,,,oh iya Kiara perkenalkan ini syafi’i, kami
berdua bersaudara sepupu dan syafi’i inilah yang selalu membantu
kesibukan saya selama ini”, ustadz hanif memperkenalkan laki-laki yang
bernama syafi’i kepada Kiara. Laki-laki itu menganggukkan kepala dan
tersenyum kepadanya.
“fi’i, waktu itu kamu bertanya siapa Kiara, ini dia yang namanya Kiara”ujar beliau lagi kepada syafi’i.
“saya merasa menjadi orang yang beruntung sepertinya karena bisa
bertemu dengan yang namanya Kiara”celetuk Syafi’i, sambil memandang
wajah Ustadz Hanif lalu menoleh ke arah Kiara dengan tatapan penuh arti.
beliau pun tersenyum mendengarnya. Sedangkan Kiara hanya dapat tersipu
malu.
“kamu akan kemana lagi kiara?”tanya beliau kemudian kepada kiara.
“hmm.,,sepertinya saya mau pulang saja ustadz” sahut kiara
Lalu ustadz Hanif melirik arloji beliau. Waktu masih menunjukkan pukul
9 pagi. Lalu beliau pun menatap kiara dan berkata kepadanya
“ya
sudah begini saja, kamu ikut sekalian saja dengan saya, karena kebetulan
saya dan syafi’i akan menghadiri acara di Kota Rempah”
“tapi apakah tidak merepotkan ustadz?”ujar kiara, mendadak dia pun merasa tidak enak.
“insya Allah tidak, selain itu kalau mau ke Rempah tentunya melewati
Tanjung Morawa,benarkan fi’i?”beliau pun melirik syafi’i yang sedari
tadi memperhatikan mereka berdua.
Syafi’i tersenyum melihatnya
“iya benar sekali ustadz “ujarnya dengan senyuman yang masih mengambang diwajahnya.
Kemudian mereka pun menuju mobil toyota Rush berwarna silver yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Sepanjang perjalanan mereka pun larut dalam perbincangan yang hangat.
Ternyata syafi’i adalah sosok yang penuh dengan humoris. Sehingga
dapat memecahkan kekakuan selama di perjalanan. Di tengah perjalanan
itu, Kiara juga baru mengetahui bahwa Syafi’i masih mahasiswa S1 di
Unimed Fakultas Keguruan Bahasa Inggris. Dan saat ini ia sudah semester
12, hal itu dikarenakan jiwa kewirausahaan yang dia miliki membuat dia
lebih tertarik untuk menyibukkan diri dengan usaha-usaha sampingan.
Bahkan kini dia telah memiliki dua kedai dodol di Pasar
Bengkel-Perbaungan. Hal itu membuktikan keseriusannya dalam menjalani
minat dan bakatnya sebagai seorang pengusaha muda. Sehingga dia sering
merasa tidak sesuai untuk menjadi guru bahasa inggris. Walaupun begitu,
dia tetap akan menyelesaikan kuliahnya dengan segera. Ustadz Hanif yang
duduk disamping Syafi’i yang sedang mengemudi , memberikan pengertian
kepadanya bahwa Allah selalu menyimpan rencana untuk hamba-hamba yang
dikasih-Nya.
Mendengar penuturan Ustadz Hanif dan Syafi’I, Kiara pun
berpikir di bandingkan mereka berdua dia merasa belum memiliki apa-apa.
Dia pun merasa terinspirasi dengan penjelasan beliau dan semangat yang
dimilki syafi’i.
Beberapa menit kemudian ketika sampai di Taman Teladan. Tiba-tiba Syafi’i mengehentikan mobil.
“mas, sebentar ya, saya mau ngantarkan titipan kawan disini, sebentar aja gak lama kok”ujar Syafi’i pada Ustadz Hanif.
“ya udah,, ingat jangan lama-lama”pesan beliau. Lalu tanpa basa basi
Syafi’i meninggalkan mobil. Tinggallah ustadz Hanif dan Kiara didalam
mobil. Kiara merasa tidak enak berdua dengan beliau seperti itu.
“kamu mau keluar juga?”tanya ustadz hanif yang asyik memainkan i pad
di tangannya. Ternyata beliau juga menyadari ketidak nyamanan situasi
tersebut.
“bukankah sebentar lagi syafi’i akan balik?”Kiara balik bertanya.
Terlihat ustadz Hanif membuka pintu mobil. Kiara hanya memperhatikan
beliau. Beliau pun membukakan pintu untuk kiara dan berkata”apakah kamu
mau saya kunci di dalam?”cepat keluar...”
Kiara pun keluar dari
mobil itu dan melihat kearah taman yang ramai di kunjungi oleh banyak
orang. Taman teladan merupakan taman yang terletak di kota medan yang
banyak dikunjungi banyak orang dari berbagai kalangan. Apalagi hari itu
adalah hari minggu, banyak orang yang menghabiskan masa weekend mereka
hanya sekadar hang-out bersama orang-orang tercinta. Tiba-tiba Ustadz
hanif sudah berada disamping Kiara.
“kamu sering kesini?”tanya beliau kepada kiara yang masih berdiri melihat keramaian di taman itu.
“kalau lagi suntuk saya sering main kesini”
Ustadz hanif berdiri membelakangi Kiara.
“biasanya saya tidak pernah memiliki waktu senggang untuk
berjalan-jalan seperti ini, ayo kita berjalan-jalan sebentar”Ustadz
Hanif tanpa menoleh kearah Kiara.
