RSS

In memoriam Ustadz Jeffry Al Buchori

In memoriam Ustadz Jeffry Al Buchori

Lirik Lagu Islami:

Ustadz Jeffry Al Buchori => Sepohon Kayu.

Sepohon kayu daunnya rimbun
Lebat bunganya serta buahnya
Walaupun hidup seribu tahun
Kalau tak sembahyang apa gunanya.

Kami bekerja sehari-hari
Untuk belanja rumah sendiri
Walaupun hidup seribu tahun
Kalau tak sembahyang apa gunanya.

Kami sembahyang Fardhu sembahyang
Sunnah pun ada bukan sembarang
Supaya Allah menjadi sayang
Kami bekerja hatilah riang.

Kami sembahyang lima lah waktu
Siang dan malam sudahlah tentu
Hidup di kubur yatim piatu
Tinggallah seorang di pukul palu.

Di pukul di palu sehari-hari
Barulah ia sadarkan diri
Hidup dunia tiada berarti
Akhirat di sana sangatlah rugi.

~~~
Selamat Jalan UJE semoga Amal Ibdahnya di terima di sisi Allah Ta'ala. Aamiin Ya Rabbal 'Alamiin..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kisah Nyata: Mayat Si Kecil Dalam Pelukan Ibudanya

"copy paste dari fans page strawberry"

Hari ini melelahkan sekali, aku harus berganti kereta sampai 2 kali, dari arah Depok menuju stasiun Kota, dari stasiun Kota nyambung lagi dengan kereta Patas arah Angke sampai stasiun Merak. Tapi karena jadwal kereta kadang tidak jelas, harusnya kereta Patas berangkat pukul 10 tapi jadi molor jauh tidak jelas pukul berapa kereta harus berangkat (mirip lagu Iwan Fals).

Sesaat aku duduk di gerbong yang tidak terlalu padat, disisiku ada seorang ibu yang menggendong anaknya sepertinya sedang terlelap. Karena jenuh menunggu kereta tidak berangkat-berangkat, akhirnya untuk mengusir rasa kejenuhan aku mencoba mengajak ngobrol ibu yang menggendong anaknya tepat disebelahku.

Aku : “Ibu, ini anak ibu?”
Ibu : “Iya, neng”. Menjawab dengan tanpa ekrspresi dan aku semakin penasaran.
Aku : “cantik ya bu, anaknya”. Terlihat sekali anak itu didandani dengan bedak dengan baju warna pink serta sedikit celak dimatanya.
Ibu : “Terima kasih, neng”. Masih tanpa ekspresi. Lalu ku lanjutkan pertanyaanku.
Aku : “Mau kemana, bu?”.
Ibu : “Ke daerah Rangkasbitung”. Sambil menyebutkan suatu daerah di Rangkasbitung.
Aku : “Wah, jauh ya bu”.
Ibu : “Iya, neng”. Masih dalam ekspresi tak jelas.

Kereta sudah 1 jam lamanya tapi belum jalan juga, katanya ada banjir di daerah Tanah Abang, otomatis perjalanan kereta sementara banyak yang tertunda.

Anak dalam pangkuan si ibu tadi masih dengan tenang dalam pelukan ibunya, padahal penumpang semakin sesak terasa tak nyaman dan mulai panas. Aku kembali penasaran kok bisa anak sekecil itu tetap tenang dalam keadaan kereta yang sangat panas tak ada penyejuk sekedar kipas angin saja.

Aku : “Bu, kok anaknya anteng ya..padahal panas gini”. Aku kembali membuka pembicaraan.
Tiba-tiba si ibu menangis….
Aku : “Bu, maaf…ada yang salah dengan kata-kata saya”. Tanyaku semakin penasaran.
Ibu : “Tidak, neng…ibu sedih sekali”. Dia sepertinya mulai membuka diri padaku.
Aku : “Kenapa sedih, bu?”.
Ibu : “Maaf, neng…tolong setelah ibu ceritakan semuanya jangan katakan pada siapapun, pada penumpang maupun kondektur. Neng, mau janji?”.

Aku sangat penasaran cerita apa yang akan disampaikan si ibu, sampai berpesan jangan sampai menceritakan pada penumpang kereta dan kondektur. Apa hubungannya mereka dengan si ibu ini.

Aku : “Insyallah, bu. Saya tidak akan menyampaikan kembali cerita yang akan ibu bagi pada saya”.
Ibu : “Terima kasih neng, sebelum dan sesudahnya.” Kemudian aku menyimak isi cerita si ibu.

Sudah satu minggu ini anaknya sakit panas tapi si ibu hanyalah pemulung yang mengais rizki lewat sampah-sampah yang berserakan. Penghasilan yang tidak menentu. Kalaupun dapat uang dari hasil menjual sampah plastiknya, itupun tak seberapa hanya cukup untuk makan. Dia tidak punya tempat tinggal tetap, kadang tidur di emperan atau di bawah jembatan layang.

Si ibu ingin sekali membawa anaknya ke dokter tapi dia tak memiliki uang, karena dia bukan warga DKI Jakarta dan tak memiliki KTP DKI jadi dia tidak mendapatkan jaminan apa-apa. Si kecil anaknya hanya diobati ala kadarnya tapi ternyata penyakitnya tak kunjung sembuh. Sampai subuh tadi akhirnya si kecil dalam pangkuannya meninggal dunia.

Setelah meninggalpun dia bingung, kalau harus dikubur di Jakarta, ongkos untuk menguburkannya pun dia tak punya cukup uang. Dan bila dia bawa ke kampungnya yang cukup jauh dari kota Jakarta dengan menggunakan mobil jenazah, itupun tak cukup ada uang, dibutuhkan uang sekitar Rp 1.000.000,-. Uang sebesar itu kata si ibu sangat besar dalam ukuran dia.

Akhirnya, lewat bantuan para gelandangan dan pemulung terkumpullah uang sebesar Rp 250.000,- uang sebesar itu cukup untuk membawa si kecil ke kampung halamannya dan dikuburkan disana yang tidak memakan biaya besar.

Aku benar-benar tercengat dengan penuturan si ibu, lalu atas seizin si ibu ku pegang tangan si kecil nan cantik dalam pelukan ibunya. Subhanallah…benar ya Robb, tangan mungil itu begitu dingin tak ada denyut nadi disana. Ku cium dengan lembut keningnya, amat dingin tak ada jiwa disana. Ya Robb, si kecil nan cantik itu tertidur damai dalam pelukan si ibu yang amat menyayanginya.

Aku tak dapat menahan haru, ingin rasanya ku peluk dia dan ibunya. Begitu sulitnya hidup ini sampai akhir hayatnya pun si kecil nan cantik itu tak merasakan keramahan negeri ini. Aku hanya terdiam dan menatap haru, sungguh ingin rasanya aku berteriak pada negeri ini.

Wahai penguasa nan congak dan sombong, lihat… ada rakyatmu yang begitu menderita. Terbelenggu dalam kemiskinan dan keangkuhanmu. Tak bisakah kau membuka mata hatimu, tetapi kepongahan terus menjalar dihatimu.

Si ibu, tak pernah meyalahkan siapapun dengan keadaanya, dia hanya mengatakan “ini takdir Tuhan”.
Kereta sesaat melaju, aku kini terdiam tanpa kata. Tak ada pertanyaan yang membuatku penasaran, kini sudah aku dapatkan jawaban dari keterdiaman si ibu dan indahnya tidur panjang si kecil nan cantik.

Selamat tidur nak, Allah bersamamu selalu dalam damai di surga sana.

Semoga bermanfaat bagi yang membacanya .....

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SEKERLIP CINTA DI BAWAH DERAI HUJAN "bagian 4"

(Bagian 4)

Hari itu merupakan pagi yang indah, keindahannya mampu menyejukkan embun yang menari lembut di kelopak dedaunan . Sesekali wajah pagi mengedipkan matahari yang mulai malu-malu menampakkan diri yang kerapkali berusaha menutup wajahnya dengan selembar awan putih namun kehadiran pangeran bumi, membuatnya tidak berdaya untuk menghindar sehingga matahari pun tersenyum cerah menghangatkan suasana ibarat kisah romansa sepasang pujangga cinta.
Kiara berputar-putar di depan cermin. Dia memperhatikan dirinya yang dibalut kebaya panjang yang ia pakai. Hari ini, ustadz Hanif akan datang untuk mengkhitbahnya (meminang-pen). Dia pun tersenyum melihat bayangan dirinya sendiri di dalam cermin. Tiba-tiba seorang wanita setengah baya, memasuki kamarnya.
“kiara-kiara,,bukannya masmu datang siap zuhur,,kok udah gak sabaran,,masih pagi-pagi udah siap-siapa pakai kebaya,”ujar wanita itu menggoda Kiara. kiara menjadi salah tingkah. Wanita yang ternyata ibunya itu, duduk di kursi depan meja rias, beliau pun tertawa melihat kelakuan putri bungsunya itu.
Kiara bergelayut manja di bahu ibunya. Dan memandang wajah ibunya dari cermin.
“ibu,,,,hari ini kiara bener-bener bahagiaaaaa banget, akhirnya sebentar lagi anak ibu ini akan menikah dengan pangerannya...”
“iya,,sebentar lagi,,kau pergi ninggalin ibuk sama bapak, ikut sama suami,,,akhirnya bapak sama ibuk udah kehilangan satu anak lagi”ujar ibu sambil mengelus kepala Kiara.
“ibu dengerin deh, kiara menikah bukan berarti kiara akan berpisahkan dengan ibu?apa perlu setelah kiara menikah nanti, kiara tetap tinggal di sini aja?”tanya kiara.
“hush ngawur kuwi,,,kalau orang udah nikah itu, suami yang menjadi panutan buat istri, ibarat pepatah jawa surgo nunut neroko katut, ngikut kemanapun suami pergi,mana bisa seenakmu sendiri,trus gak bisa juga masih manja kayak gini”omel ibu sambil menjewer lembut telinga putrinya itu.
“tapi walaupun kiara udah menikah , kiara gak kan biasa menghilangkan kebiasaan manja sama ibu kayak gini ..”ujar kiara. dia pun mencium lembut pipi ibu yang sangat dia cinta itu. Ibu tersenyum melihat kiara dari cermin.

Kesibukkan juga terlihat di rumah ustadz hanif.
Terlihat ummi, ayah dan Ustadz Hanif berkemas-kemas, mempersiapkan semua yan akan di bawah kerumah kiara.
“dimana syafi’i, ummi tidak ada lihat dari tadi?”tanya ummi sambil tetap merapikan beberapa bingkisan di depan beliau.
“dia pergi ke pasar bengkel tadi pagi, dia mengurus masalah pemasokan barang di kedai dodolnya”ujar ustadz ahanif sambil ikut merapikan bingkisan itu.
“ternyata syafi’i itu hebat ya, belum lagi tamat kuliah tapi udah jadi saudagar,,,”sela ayah
“iya,,bocah itu memang piawai untuk masalah dagang”sambung ustadz Hanif sambil tersenyum.
“oh iya,,hampir saya lupa mi, sebelum fi’i pergi dia ada menitipkan dodol, dia meminta untuk kita bawa ke Rumah Kiara dan lainnya untuk Ranti di malaysia”ujar ustadz hanif lagi. Ranti adalah adik sulung ustadz hanif dari pernikahan ummi dengan ayah tiri beliau. saat ini Ranti sedang mengenyam pendidikan S1 nya Di negeri jiran Malaysia.
“ternyata syafi’i itu perhatian betul ya sama si ranti,,sepertinya baru kemarin dia meminta kamu untuk membawakan dodol”ujar ummi. Ustadz hanif yang diajak bicara hanya tersenyum mendengarnya.
“ya wajarlah mi,,ranti kan udah dianggap seperti adinya sendiri oleh syafi’i malah dia juga lebih dekat dengan syafi’i daripada dengan hanif”sahut ayah tersenyum sambil melirik kearah hanif. Ustadz hanif tertawa renyah menanggapi perkataan ayah itu.
“gimana mau dekat sama hanif, wong kalau ketemu sama hanif suasananya jadi sepi seperti suasana di pemakaman pahlawan, mana cocok dengan ranti yang ributnya bukan main seperti pasar”tukas ummi.
“tapi saya akhirnya bersyukur juga pada gusti Allah, cah bagus ini akhirnya telah menemukan seseorang bidadari yang bisa melumerkan hatinya yang beku, lihat itu wajahnya sekarang, gak dingin lagi,, malah cerah seperti bulan purnama”goda ummi sambil mengusap-usap kepala putra yang paling disayanginya itu.
“sudah ummi,,,ayah,,,cukup ya, saya gak bisa bicara apa-apa lagi untuk menanggapinya”ujar ustadz hanif yang mulai menampakkan wajah malu.