“tapi ustadz, bagaimana kalau syafi’i nanti mencari kita?”sahut kiara risau.
“dia kan bisa menghubungi saya”jawab beliau tenang, beliau pun
melangkah pergi menjauhi kiara. Kiara mengikuti beliau dari belakang.
Kiara melihat banyak para pedagang menjual berbagai macam barang dan
makanan disana. Kiara melangkah lebih cepat, ia pun berhasil berjalan
disamping ustadz Hanif. Diliriknya beliau, beliau pun membalas melirik
kearah Kiara. cepat-cepat kiara menoleh kearah lain.
“apakah ustadz merasa senang?”tanya Kiara sambil menatap anak-anak tidak jauh darinya sedang asyik bermain.
“Iya saya senang”ungkap beliau .
Mereka pun melewati penjual bakso bakar. Lalu Kiara memesan dua tusuk
bakso bakar kepada penjual tersebut. Ustadz Hanif pun ikut berhenti
bersamanya. Beliau dan kiara memperhatikan dengan saksama penjual bakso
bakar itu memproses bakso-bakso itu, mulai dari memanggangnya,
memasukkannya kedalam saus kacang dan mengolesinya dengan saus pedas.
Kemudian kiara menyerahkan lembaran uang 2 ribu rupiah kepada penjual
itu dan tidak lupa mengucapkan terima kasih. Akhirnya dua tusuk bakso
bakar itu telah menjadi miliknya. Dia memberikan satu kepada Ustadz
Hanif. Tapi wajah beliau terlihat ragu untuk menerimanya lalu beliau pun
menggelengkan kepala. Kiara menghela nafas melihatnya. Lalu dengan
kesal dia pun berlalu pergi. Dia menuju kursi taman yang terletak tidak
jauh darinya. Ustadz hanif tersenyum lalu menyusulnya dan mengambil
salah satu bakso itu dari tangan kiara. beliau pun duduk di samping
kiara dan memakan bakso bakar tersebut. Kiara tersenyum melihatnya.
Beberapa saat kemudian, mereka pun kembali menuju tempat di mana mobil
Ustadz hanif terparkir. Tapi mereka tidak ada melihat syafi’i di sana.
“ustadz, jangan-jangan syafi’i sedang mencari kita” ujar kiara risau.
Ustadz hanif memperhatikan sekeliling tempat dimana beliau berdiri. Mata
beliau menemukan syafi’i yang sedang makan di warung penjual makanan
sarapan pagi yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
“ternyata dia sampai kelaparan menunggu kita”ujar beliau sambil menunjukkan dimana syafi’i berada. Kiara tersenyum melihatnya.
“sebenarnya saya menyembunnyikan sebuah hadiah yang saya siapkan untuk
kamu di sini ”ujar beliau tiba-tiba. Kiara tersenyum dan berkata
“saya sudah mendapatkan semua hadiah saya ustadz, bagaimana mungkin saya berani menginginkan hal yang lain”
Ustadz Hanif menoleh ke arah kiara
“saya sudah menyiapkannya, carilah...”
Lalu kiara pun dengan antusias mencarinya. Mulai dari tempat dimana ia
berdiri, dibalik bebatuan, di tanah, diantara bunga-bunga , rumput, di
dekat ban mobil, diatas mobil kemudian ia memperhatikan dahan pohon
diatasnya.
Ustadz Hanif tersenyum geli melihatnya.
“Bukankah
baru saja kamu bilang, bahwa kamu tidak memerlukan hal-hal yang lain
lagi? Tapi mengapa kamu terlihat serius mencarinya?” ujar Ustadz Hanif.
Sedangkan Kiara masih penasaran, dia pun memperhatikan dengan saksama
pohon yang berada di dekatnya.
“apa itu sebenarnya?”tanya kiara penasaran.
“mungkinkah itu benda yang sangat kecil sehingga tidak bisa dilihat
dengan mata telanjang?”sambungnya sambil matanya terus mencari di
sekelilingnya.
“kecil? sembarangan!”seru beliau. Kiara menatap
Ustadz Hanif. Beliau tersenyum. Kiara pun melangkah menghampiri beliau
dengan tatapan penuh arti seolah-olah dia sudah dapat menebak hadiah
itu.
“apakah mungkin, ustadz ingin memberikan mobil ustadz untuk
saya?”ujar Kiara sambil menunjuk mobil toyota Rush di belakangnya itu.
Ustadz Hanif tertawa.
“kamu berani berpikir seperti itu?”ujar beliau. “bukan itu”sambungnya.
“lalu apa itu?”
“ yang ingin saya berikan kepadamu adalah sesuatu yang tidak
tergantikan oleh apapun di dunia ini, di seluruh dunia satu-satunya,
yang selama ini banyak wanita yang menginginkannya...”
Kiara tersenyum “mungkinkah...”ujarnya.
Ustadz Hanif tersipu, “sepertinya kamu sudah bisa menebaknya...”
“benar....itu saya..”sambung beliau masih dengan wajah tersipu.
Kiara menundukkan wajahnya dan tertawa melihat beliau begitu.
“apa arti tawamu itu? Apakah kamu menganggap ini lucu?”tanya beliau
“mana mungkin saya berani tidak hormat dengan ustadz”kata-kata Kiara terhenti
“karena saya bahagia, karena saya bahagia maka saya tertawa”lanjutnya. Ustadz Hanif mendekati Kiara.
“bukankah kamu telah memberikan hatimu kepada saya,, maka saya akan
memberikan segalanya untukmu...”ujar beliau lalu beliau memandang wajah
kiara. Kiara tertegun.
Ku ingin dia yang sempurna
Untuk diriku yang biasa
Kuingin hatinya, kuingin cintanya,
kuingin semua yang ada pada dirinya
kuhanya manusia biasa
tuhan bantuku ntuk berubah
tuk miliki dia, tuk bahagiakannya
tuk menjadi seorang yang sempurna
untuk dia...... (Sammy simorangkir-dia)
-----------------------------
Beberapa menit kemudian mobil itu pun melaju meninggalkan lapangan
teladan. Tiba-tiba ponsel ustadz hanif berbunyi. Terlihat beliau
terlibat percakapan yang serius dengan orang yang menghubunginya itu.
“fi’i kita tidak jadi ke Rempah hari ini,”ujar beliau setelah mengakhiri pembicaraan via ponselnya.
“kenapa ustadz?tanya syafi’i pandangannya tetap fokus menyetir.
“karena sesuatu hal mereka membatalkan acaranya hari ini.”terang
beliau. Kiara hanya mendengarkan saja percakapan mereka berdua. Ternyata
pada awalnya ustadz hanif dan syafi’i akan menghadiri acara sebuah
organisasi cendikiawan.
“jadi bagaimana ustadz?apakah kita mengantar mbak Kiara pulang dulu?”tanya syafi’i
Ustadz hanif tidak menjawab beliau hanya sibuk dengan ponselnya.
“kita ke pusat kota saja dulu, setelah itu baru kita pulang...”pinta Ustadz Hanif.
“kiara,,,jika kamu menolak saya turunkan kamu disini....”ancam beliau pada kiara.
“tapi ustadz, jika terlalu lama saya juga tidak bisa, karena saya ada kegiatan lagi setelah ini”ujar kiara.
“insya Allah tidak lama, dan ini berkaitan denganmu...”ucap beliau
sambil mengisayaratkan kepada syafi’i untuk memutar balik ke arah Pusat
kota. Akhirnya mereka pun menuju kota.
Tiga puluh menit kemudian,
merek pun sampai di pusat kota. Syafi’i memparkirkan mobil di sebuah
toko. Terlihat banner di depannya, dengan tulisan “Syafira Bridal”.
Kiara terheran-heran, hatinya bertanya untuk apa Ustadz Hanif
mengajaknya kesini. Akhirnya beliau dan Kiara memasuki toko tersebut.
sedangkan syafi’i tetap memilih untuk tinggal.
Di dalam toko
tersebut terlihat berbagai model busana pengantin. Kiara baru menyadari
ini bukan toko, tapi sebuah Bridal gaun Pengantin. Kemudian sampailah
mereka di sebuah ruangan yang luas seperti sebuah aula kecil. seorang
wanita berjilbab pasmina menghampiri mereka berdua.
“ustadz hanif,,akhirnya anda datang juga...”sambut wanita itu dengan tersenyum.
“apa kamu sudah siapkan,,yang saya pesan..?”tanya beliau kepada wanita itu.
“tentu saja, sudah saya siapkan..”jawab wanita itu sambil melirik kearah kiara.
“apakah ini dia orangnya”tanya wanita itu lagi kepada ustadz hanif.
“iya dia kiara,,kiara ini mbak Vio”ustadz hanif memperkenalkan kiara dengan wanita itu. kIara meyalami wanita itu.
“kalau begitu, tunggu apa lagi kita fitting saja sekarang...”ujar wanita yang bernama Vio tersebut.
“maksud anda fitting gaun pengantin?”tanya Kiara terkejut.
“memangnya ustadz hanif tidak ada memberitahukan kepada mbak
kiara?”tanya Vio heran sambil melirik ke arah Ustadz Hanif. Ustadz hanif
menjadi kikuk. Kiara pun menoleh kearah beliau, beliau hanya membalas
tatapan Kiara dengan senyum tipis.
Vio menyadari suasana tidak enak
itu. “ya sudah,,kita langsung saja ya,,,ada beberapa gaun yang harus
mbak Kiara coba, ayo...”ajak Vio sambil menarik tangan Kiara.
Kiara
mencoba gaun pengantin yang pertama. Lalu dia berdiri di hadapan Ustadz
Hanif. Ustadz Hanif memegang dagunya dan mengernyitkan dahi. Kemudian
beliau menggeleng. Lalu vio membantu Kiara untuk mencoba gaun yang
kedua. Setelah memperlihatkannya kepada ustadz Hanif , masih juga
beliau menggelengkan kepala. Akhirnya dia mengenakan gaun yang ketiga.
“tinggal dua gaun lagi yang ini dan ini, tapi moga aja yang ini tepat
menurut calon suami mbak ya...”ujar Vio sambil menunjukkan satu gaun
berwarna putih.
Beberapa menit kemudian. Kiara telah siap berganti
kepada gaun yang ketiga. Dengan berdebar-debar dia memperlihatkan diri
dihadapan Ustadz Hanif.
“ustadz bagaimana yang ini?”tanya vio kepada
Ustadz Hanif. Beliau membalikkan badannya. Beliau terpana melihat Kiara
dengan gaun itu. Beliau benar-benar terpesona melihatnya. Kemudian
beliau pun tersenyum.