“kalau begitu sekalian aja nif, ambil dodol itu biar yang untuk kiara kita bungkus bersama yang lainnya disini”pinta ummi.
Kemudian ustadz hanif pun melangkah menuju mobil beliau. Beliau pun membuka bagasi dan mengambil sebuah kotak berisi beberapa bungkus dodol beraneka rasa itu. Tiba-tiba ponsel beliau berbunyi. Beliau kesulitan mengambil ponselnya di saku kemeja beliau kenakan. Kemudian beliau letakkan kotak tersebut di atas bangku yang terletak di depan teras rumah. Terlihat nama sekretaris jurusan di layar ponsel beliau.
“assalammu’alaikum pak yamin...”salam beliau. Terdengar sahutan pak yamin dari seberang sana. Kemudian beliau pun terlibat pembicaraan singkat dengan pak yamin
“baiklah saya akan kesana...”ujar beliau mengakhiri pembicaraan, setelah mengucapkan salam beliau pun menutup ponselnya. Beliau mengambil kembali kotak itu dan bergegas masuk kedalam rumah.
“ummi,,tampaknya saya harus ke kampus dulu, insya Allah setengah jam kemudian saya akan pulang”terang beliau sambil meletakkan kotak berisi dodol itu di atas meja makan.
“lho,,bukannya nanti jam 1 kita harus sudah berangkat.?”tanya ummi heran.
“lebih baik kamu tunda dulu untuk urusan kampus hari ini hanif,.”sambung ayah..
“tapi pak yamin, menelepon saya dan terlihat ada urusan yang sangat penting, tidak sepertinya beliau meminta saya untuk datang seperti ini ”ucap ustadz hanif.
“tapi kamu harus cepat pulang,,jangan sampai kita terlambat datang kesana, kita tidak boleh memberikan kesan pertama yang tidak baik kepada keluarga kiara,,paham itu nak...”ujar ummi sambil menepuk bahu putranya itu. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 11 pagi. Sedangkan mereka sekeluarga akan berangkat ke Tanjung Morawa sekitar pukul 12.45 siang. Beliau menyambar jaket dan bergegas menuju ke mobil beliau. Kemudian Mobil toyota rush silver itu pun melaju dengan kencang menuju kampus.
Beberapa menit kemudian, beliau telah sampai di kampus. Beliau pun langsung menuju kantor jurusan, dari sudut koridor beliau melihat pak yamintergesa-gesa keluar dari kantor. Lalu ustadz hanif pun datang menhampirinya.
“assalammu’alaikum pak yamin”salam beliau kemudian
“wa’alaikumussalam,,”jawab beliau
“ada apa sebenarnya, apakah rapat bersama rektor akan dilaksanakan hari ini?”tanya beliau. Tapi pak yamin hanya memperlihatkan wajah diam. Dan menggelengkan kepala.
“mereka meminta saya untuk tidak menjelaskan,,, kenapa anda harus datang kesini...”ujar pak yamin.
“mereka? Mereka siapa maksudnya pak..?” tanya Ustadz hanif. beliau memandang pak yamin dengan tatapan tidak mengerti.
“dua orang perempuan dengan anak-anaknya, saya juga tidak kenal, ustadz lihat saja ya sendiri, sekarang saya sedang ada kelas , saya pamit dulu assalammu’alaikum”pamit pak yamin tersenyum. Dan berlalu pergi meninggalkan ustadz hanif yang masih dengan air muka penuh tanda tanya.
Perlahan beliau melangkahkan kaki menuju ruangannya. Dari bibir pintu langkah beliau terhenti ketika beliau melihat dua orang wanita berada di dalam ruangannya. Seorang wanita berkerudung biru tua yang tidak pernah ia kenal sebelumnya duduk di atas sofa sambil memangku bayi, tidak jauh darinya seorang wanita lainnya mengenakan jilbab yang hampir menutupi seluruh tubuhnya sedang duduk di atas kursi dengan menghadap kearah meja kerja beliau. Sehingga beliau tidak dapat melihat siapa wanita itu. Ketika beliau akan mengucapkan salam, Tiba-tiba seorang anak laki-laki kira-kira berumur 3 tahun datang dari sudut ruangan menghampiri wanita itu.
“ummi..haqqi bisa buat ni,,”seru anak itu sambil mengacungkan pesawat kertas dan menghampiri wanita itu.
Wanita tersebut membalikkan badan ke arah anak itu. Ustadz Hanif terkejut sekali ketika ia melihat, siapa wanita itu. Beliau terperangah melihatnya. Wanita itu pun tersadar, dia pun menoleh ke arah ustdaz hanif. Wanita itu pun tertegun memandang ustadz hanif. Tatapan mereka bertemu seperti yang pernah terjadi pada 4 tahun yang lalu. Seolah-olah membuka kembali tabir masa lalu yang penuh luka dan kepedihan.
Wanita itu menghampiri ustadz hanif.
“mas hanif,,,,,,,,”ucapnya lirih.
Ustadz Hanif diam tidak bergeming sedikit pun. Beliau benar-benar syok melihat wanita itu. wanita yang seharusnya sudah hilang dari kenangannya itu, mengapa harus hadir kembali di hadapannya. Dia adalah Wanita yang telah menghancurkan perasaan dan cintanya yakni Syafa Fadhilla Khudhori. Kini, Wanita itu memilki penampilan yang berbeda tidak seperti ketika terakhir kali beliau bertemu dengannya di maroko. Dulu dia berpenampilan seperti seorang muslimah kebanyakkan. Namun syafa yang berada di hadapan beliau saat ini terlihat lebih anggun dengan hijab yang jauh lebih sempurna di banding sebelumnya. Mungkin ini dikarenakan karena ia telah menikah dengan seorang suami dari keluarga salafiah. Ustadz hanif tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa berdiri mematung, ketika syafa melangkah semakin mendekat ke arah beliau.
“mas saya....”syafa tidak melanjutkan perkataannya. Ustadz hanif menatap tajam kearah syafa, syafa tak kuasa menatap beliau dia pun menundukan kepalanya.
“ma-maafkan saya,,,”suara syafa terdengar terbata-bata, terlihat wajah penuh penyesalan di raut wajahnya. Ustadz hanif masih diam dengan ekspresi kosong. Susana hening sejenak. Wanita berkerudung biru yang sedang menggendong bayi itu menggandeng anak laki-laki tadi untuk mengajaknya keluar dari ruangan itu. melihat hal itu, ustadz hanif menghela nafas perlahan.
“kita bicara di luar....”ujar ustadz hanif dingin. lalu beliau melangkahkan kai meninggalkan ruangan itu, dengan patuh syafa mengikuti beliau sedangkan wanita yang satunya lagi memandang mereka dengan diam lalu dia tetap tinggal dalam ruangan bersama bayi dan anak laki-laki itu.
setelah sampai di sebuah gazebo yang tidak jauh dari ruanagan kantor beliau, ustadz hanif menghentikan langkahnya. Suasana tampak lengang hanya kicauan burung yang melantunkan senandung hari di ujung pagi. Namun tampaknya senandung itu, mengalun disaat yang tidak tepat. ustadz hanif menggenggam dada beliau. masih terasa perihnya luka menyesaki rongga dada. luka yang teramat dalam yang masih membekas di hatinya.
“apa yang kamu lakukan disini?”tanya beliau. Beliau pun menoleh ke belakang, menatap dingin ke arah wanita itu.
“maafkan saya mas,saya benar-benar telah melakukan dosa besar di hadapan mas, atas kesalahan saya di masa lalu..”ucap syafa, suaranya terdengar bergetar. Syafa menghela nafas, dia berusaha menguasai dirinya di depan ustadz hanif. Dia melanjutkan kata-katanya kembali.
“dulu, saya tidak berniat untuk meninggalkan mas, itu semua saya lakukan dengan terpaksa karena tuntutan orang tua saya agar saya menikah dengan laki-laki lain”
Ustadz hanif membuang tatapannya. Untuk beberapa saat dia masih terdiam.
“itu semua sudah tidak ada lagi hubungannya dengan saya, hal itu sudah saya anggap sebagai masa lalu, dan tidak perlu di ungkit-ungkit kembali..”sahut beliau.
“apakah sekarang mas, masih membenci saya?sedangkan sekarang ini saya tidak tahu harus mengadu kepada siapa lagi, di setiap kali saya memohon petunjuk kepada Allah, hanya mas yang memenuhi pikiran saya, karenanya, saya putuskan untuk mencari mas, karena saya yakin hanya mas yang dapat membantu saya dalam situasi ini, sya yakin ini adalah jawaban Allah untuk saya...”ujar syafa, isak tangisnya pun mulai terdengar.
Ustadz hanif tertegun mendengarnya,
“Apa maksud kamu?”tanya beliau. Beliau pun menoleh ke arah syafa.
Syafa pun menangis .
“saya sekarang telah bercerai dengan suami saya, mas”
Ustadz hanif terkejut mendengarnya. Air mata syafa pun bercucuran di sudut matanya, dengan lemah ia menatap wajah dingin ustadz hanif.
“bagaimana bisa saya dapat bahagia dengan sebuah pernikahan jika selama ini dia telah banyak melakukan tindakankasar dan semena-mena terhadap saya dan anak-anak, ternyata perkiraan keluarga saya selama ini terhadap dia adalah salah ternyata dia bukan figur seorang suami atau seorang ayah yang baik untuk keluarga saya”ujar syafa masih dengan isak tangisnya.
Ustadz hanif hanya diam membisu. Lalu beliau menghela nafas
“saya tidak ada hak,,untuk ikut campur dalam rumah tangga orang lain apalagi harus mendengarkan sebuah aib rumah tangga yang seharusnya tidak boleh diceritakan kepada orang yang tidak memiliki kepentingan disana, bahkan Allah sangat melaknat akan hal itu”ujar beliau tanpa menatap sedikit pun kearah syafa.
“sekarang saya tidak punya banyak waktu, saya tidak ingin pembicaaan kita disini menyebabkan fitnah bagi orang lain yang melihatnya sedangkan saya hari ini harus malangsungkan pertunangan”
Pertunangan?”tanya syafa tidak percaya.
“ karena itu saya tegaskan kepada kamu , sebagai seorang wanita baik-baik, tentu kamu sangat menyadari bukan? pantas atau tidak kamu bersikap seperti itu kepada seorang laki-laki yang ajnabi, terlebih lagi laki-laki ajnabi itu akan menikah, saya yakin kamu juga sangat memahami bagaimana menjaga marwah dan harga diri. silahkan kamu meninggalkan kampus ini dan kembalilah ke pekanbaru kemudian selesaikan persoalan rumah tangga yang kamu alami dan jangan berharap apapun lagi kepada saya, karena saya tidak ingin terlibat dalam sebuah masalah yang saya tidak ada kepentingan disana ”terang beliau, beliau pun membalikkan badan dan berlalu pergi.
“mas hanif!!!”seru syafa. Ustadz Hanif menghentikan langkah beliau.
“saya mohon,,tolong mengertilah dengan keadaan saya ini,,,”ujar syafa dengan suara terisak. Ustadz hanif tidak bergeming. tanpa berbalik sedikit pun, beliau melanjutkan langkah meninggalkan wanita itu. namun syafa mengejar beliau dan berlutut di hadapannya.
“apa yang kamu lakukan? Cepat kamu berdiri”ujar ustadz hanif panik. Syafa menangis lalu dia menundukkan wajahnya.
“tidak mas,,saya tidak akan pergi dari tempat ini,saya akan lakukan apapun, jika perlu saya akan mencium kaki mas, jika itu bisa membuat mas dapat mengerti apa yang saya alami saat ini,saya benar-benar membutuhkan bantuan mas, karena mantan suami saya akan membawa anak-anak saya ”ujar syafa, terasa sekali syafa yang mencoba menahan isak tangisnya dari gemetar suaranya.
“selain itu bukankah dulu mas pernah berkata kepada saya walaupun pada akhirnya kita tidak berjodoh, mas tidak akan membiarkan saya menghadapi masalah saya sendiri, mas tidak akan tinggal diam saat saya menderita apalagi hingga saya mengalami masalah keretakkan rumah tangga seperti ini dan saya juga sangat mengenal siapa Hanif Izzat Ma’arif ,,dia bukanlah seorang pengecut dan munafik, sehingga dia tidak akan melupakan begitu saja apalagi menjadi orang yang tidak komitmen dengan apa yang pernah dia katakan ”tutur syafa , wajahnya masih tertunduk menatap kedua kaki ustadz hanif.
“karena itu,,,saya datang kesini untuk menagih apa yang pernah mas katakan itu.....”lanjut syafa, perlahan dia mengangkat wajahnya memandang ustadz hanif.