“kamu terlihat seperti seorang peri dengan
gaun itu”puji Ustadz Hanif kepada Kiara. Kiara tersenyum malu
mendengarnya. Beliau mendekati kiara.
“saya ingin kamu mengenakannya
ketika akad nikah kita nanti...”ujar beliau kepada kiara. kiara
menundukkan wajahnya dan terlihat pipinya bersemu menahan malu.
Vio berdehem “bagaimana mau pilih yang ini?”tanya vio sambil tersenyum melihat mereka berdua.
“ya saya ambil yang ini...”pinta beliau. Kemudian beliau tersenyum menatap kiara. Kiara pun ikut tersenyum.
Setelah selesai fitting gaun pengantin di toko itu. Akhirnya mereka
melanjutkan perjalanan. Mereka pun memasuki daerah kesawan, untuk
singgah ke rumah orangtua Ustadz Hanif.
Akhirnya beberapa menit
kemudian mereka sampai di halaman sebuah rumah. Dengan halaman yang
penuh ditumbuhi pepohonan yang asri dan bunga—bunga yang terawat dengan
indah. Rumah tersebut terlihat tertata apik dengan sentuhan desain”
jaman doeloe” dan minimalis modern.ketika akan memasuki teras rumah,
Mereka pun telah di sambut oleh seorang wanita berkerudung biru muda.
Wanita itu terlihat cantik, walaupun di umur beliau yang sudah tidak
muda lagi. Ustadz hanif memperkenalkan kepada Kiara bahwa wanita itu
adalah ummi beliau. Kiara sudah menduga bahwa wanita itu adalah ibu
ustadz Hanif. Dari wajah beliau yang cantik tidak mengherankan beliau
memiliki seorang putra yang tampan seperti Ustadz Hanif. Kiara pun
mencium tangan ummi. Dan mereka pun memasuki rumah itu. Di sana terlihat
seorang laki-laki yang tidak terlalu tua sedang membaca koran di atas
sebuah kursi rotan. Beliau memperkenalkan Kiara pada orang yang
merupakan ayah beliau itu. Mereka pun terlibat dalam perbincangan
hangat. Dan disana kiara banyak mengetahui tentang Ustadz Hanif.
Terutama tentang Ustadz Hanif, yang sudah tidak memiliki ayah lagi,
sedangkan orang yang dianggap ayah itu adalah ayah tiri beliau. Dan
beliau adalah anak tunggal dari suami ummi terdahulu. Dan kiara juga
baru mengetahui ternyata dahulu ummi menikah dengan ayah ustadz Hanif
yang merupakan seorang muallaf tionghoa. Yang kemudian meninggal dunia
karena sakit ketika Ustadz Hanif berumur 10 tahun. Dan sekarang Ustadz
Hanif memiliki 2 Saudara tiri, anak kandung dari ayah tiri beliau dari
pernikahan terdahulu. Tapi saudara tirinya sudah berkeluarga semua.
Sedangkan dari pernikahan ummi dan ayah tiri beliau tersebut memilki 2
orang anak, satu orang perempuan yang sedang melaksanakan kuliah di
Malaysia dan satu orang laki-laki yang masih duduk di Aliyah di
Pesantren Darul Arafah, Sumatera Utara. Setelah melaksanakan shalat
zuhur berjama’ah di sana dan menikmati masakan ummi. Akhirnya Kiara
berpamitan pulang. Ummi memberikan oleh-olehkepada Kiara untuk diberikan
kepada orangtuanya di Tanjung Morawa. Kiara sangat senang menerimanya.
Kiara sangat senang sekali. Dan dia menilai keluarga Ustadz Hanif sangat
harmonis dan kompak. Kemudian Syafi’i dan Ustadz Hanif mengantarkan
Kiara pulang. Lengkap sudah kebahagiaan yang dia rasakan hari ini,
karena apa yang menjadi impiannya selama ini benar-benar akan terwujud.
Tidak henti-hentinya seulas senyuman manis menghiasi wajahnya.
Apakah Kiara benar-benar akan menikah dengan Ustadz Hanif????Apakah
Ustadz Hanif benar-benar mencintainya?????tunggu di bagian
selanjutnya...................
BERSAMBUNG KE BAGIAN 4…..
SEKERLIP CINTA DI BAWAH DERAI HUJAN
Diposting oleh
Unknown
|
Oleh : Era Puspita
(CERBUNG)
Bagian 1
Kiara melirik arlojinya, waktu sudah menunjukkan pukul 17.10 WIB. Dia
pun menoleh kearah jalan tidak terlihat tanda-tanda kedatangan sosok
yang dia tunggu sejak tiga puluh menit yang lalu. Halte yang pada
awalnya sepi, mulai di padati oleh orang - orang yang menunggu busway di
setiap sorenya. Kiara menggoyang-goyangkan kakinya yang terjuntai, dia
benar-benar gelisah, kekhawatirannya semakin bertambah setelah kembali
lagi ia melihat kearah kampus tidak ada juga terlihat orang yang dia
tunggu menampakkan diri. dia kembali membuka inbox pesan pada pesannya
tertulis jelas disana :
"kita bertemu di halte depan kampus pukul 5 sore, tapi jika bisa tunggu saya 30 menit sebelumnya"
Kiara menghela nafas, bukan karena ia kecewa atas keterlambatan orang
itu untuk menemuinya. tapi rasa risau, penasaran, dan bingung berkecamuk
didalam pikirannya. dia pun bertanya-tanya "ada apa sebenarnya Ustadz
Hanif ini ingin bertemu dengan saya disini, bukankah jika beliau
menginginkan laporan ini seharusnya beliau bisa bertemu dengannya
dikampus? apakah saya sudah melakukan satu kesalahan, sehingga beliau
tidak mau bertemu di kampus?lalu apa hubungannya dengan itu semua?
memang benar, penelitian ilmiah yang dia lakukan selama ini bersama
Ustadz Hanif cukup membuat terjadi kedekatan diantara mereka berdua.