Ustadz Hanif termanggu mendengar penuturan syafa. tatapan beliau yang kosong seolah-olah menerbitkan ribuan kata kebimbanganyang semakin berkecamuk di kepala beliau. di dalam hati, Beliau pun membenarkan apa yang dikatakan syafa, bahwa beliau dulu memang pernah mengatakan hal itu kepadanya, tapi saat itu beliau tidak pernah berpikir jika perpisahannya dengan syafa berakhir dengan cara yang begitu menyakitkan. Namun kini keadaanya telah berubah karena rasa sakit itu beliau mengenang syafa sebagai seorang yang menebarkan luka yang sangat dalam di hatinya. Diam-diam beliau menyesali apa yang pernah beliau katakan dulu, sebuah perkataan terkesan sepele, tidak penting, dan kata-kata yang hanya mengikuti emosi sesaat saja, sedangkan beliau sendiri tidak bisa menjamin apakah beliau benar-benar bisa memenuhinya.tapi ustadz hanif bukanlah tipe seorang yang tidak bertanggung jawab dengan apa yang pernah beliau katakan. Sekarang beliau kembali terdiam, hanya itulah yang bisa beliau lakukan saat ini. Hati beliau pun dengan pilu mengadu “ya Allah...apa yang harus hamba lakukan...”
Perlahan Beliau pun memandang syafa yang masih berlutut di hadapannya. Dan bertanya
“apa yang harus saya lakukan untuk membantumu?”
Syafa terhenyak seketika mendengar pertanyaan ustadz hanif itu, dia memandang beliau dengan tatapan tidak percaya.

Ku takkan pergi bila kau anggap aku ada
Hanya mencintamu pun aku bisa
Takkan ku sesali hidup tanpamu aku bisa
Akan hanya cinta yang ku bawa pulang (kau anggap apa-ungu)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SEKERLIP CINTA DI BAWAH DERAI HUJAN.. bag 5

manakala hati menggeliat mengusik renungan
mengulang kenangan saat cinta menemui cinta
suara semalam dan siang seakan berlagu
dapat aku dengar rindumu memanggil namaku
saat aku tak lagi disisimu ku tunggu engkau di keabadian

aku tak pernah pergi selalu ada di hatimu
engkau tak pernah jauh selalu ada di hatiku
sukmaku berteriak menegaskan ku cinta padamu
terima kasih pada maha cinta menyatukan kita
saat aku tak lagi di sisimu ku tunggu kau di keabadian
(CINTA SEJATI- BCL ost habibie ainun)

♥ BAGIAN 5 ♥

Dengan risau Kiara mondar-mandir di depan kamarnya. Saat itu penampilannya sangat anggun sekali dengan kebaya biru muda yang dia kenakan, senada dengan jilbab yang terpasang dengan cantik semakin membuatnya terlihat sangat ayu bak putri keraton.
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Namun tamu penting yang di tunggu dari tadi tidak kunjung tiba.
tiba-tiba terdengar ucapan salam dari teras rumah.
“assalammu’alaikum,,,”
“wa’alaikumussalam”sahut Bapak di ikuti oleh beberapa orang yang telah berkumpul di ruang tamu.
Orang itu memasuki ruang tamu, ternyata dia adalah syafi’i. Kemudian dia duduk di sisi bapak. Kiara dan dua orang temannya mengintip dari balik tirai kamar.
“hei cah-cah gadis, ngintip-ngintip kayak gitu,,,,,orah ilok(pantang-pen),,,”tegur ibu yang tiba-tiba saja hadir diantara mereka.
Kiara langsung beringsut masuk ke dalam kamar, sedangkan kedua temannya terlihat bercakap-cakap dengan ibu di luar. Kiara benar-benar cemas saat itu, dia meremas sendiri jemarinya dengan gelisah. dia juga sangat penasaran apa yang di sampaikan syafi’i kepada bapak, ini pasti berkaitan dengan keluarga ustadz hanif yang tidak kunjung datang, kemudian dia membuka jendela kamarnya yang menghadap kearah halaman rumah. Dia melihat syafi’i di antar oleh ayah dan ibu keluar rumah. Dan terdengar percakapan mereka.
“itulah pak, saya juga tidak tahu kenapa ustadz hanif tidak ada kabarnya dari tadi, di telepon gak di angkat-angkat tadi sempat di cari juga ke kampus juga tidak ada, tadi sebenarnya pak Siswoyo (Ayah Ustadz Hanif-pen) yang mau datang kesini tapi kondisi beliau tidak memungkinkan untuk datang, jadi kebetulan saya pulang dari bengkel langsung ditelepon sama beliau untuk mengatakan ini kepada bapak, ya kami akui ini benar-benar situasi yang sangat tidak mengenakkan dan kami benar-benar sangat mengecewakan bapak dan keluarga, sekali lagi kami benar-benar mohon maaf”ujar syafi’i.
Bapak menepuk bahu syafi’i.
“ya sudah,,kami dapat maklum, kami yakin ini pasti bukan keadaan yang disengaja, malah sekarang kita yang khawatir ada apa dengan nak hanif, sampai tidak ada kabarnya seperti itu...”
Tiba-tiba terdengar suara nyaring handphone syafi’i, raut wajahnya terlihat sumringah
“ustadz hanif.....”bisiknya kepada bapak dan ibu. lalu dia angkat telepon itu.
“assalammu’alaikum ustadz,,,,”tampak syafi’i sedang mendengarkan ucapan ustadz dari seberang sana.
“gimana? Rumah sakit?”wajah syafi’i berubah panik, bapak dan ibu juga panik mendengarnya.
“halo-halo...ustadz”terdengar suara koneksi yang terputus begitu saja dari handpone syafi’i.
“itu tadi nak hanif kan?kenapa dengannya?”tanya ibu dengan panik.
“saya tidak yakin....” gumamnya. syafi’i diam termanggu dengan raut wajah bingung.
“ada apa sebenarnya dengan ustadz?”tanyanya dalam hati.
“nak hanif...”ibu membuyarkan kebingungan syafi’i.
“pak, ibu saya pamit,,saya harus memastikan dulu dimana ustadz hanif dan apa yang terjadi sebenarnya,,dan sekali lagi atas nama keluarga beliau kami mohon maaf”ujar Syafi’i sambil menyalami bapak dan ibu. tanpa basa-basi, syafi’i bergegas menuju sepeda motornya dan tancap gas meninggalkan kediaman kiara tersebut.
“ibuk,,,,,kiara tidak ada di kamarnya.....”tiba-tiba terdengar suara Anggi salah satu teman Kiara. ibu terkejut mendengarnya. `
“kiara...kemana dia?”
dengan setengah berlari bapak dan ibu menuju kamar putrinya itu. disana mereka hanya melihat kerudung berikut aksesorisnya tergeletak di atas ranjang.
Di tengah keributan halte tempat penantian bus kota. Kiara menunggu bus kota yang biasa menuju ke kampus dengan harap-harap cemas. Dia memang nekat meninggalkan rumah begitu saja, setelah mendengar kata-kata rumah sakit. Dia khawatir terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada Ustadz Hanif. Dengan kebaya biru dan kain panjang yang dia kenakan cukup menarik perhatian orang-orang yang juga sedang menanti bus di halte itu. sesekali ia memperbaiki letak sandalnya, dia baru menyadari bahwa dia masih menggunakan sandal berhak tinggi. Orang-orang ada yang saling berpandangan heran karena melihat penampilan kiara, tapi karena pada dasarnya kiara adalah orang yang sangat cuek, membuat keadaan itu tidak mengganggunya sama sekali apalagi dalam keadaan seperti ini tidak ada waktu baginya untuk peduli dengan perhatian orang-orang kepadanya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, terlihat di layar ponselnya dengan nama kontak “Bapak”. Kiara mengangkat ponselnya.
“Bapak,,,maafin kiara, kiara benar-benar panik dengan ustadz, saya harus menemuinya, jangan khawatir,,saya tidak apa-apa pak,,saya akan segera pulang ,
Iya......assalammu’alaikum”dengan cepat gerakan tanganya menutup ponselnya ketika dia melihat bus kota mulai merapat ke sisi halte. Kiara pun sampai juga di dalam bus, tapi bus itu full dengan penumpang tapi untungnya dia mendapatkan tempat di dekat pintu. Beberapa menit kemudian seorang wanita tua naik kedalam bus. Tapi nenek itu tidak mendapat kursi, dia pun ikut berdiri dengan yang lainnya berdiri dengan orang-orang yang idak mendapatkan kursi. Melihat hal itu kiara berdiri dan meminta wanita itu, untuk duduk di tempatnya. Akhirnya Kiara berdiri seperti yang lainnya. Lalu tangannya masih sibuk dengan ponselnya. Berkali-kali dia menghubungi ustadz hanif tapi hanya suara operator yang menjawab panggilannya , menandakan ponsel beliau tidak aktif. Tiba-tiba bus kota berhenti mendadak di depan sebuah halte, semua penumpang kaget karenanya. Sehingga ponsel kiara jatuh dari tangannya. Kiara pun mencoba mencari-cari diantara kaki para penumpang yang sedang berdiri. Tapi dia melihat ada tangan lain mengambil ponsel itu. kiara mengira orang itu membantu mengambilkan ponsel itu untuknya. Ternyata tidak, orang itu ikut turun dengan penumpang lain di halte itu. kiara terkejut melihatnya. Apalagi setelah melihat orang itu tersenyum dengan temannya yang telah menunggu di halte dengan memperlihatkan ponselnya itu. ketika kiara akan berusaha turun dari bus, bus itu perlahan beranjak meninggalkan halte itu. serta merta kiara pun berseru menghentikan bus itu. dengan tergesa-gesa dia turun dari bus dan berlari menuju ke halte. Tapi setelah sampai di halte itu, dia tidak lagi menemukan dua orang laki-laki itu . dia bertanya kepada orang-orang yang berkumpul di halte, tapi jawaban mereka hanya gelengan kepala saja. dengan sedih dia duduk di kursi penantian halte. Dia meremas ujung kebayanya.
“aku gak boleh sedih,,,,itu hanya ponsel aku bisa mendapatkannya kembali,ustadz hanif jauh lebih penting”serunya dalam hati. Lalu dia pun meneruskan perjalanannya menuju kampus. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 sore. Dia merasa yakin kampus pasti telah tutup, tapi besar harapannya dia bisa mendapatkan informasi tentang beliau disana. Dengan terburu-buru kiara melangkah ke sisi jalan tapi dia merasakan sakit di daerah kakinya, ternyata sandalnya itu membuat jemari kakinya memar. Namun dia tidak memperdulikan hal itu dengan langkah yang tertatih dia menghentikan angkot dengan jurusan ke arahkampusnya.
__________________________________________
Mobil toyota rush berwarna silver itu memasuki halaman rumah klasik-minimalis yang terdapat di jalan kesawan – Medan itu. bertepatan dengan itu, syafi’i menyusul dengan motor satria nya dari belakang mobil. Dia membuka helmnya, dan memandang dengan heran kearah mobil itu. Ummi dan Pak Siswoyo tergopoh-gopoh menuju ke halaman rumah menyambut kedatangan ustadz hanif. Ustadz hanif keluar dari mobilnya kemudian beliau membuka pintu mobil dan keluarlah seorang wanita menggendong bayinya dan disusul wanita lain yang menggendong seorang anak laki-laki. Syafi’i, ummi dan ayah terkejut melihatnya.
“hanif,,,ada apa ini? Diakan......”tanya ummi bingung melihat hal itu. syafa yang menyadari tatapan heran dari keluarga ustadz hanif itu, hanya bisa diam dan tertunduk tanpa berkata-kata apapun.
Ustadz hanif terdiam sejenak.
“ummi ,, bayi syafa tadi terkena demam tinggi jadi saya membewanya ke rumah sakit, dan ponsel saya low bate jadi tidak bisa menjelaskan lebih banyak”imbuh beliau.
“lalu...”ummi tidak melanjutkan kata-katanya, karena tiba-tiba saja bayi yang di gendong syafa menangis.
“saya mohon,,syafa bisa tinggal di sini dulu mi, untuk malam ini,,, insyaAllah besok siang dia akan kembali ke Pekanbaru...”ujar ustadz hanif.
Syafa menghampiri ummi dan mencium tangan beliau. ummi hanya diam melihatnya.
Ummi memandang Syafi’i dan ayah, ayah menganggukkan kepala kepada ummi.
“ya udah..ayo kita masuk dulu....”ujar ibu, lalu mengantar syafa, dan baby sister nya itu ke kamar tamu.
Ayah memandang hanif dengan diam, lalu menghampiri ustadz hanif dan menepuk bahu beliau, kemudian masih dalam diam beliau meninggalkan ustadz hanif yang terlihat murung di wajahya. Syafi’i menghampiri beliau.
Syafi’i tidak ingin berbicara banyak dengan beliau. karena dia sangat menyadari orang yang sudah dia anggap seperti abangnya sendiri itu sedang mengalami suatu hal yang berat, sehingga dia mengurungkan niatnya untuk bertanya banyak hal kepada beliau. apalagi dengan melihat kehadiran syafa tentu hal itu menyimpan beribu pertanyaan di benak syafi’i.