Ustadz Hanif adalah seorang Dosen fiqh islam, di Pascasarjana Hukum
Islam di salah satu kampus terkemuka di kota medan ini. Beliau masih
muda, usia beliau hanya berselisih 6 tahun dengan kiara, dan dia adalah
satu-satunya dosen pascasarjana di kampus itu yang belum berumah
tangga. Tidak banyak yang tahu kenapa ia belum menikah, jika di lihat
dari fisik tentu tidak tepat jika itu alasannya, karena beliau adalah
seorang pria yang berdarah jawa-tionghoa, yang tentu saja dapat ditebak
seperti apa ketampanan yang beliau miliki itulah yang terpahat jelas
dari fisicly beliau. Dari sudut pandang karir dan ilmu, beliau termasuk
orang yang berhasil memperolehnya. Walaupun pada dasarnya tidak ada satu
pun manusia yang sempurna (kecuali rasulullah.pen), tapi jika di lihat
dari kriteria calon suami idaman wanita, maka akan banyak wanita yang
akan menunjuk kriteria seperti Ustadz Hanif Izzat ma’arif, Lc.M.Hi .
Apalagi beliau bukan tipe laki-laki yang bebas bergaul dengan banyak
wanita. Mungkin hal ini dikarenakan kesibukannya sebagai seorang dosen,
Ketua jurusan di salah satu jurusan pascasarjana di kampus itu, dosen
yang selalu haus dengan berbagai penelitian sekaligus seorang mahasiswa
Doktoral. Tapi yang jelas tidak ada satu pun yang tahu mengapa beliau
belum menikah dan terkesan cuek dengan wanita. Sehingga sebelum kiara
memiliki kejasama penelitian dengan beliau, kiara menganggap beliau itu
adalah dosen yang sangat arogan dan tidak nyambung sama sekali setiap
kali Kiara bertanya atau mendiskusikan sesuatu dengan beliau. Dan apa
yang terjadi hari ini merupakan suatu hal yang aneh pikirnya, Ustadz
Hanif menyuruhnya untuk menunggu di halte ini adalah sesuatu yang bahkan
tidak pernah terlintas sedikitpun di pikiran Kiara. Walaupun
hubungannya dengan beliau cukup dekat tapi itu hanya sebatas untuk
membahas penelitian saja tidak lebih. Walaupun Kiara sendiri yang sering
merasa gugup setiap kali bertemu denganbeliau. Tapi beliau selalu
bersikap biasa saja sebagaimana halnya sikap seorang dosen dan
mahasiswa. Kiara teringat satu kejadian ketika Ustadz Hanif keluar dari
mobilnya saat itu hari sedang hujan, di tangan beliau penuh dengan
tumpukan papper. Saat itu kiara sedang berjalan tidak jauh dari beliau
dan hanya memandang beliau saja tanpa ada usaha untuk membantu beliau,
apalagi meminjamkan payung yang sedang ia kenakan, sehingga ketika
beliau menyampaikan kuliah di kelas kiara. Ia menyampaikan kata-kata
seolah-olah untuk menyindirnya beliau mengatakan Bahwa sebagai seorang
manusia harus saling membantu baik laki-laki maupun perempuan contohnya
jika ada melihat seseorang dilanda kesulitan di saat hujan, apa salahnya
kita membantunya walaupun sekedar membantunya meminjamkan payung yang
ia kenakan. Kata-kata Ustadz hanif memang sangat tepat tertuju sekali
kepada dirinya, apalagi ketika menyampaikan hal itu beliau sempat
melirik ke arah Kiara . Kiara pun terdiam seribu bahasa dan pura-pura
tidak tahu. Beberapa hari setelahnya, kiara bertemu lagi dengan beliau
dalam kejadian yang sama, hujan deras pun turun ketika Ustadz Hanif
keluar dari mobilnya dengan membawa setumpuk pepper di tangannya, lalu
kiara mendekati beliau dan memayungi beliau. Ustadz Hanif kaget dengan
apa yang dilakukan oleh kiara tersebut, namun kiara tidak
memperdulikannya bahkan dia juga tidak peduli dengan bajunya yang
basah. Setelah sampai di depan kantor Jurusan Ustadz Hanif memandangnya
dengan heran.
“apa yang kamu lakukan?”tanya ustadz hanif
“saya
hanya tidak ingin ustadz kehujanan, maksud saya pepper yang ustadz bawa,
saya yakin sekali salah satu pepper itu adalah bahan penelitian yang
saya juga ikut terlibat mengerjakannya”jawab Kiara sambil sesekali
mengibaskan gaunnya yang basah.
“kemana lagi kamu setelah ini?”tanya Ustadz hanif sambil meletakkan Pepper di atas meja yang tidak jauh darinya.
“saya mau pulang lagi ustadz, saya harus cepat menuju halte karena busway nya pasti sebentar lagi akan lewat”ujar Kiara.
Ustadz Hanif membuka blazer yang ia kenakan, dan mengenakannya ke pundak kiara. Kiara terkejut dengan apa yang beliau lakukan.
“ap apa,,,,yang ustadz lakukan?”tanya kiara kikuk.
“apakah kamu mau bertemu dengan orang-orang di busway dengan pakaian
basah seperti itu?, setidaknya mereka tidak akan melihatnya” tukas
Ustadz Hanif
Kiara terdiam.
“Baiklah,,hati-hati di jalan,,
assalammu’alaikum” ucap beliau, kemudian belia mengambil pepper itu
kembali dan melangkah memasuki kantor,
“wa’alaikumussalam
warohmatullah”jawab Kiara gugup. Lalu matanya pun menyapu kesekeliling
tempat dimana ia berdiri. Dia takut kalau-kalau ada yang melihat
kejadian itu. Namun tidak ada terlihat ada siapa-siapa di sana.
Kiara menghela nafas lega. Jika ada yang lihat, dia takut akan ada spekulasi yang tidak baik dari orang-orang.
Kemudian di hari berikutnya, ketika ia sampai di gerbang kampus hujan
pun mengguyur derasnya. Tapi saat ini ia lupa membawa payung, sedangkan
ia harus cepat ke ruangan belajar karena ada kelas Sejarah Hukum Islam
dengan Ustadz Iqbal. Tiba-tiba seseorang yang mengenakan mantel hujan
memayunginya dengan payung yang ia kenakan. Kiara terkejut lalu di
lihatnya orang yang disampingnya itu, ternyata dia adalah Ustadz Hanif.
“karena saya tidak ingin merepotkan orang lagi maka saya membawa payung
sendiri sekarang dan anggap ini untuk membalas bantuanmu telah
memayungi saya waktu itu”ujar Ustadz Hanif dengan tenang.
Kiara
menjadi bingung, Ustadz Hanif menyadari kebingungannya. Lalu ia
memayungi Kiara dengan daerah yang teduh lebih banyak pada kiara,
sedangkan beliau mendapatkan bagian yang sedikit. Tapi payungnya lebih
besar ukurannya dibanding payung yang dimiliki kiara sehingga Payung
itu cukup melindungi tubuh beliau tapi karena jas hujan yang beliau
pakai membuat beliau tetap terlindung dari hujan. Ketika menuju ruangan
kuliah, Kiara benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya.
“terima kasih ustadz”ucap Kiara singkat sesampai nya di depan ruangan belajar itu.
“baiklah,,jangan lupa, bawa semua peppermu besok,assalammu’alaikum”tukas beliau sambil berlalu pergi.
“wa’alaikumussalam warohmatullah”jawab kiara dengan masih memasang
wajah bingung. Kiara menoleh ke kanan dan ke kiri tapi dilihatnya
koridor terlihat sepi hanya beberapa cleaning servis yang berlalu lalang
di sana. .
Ya itulah awal dari semua sikap aneh yang ditunjukkan
Ustadz Hanif kepada dirinya tapi ia tidak berani berpikir lebih jauh
mengapa beliau bersikap seperti itu, karena dia merasa dia bukan
siapa-siapa dia merasa Ustadz Hanif bersikap seperti itu karena dia
adalah orang yang baik bisiknya dalam hati. tiba-tiba ia merasakan
sesuatu terasa sesak di dadanya, dia pun meremas jemarinya sendiri,
entah kenapa perasaan gugup kembali menyelimuti dirinya. seketika
tatapannya pun tertunduk kebumi. Orang-orang semakin ramai memadati
halte itu. Waktu merambat semakin sore. tiba-tiba dia melihat sepasang
kaki berhenti di dekatnya. kiara menengadahkan pandangannya dan dia
melihat sosok yang dia tunggu telah berdiri di dekatnya. Kiara pun
tertegun sesaat. beliau tersenyum kepadanya. Kiara pun menjadi kikuk
dibuatnya.
"maaf sudah menunggu lama,"ujar beliau.
"iya Ustadz,
tidak apa-apa, hmmm,,ini laporannya...."tukas kiara dengan kikuknya
sembari menyerahkan sebuah berkas kearah beliau.
“luarbiasa,
ternyata kamu menyelesaikan laporan ini disini”ujar beliau sambil
membolak-balik laporan itu masih dengan wajah tanpa ekspresi apapun.
“saya kerjakan di rumah....Ustadz,”sela kiara. Ustadz Hanif duduk
disamping kiara, dengan meletakkan tas laptopnya di antara beliau dan
kiara. Kiara menoleh kearah ustadz hanif dan memperhatikan wajah beliau.
Lalu Cepat-cepat dia membuang muka kearah jalan dengan kikuk, ketika
beliau menoleh kearahnya.
“biar saya bawa laporan ini,,” ucap beliau sambil memasukan laporan itu kedalam tas laptopnya.
Kiara hanya memperhatikan tingkah ustadz hanif tanpa berani komentar
apapun. Dia tidak pernah sampai segugup ini, tidak seperti biasanya jika
dia berdiskusi mengenai penelitian dengan beliau dikampus atau ketika
sedang mengikuti kelas Fiqh Islam dengan beliau.
“Ada apa denganmu?kamu sakit?”tanya ustadz Hanif kepada kiara yang diam seribu bahasa.