“ustadz....kita harus mencari syafa, dia kini sangat mengkhawatirkan ustadz,,”ujarnya kemudian. Sepintas Ustadz hanif terkejut mendengarnya, serta merta beliau pun masuk kedalam mobil di ikuti syafi’i.
Syafi’i mengambil posisi di belakang setir. Dia melirik ustadz hanif yang mengusap wajah nya, tergambar jelas kerisauan bercampur rasa bersalah yang begitu dalam terlihat di wajah beliau. mobil itu pun melaju meninggalkan rumah itu

Kiara duduk termanggu di sisi kantor jurusan. Dia tidak mendapatkan informasi apapun tentang ustadz hanif disana. Dia pun beranjak bangkit meninggalkan teras kantor menuju mushalla ketika terdengar kumandang azan magrib. Beberapa menit kemudian dia pun berjalan dengan gontai menuju halte. Halte itu tampak sepi, dia kembali duduk di penantian bus sesekali ia meremas ujung kebayanya. Saat ini dia masih menkhawatirkan ustadz hanif. Kata-kata rumah sakit memang cukup menjadi hal yang menakutkan buatnya.
Sedangkan ustadz hanif dan syafi’i kembali melintasi kota setelah selesai melaksanakan shalat di masjid setempat.
“kemana kita mencarinya lagi ustadz?”tanya syafi’i dengan mata yang masih fokus menatap jalan di depannya.
Ustadz hanif memainkan touch screen ponsel beliau.
“belum ada kabar dia pulang ke rumah”ujar beliau kepada syafi’i.
“ustadz ada menghubungi orangtua kiara?”tanya syafi’i.
Ustadz hanif melemparkan pandangannya kesisi jalan.
“iya,,bahkan mereka juga sangat mengkhawatirkan saya,,sehingga saya tidak sanggup untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya”
Beliau masih menatap sisi jalan. Masih dengan pandangan kosong. Lampu-lampu jalan berwarna-warni yang menyemarakkan kota tak mampu menarik beliau. beliau hanya diam seribu bahasa entah pikiran apa yang berada di benaknya.
“saya tahu,,dimana dia sekarang...”ujar beliau tiba-tiba.
“putar balik saja kita ke kampus”pinta ustadz hanif. Tanpa bertanya syafi’i pun langsung memutar balik setir dan menuju ke kampus.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan kampus, ustadz hanif meminta syafi’i menghentikan mobil, ketika mereka sampai di halte depan kampus. Dari seberang jalan Tampak seorang gadis berkebaya biru duduk termenung menunggu bus kota di halte . Ketika ustadz hanif membuka pintu. Tiba-tiba saja bus kota merapat di halte, lalu gadis itu naik ke dalam bus tersebut.
Ustadz hanif masuk lagi ke dalam mobil dan meminta syafi’i untuk mengejar bus itu. tidak lama kemudian mobil itu pun tepat berada di belakang bus itu. dengan lihai syafi’i memotong bus itu dan mendahuluinya. Ustadz hanif memintanya untuk berhenti dan di turunkan di halte yang tidak jauh di depan mereka.
“nanti saya hubungi lagi kamu....”ujar ustadz hanif setelah sampai di halte yang di tuju.
“oke ustadz,,saya duluan,,assalammu’alaikum”ucap syafi’i setelah di jawab salam oleh beliau. syafi’i pun meninggalkan ustadz hanif seorang diri di halte itu.
Perlahan bus kota yang di tunggu pun datang. Ustadz hanif pun berdiri menyambut bus itu. bus itu merapat di sisi halte, dengan sigap beliau pun naik ke dalam bus. Bus beranjak meninggalkan halte itu. ruangan bus terlihat lengang, hanya beberapa orang nampak di sana. Mata beliau mencari di mana kiara. pandangan beliau pun berhenti pada seorang gadis yang tertidur sendiri di kursi memanjang terletak di bagian paling belakang bus. Dengan tenang beliau menghampirinya. Lalu beliau duduk di sampingnya. Ditatap kembali kiara yang terlihat lelah, memiringkan wajahnya ke arah beliau dengan mata terpejam.
Ustadz hanif menarik syal putih yang beliau kenakan, dan beliau selimutkan ke tubuh kiara. kiara tidak bergeming, dia masih terlihat pulas dalam tidurnya. Beliau menatapnya lagi, lalu beliau pun membuang tatapan beliau ke depan bus, perasaan bersalah masih menggelayut di hati beliau. terbayang kembali di dalam ingatan, bagaimana sebelumnya beliau bisa dekat dengan syafa hingga beliau memiliki hati untuknya, walaupun pada awalnya di mata beliau kiara sama dengan gadis yang lain, samasekali tidak memiliki keistimewaan apapun didalam hati beliau. jika bukan karena kerja sama penelitian yang merupakan awal kebersamaan mereka, mungkin beliau masih sulit untuk dekat apalagi hingga membuka hati untuk seorang gadis. Seketika kembali terbersit dalam ingatan tentang pertemuan beliau dengan syafa hari ini.
“sadarlah....syafa adalah masa lalu,,”tegas beliau dalam hati. Kembali beliau melirik kearah Kiara. gadis itu masih terlelap. tiba-tiba tanpa sadar kepala kiara bergerak ke arah bahu beliau. beliau pun tertegun ketika kepala kiara telah menyentuh bahu beliau. beliau menoleh kearah kiara. namun gadis itu tetap terlelap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Menyadari akan hal itu beliau pun berusaha untuk membangunkannya, perlahan beliau mengangkat tangan kanan beliau dan mengarahkannya ke kepala kiara. Ketika tangan beliau akan menyentuh kepala kiara, melihat wajah lelah kiara, beliau pun mengurungkan niat. Ditariknya kembali tangan beliau , dan kembali membuang pandangannya ke depan bus. Sedangkan kepala kiara masih tetap bertumpu di bahu beliau.
Suara tape recorder dari bus mengalun lembut memutar sebuah lagu yang mengingatkan beliau saat terakhir kali beliau mengungkapkan perasaan beliau di tengah hujan waktu itu kepada Kiara.
Aku belajar mencintaimu mencintai tanpa syarat apapun
Meski engkau yang tersulit untukku tapi ku tak ragu
Kini kita semakin jauh bahkan sulit utk kembali
Kuberi semua yang ada padaku tanpa syarat apapun

Aku ingin terus ada di hatimu,,,
Aku lelaki, yang tak bisa mudah menggantimu
Meski aku takut akan kelemahanmu
Kutakkan lari karena cintaku sempurna....