“oh,,tidak , tidak apa-apa....hmmm boleh saya bertanya sesuatu, ustadz?”kiara berusaha mengalihkan pembicaraan.
“bertanya apa?”
Itu,,,kenapa ustadz tidak naik mobil seperti biasanya,,? Saya lihat ustadz selalu naik busway akhir-akhir ini?”
Apakah dengan naik busway, membuat saya menjadi pria yang kurang tampan?”
Kiara tertawa mendengarnya.. ustadz Hanif pun ikut tertawa pula. Dari
kejauhan Busway yang di tunggu pun semakin mendekati sisi halte.
Orang-orang semakin merepatkan diri ke pintu halte. Kiara pun
bersiap-siap sama seperti dengan yang lainnya.
“apakah kamu akan naik busway yang ini?”tanya ustadz Hanif
“iya., kenapa ustadz tetap duduk, ayo kita naik tunggu apa lagi”
“sepertinya busway ini bukan jurusan tempat tinggal saya...”ujar beliau.
Kiara mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
“baiklah ustadz saya mohon izin,,,ilal liqo’ assalammu’alaikum
wr.wb”ucap naya dan dia pun berbaur dengan kerumunan orang-orang yang
masuk kedalam busway yang telah berhenti tepat di pintu halte itu. Kiara
duduk dekat dengan jendela melihat kearah ustadz hanif yang masih
dengan santainya duduk sendiri di halte. Perlahan busway itu
meninggalkan halte, lalu ustadz hanif melemparkan senyum kerahnya dan
melambaikan tangannya kearah Kiara. Kiara tersenyum sendiri melihatnya.
Lalu dia tersadar ustadz hanif sebenarnya bukan sedang melambaikan
tangan, tapi dia sedang melambaikan sebuah ponsel yang sangat mirip
sekali dengan ponsel miliknya. Kiara pun mengaduk-aduk tas yang dia
bawanya, tidak ada ia menemukan ponsel genggamnya disana. Busway masih
terus melaju dengan kencang. Sedangkan kiara terus mencari-cari
Ponselnya. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke halte.
“pak tolong berhenti,tolong minggir pak, ....”seru Kiara panik kepada pengemudi Busway. Kemudian busway pun berhenti mendadak.
“maaf pak, saya meninggalkan ponsel saya di halte,biar saya turun
disini saja pak,sekali lagi saya mohon maaf” ujar Kiara panik.
Lalu
kiara pun turun dari busway itu, kiara setengah berlari menuju halte
yang sudah cukup jauh ditinggalkan oleh busway tadi. Dia teringat ponsel
yang digenggam oleh ustadz hanif tadi.apakah jangan-jangan itu memang
ponselnya. Didalam pikirannya dia benar-benar berharap itu adalah
ponselnya. Dengan panik dia berlari di trotoar menuju halte itu. Dia
tidak memperdulikan pejalan kaki yang menatap aneh ke arahnya.
Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika dia melihat ustadz Hanif berdiri di
trotoar. Dengan nafas yang masih tersengal-sengal dia menatap kearah
Ustadz Hanif yang tersenyum kesal kearahnya. Ustadz Hanif menyerahkan
ponsel berwarna silver itu kearahnya. Kiara mencoba mengatur nafas.
Dengan tersenyum lega dia menerima ponsel itu.
“alhamdulillah” ujar Kiara sambil memeluk ponsel itu.
“dasar ceroboh....”sungut Ustadz Hanif kesal.
“terima kasih ya ustadz,,,,”ujar Kiara
“iya sama-sama”jawab beliau dengan berlalu meninggalkan Kiara begitu saja.
“ustadz....satu lagi,,,!”seru kiara
Ustadz Hanif menoleh, “ada apalagi?”
“maafkan saya”
“untuk apa?”
“pertama karena saya ceroboh, kedua karena saya,,,,,,,,”
“karena apa?”
“ustadz meminta saya untuk menunggu di halte, itu membuat saya bertanya-tanya”
Ustadz hanif mendekati Kiara.
“apakah menurutmu, saya seperti seseorang yang membuat janji denganmu?”
“saya lihat seperti itu”
Darimana kamu mengetahuinya,,,?”
“dari penampilan ustadz...”
Ustadz Hanif memperhatikan penampilannya, baju koko yang di balut dengan blazer dan syal putih katun melingkar di leher.
“apakah ada yang aneh bukankah saya selalu berpenampilan seperti ini
setiap kali mengisi kuliah?”tanya beliau kepada Kiara yang tersenyum
geli melihatnya.
“gak aneh sih, Cuma kelihatan seperti mubaligh mau khutbah jumat,,”ledek Kiara.
Ustadz Hanif hanya tersenyum mendengarnya.
“ustadz mengapa mengajak saya bertemu di halte? apakah saya melakukan
hal yang mengecewakan ustadz sehingga ustadz tidak mau berjumpa dengan
saya di kampus?”
“pertanyaan kamu, tidak menunjukkan pertanyaan
dari seorang mahasiswa magister...”ujar Ustadz Hanif sambil meneruskan
langkahnya.
“tapi kenapa ustadz?” seru kiara. Suara kira membuat
Beberapa pejalan kaki di trotoar melihat kiara dengan aneh . Kiara pun
tersenyum kikuk kearah mereka, lalu mempercepat langkahnya mengejar
ustadz hanif, akhirnya dia pun berjalan disisi beliau.
“boleh saya tanya kenapa ustadz?”tanya Kiara penuh selidik.
“ada sesuatu, yang ingin saya bicarakan denganmu,,,”ujar beliau.
“mengenai.....?”tanya kiara masih dengan wajah penasaran.
“mengenai penelitian yang sedang kita kerjakan, kamu harus lebih
menyempurnakannya, dan saya ingin kamu mulai mentranslate
kalimat-kalimat itu kedalam bahasa inggris,,,,”terang beliau dengan
masih terus berjalan tanpa memandang ke arah kiara. Sedangkan kiara
memasang wajah kecewa,
“ ternyata Ustadz Hanif hanya ingin mengatakan itu” pikirnya.
Sayup-sayup terdengar alunan musik instrumental yang berasal dari
sebuah toko. Kiara mempercepat langkahnya mendahului ustadz Hanif, dan
ia pun berhenti tepat di depan estalase sebuah toko alat-alat musik.
Matanya tertuju pada sebuah biola yang dipajang disana. Ustadz hanif
menyusulnya, beliau berdiri di belakangnya, terlihat bayangan beliau
terpampang jelas dari kaca estalase toko itu. Terbayang olehnya, ketika
ia mengikuti less biola beberapa tahun yang silam. Namun itu tidak
berlangsung lama. Ketika ia harus disibukkan dengan urusan kuliah
sehingga ia harus meninggalkan alat musik yang sangat ia sukai itu.
“apakah kamu menyukainya...?” tanya Ustadz Hanif .
Kiara terdiam.
“saya menyukainya.....”ujar ustadz Hanif. Kiara tersenyum dengan tatapan yang tidak terlepas dari biola itu.
“ya semua orang boleh menyukainya, baik saya maupun ustadz”ucap kiara. Terlihat senyum tipis menghiasi wajah nya.
“Saya menyukai, tidak hanya barang berharga yang ada di dalam estalase itu, tapi juga sosok berharga yang ada di hadapan saya”
Kiara terkejut dengan ucapan beliau. Perlahan dia pandang wajah Ustadz
Hanif dari bayangan yang dipantulkan kaca estalase itu.
“menikahlah dengan saya,,”
Kiara terperanjat dengan kata-kata itu. Dia benar-benar tidak percaya
dengan apa yang baru saja di dengarnya. Dia menoleh ke arah Ustadz
Hanif. Dia pandang wajah beliau sekali lagi, terlihat jelas wajah beliau
yang tenang dan tidak ada tanda-tanda yang terlukis di wajah beliau
yang menyatakan bahwa beliau sedang bercanda apalagi berbohong. Kiara
benar-benar tidak tahu harus berbuat apa bahkan dia tidak mampu
mengatakan kata-kata apapun.
“ustadz,,apakah ini tidak terlalu
tiba-tiba?” Kiara berusaha mengalahkan kerisauannya. Lalu dia
menundukkan wajahnya yang masih tidak mampu menatap wajah beliau.
“sebaliknya saya berpikir,, saya terlalu banyak membuang waktu untuk
memulainya, saya ingin mengakhiri kesendirian ini dan mengisi sisa waktu
saya dengan seseorang,, yaitu kamu”
Ustadz Hanif mengeluarkan
sesuatu di dalam sakunya, sebuah kotak kecil berwarna jingga dan
memberikannya kepada Kiara. Dia hanya diam memandang dengan ragu kotak
itu, melihat keraguan tersirat dari wajah gadis itu, ustadz Hanif
menarik syalnya dan membalut tangan kirinya dengan syal tersebut dan
mengangkat tangan kanan Kiara dan meletakkan kotak tersebut di atas
telapak tangannya
“saya kira kamulah yang pantas mengenakannya...... “ ucap ustadz hanif kemudian.
Kiara membuka kotak itu dan dia melihat sebuah cincin. Dia pernah
mengetahui cincin itu sebelumnya, ketika beliau pernah kehilangan sebuah
cincin pemberian ibunya dan Kiaralah yang menemukan cincin itu di
antara tumpukan berkas penelitiannya. Airmatanya menetes membasahi
pipinya, tangisnya pun tidak bisa lagi dibendung, dia pun menutup
mulutnya seketika mencoba menahan sedu sedan yang ia rasakan. Antara
perasaan bahagia, tidak percaya bercampur menjadi satu dan semua itu
bergejolak di dalam hatinya.
“Apakah,,,saya sedang bermimpi Ustadz...?”tanya kiara mencoba menyakinkan dirinya.
Ustadz Hanif menggelengkan kepala dan tersenyum. Tiba-tiba hujan pun
turun, orang-orang dan pejalan kaki berlarian mencari tempat berteduh.
Kiara menatap lekat kearah ustadz Hanif, sedangkan mata beliau mengitari
di sekilingnya mencari tempat untuk berteduh. Kemudian beliau menarik
lengan Kiara dan mereka pun berlari menuju satu tempat untuk berlindung
dari hujan. Sayup-sayup terdengar lagu “cinta tanpa syarat” yang di
populerkan oleh Afghan yang mengalun dari toko tersebut :
Aku ingin terus,,,, ada di hatimu
Aku lelaki yang tak bisa mudah menggantimu
Meski pun diriku takut akan kelemahanmu
Ku takkan lari,,, karena cintaku sempurna
(bersambung...................
Langganan:
Komentar (Atom)