Beberapa menit kemudian tiba-tiba Bus berhenti mendadak karena menurunkan seorang penumpang. Saat itu pula, kiara terbangun dan dia sangat terkejut, ketika menyadari kepalanya sedang bertumpu di bahu seseorang. Dia pun cepat-cepat mengangkat kepalanya dan membenarkan posisi duduknya.
“maaf...maafkan saya,,saya tidak sengaja,,,,”ujarnya dengan panik.
Orang yang berada di sampingnya hanya terdiam, dengan panik bercampur malu kiara pun menoleh ke arah laki-laki itu. dia terperanjat.
“ustadz...?!!!...”serunya.
Beliau menoleh dan melempar senyum kepada kiara.
“ustadz...ini benar ustadz?,saya tidak sedang bermimpikan?apakah ustadz baik-baik saja?”tanya kiara panik dan berusaha menyakinkan dirinya. Saking paniknya hingga dia tanpa ia sadari dia memegang tangan beliau. ketika ia merasakan bahwa dia memang tidak mimpi. Terlihat raut wajah lega terlukis di wajahnya.
“ya Allah,,alhamdulillah, syukurlah,,,,ternyata saya tidak sedang bermimpi,,,”ujar kiara dengan wajah berseri-seri. Lalu dia melirik ke arah tangannya yang masih memegang tangan beliau, baru ia menyadari apa yang ia lakukan cepat-cepat dia menarik tangannya. Ustadz hanif masih diam seribu bahasa melihat tingkah kiara. beliau menatap kiara yang masih tersenyum lega dan beliau pun berujar
“ki...maafkan saya,saya tidak bisa ....”
“ustadz,,,jangan katakaan apapun,,ustadz baik-baik sajakan?saya takut terjadi sesuatu pada ustadz..,”potong kiara sambil menatap ke arah ustadz hanif. Wajah kiara terlihat gelisah.
Ustadz hanif menggelengkan kepala. Kiara tersenyum lega. Wajahnya terlihat berseri-seri seolah-olah tidak memperdulikan apa pun yang dia alami selama seharian itu. bus itu pun terus melaju.
Beberapa saat kemudian mereka pun sampai di tanjung morawa. Mereka pun turun dari bus itu, dan berjalan beriringan. kiara masih menatap ustadz hanif dengan wajah berseri. Ustadz hanif menoleh ke arah kiara. kiara tersenyum kepada beliau dan dia pun menoleh ke arah jalan yang berada di depannya.
“tahukah ustadz...saya benar-benar sangat bersyukur sekali,,,saya seperti merasakan sebuah kebahagiaan yang tidak terhingga, melihat ustadz baik-baik saja” ujar kiara dengan matanya yang masih tertuju dengan jalan yang cukup ramai di lalui oleh pengguna jalan. Ustadz hanif masih diam, tatapannya juga tertuju ke depan, seolah-olah beliau kehilangan kata-kata yang harus beliau ucapkan pada kiara. beliau melihat kiara yang berjalan sedikit pincang
“kenapa dengan kakimu?”tanya ustadz hanif pada kiara dengan memperhatikan kaki kiara.
“oh ini tidak apa-apa kok ustadz, ini...oh ya karena saya tidak biasa memakai sandal berhak tinggi, jadi pincang-pincang jalannya,,kalau tau tadi saya tidak akan memakainya”ujar kiara sambil melepaskan sandalnya. Dia pun kembali berjalan dengan kaki yang hanya terbungkus kaus kaki. Ketika dia berusaha untuk kembali melangkahkan kaki. Kiara meringis menahan sakit.
“kita istirahat saja dulu di situ”pinta ustadz hanif sambil menunjuk warung yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Dengan langkah yang tertatih kiara berjalan menuju tempat itu. dan kiara pun duduk di bangku yang berada di warung itu. ustadz hanif duduk di sampingnya.
“angkat kakimu ke atas bangku...”pinta ustadz hanif.
“ustadz,,mana mungkin saya berani mengangkat kaki saya di hadapan ustadz...”ujar kiara.
Tanpa basa basi, ustadz hanif mengangkat kaki kiara. kiara terkejut dengan yang di lakukan oleh beliau, beliau pun dengan tenang membuka kaus kaki kiara. terlihat jemari kaki kiara yang memerah dan lecet di sana. Lalu beliau memesan air dan penicilin kepada pemilik warung itu. kemudian beliau mencuci luka itu dan membubuhi penicilin ke atas luka dengan penicilin yang sudah beliau haluskan sebelumnya. Akhirnya beliau mengeluarkan sapu tangan beliau dan menyobeknya untuk membalut luka itu, hal yang sama pun beliau lakukan di kaki yang sebelahnya.
Kiara diam sejenak memperhatikan apa yang di lakukan oleh beliau.
“kenapa ustadz lakukan itu? bukankah itu tidak seharusnya di lakukan?” kiara membuka suara menunjukkan rasa herannya dengan apa yang dilakukan oleh ustadz hanif itu. ustadz hanif tersenyum mendengar pertanyaan kiara itu.
“apa kamu ingin mengatakan,, apa yang saya lakukan ini tidak sesuai dengan syariat, begitu? Jika itu yang ingin kamu katakan, seharusnya kamu mengulang kembali mata kuliah qawaidh fiqhiyah pada program sarjana kamu dulu”
Kiara hanya diam mendengar jawaban beliau. beliau pun selesai membalut luka kiara. serta merta kiara pun menurunkan kakinya dan kembali mengenakan kaus kakinya.
Ustadz hanif mengeluarkan ponselnya dan jemari beliau terlihat sibuk mengetik sesuatu.
“ki....mengapa kamu tidak ada bertanya kepada saya atas ketidak hadiran saya dalam acara pertunangan?”tanya ustadz hanif . beliau menoleh ke arah kiara.
“saya rasa, itu tidak perlu saya tanyakan”
“kenapa?”
“cepat atau lambat, ,ustadz datang atau tidak, saya yakin ustadz bukanlah orang yang main-main”
“walaupun saya akan mengatakan kita belum bisa melangsungkan pernikahan secepatnya?”
Kiara terdiam, dia menoleh ke arah ustadz hanif.
“bahkan jika kita tidak berjodoh sekali pun, saya akan siap menerimanya, karna dengan merasakan apa yang saya rasakan saat ini, menjadi seorang wanita yang di cintai oleh seseorang yang saya anggap terlalu sempurna buat saya dan saya juga bisa mencintai ustadz seperti ini ,sudah cukup membuat saya memiliki segalanya”
Ustadz hanif tertegun mendengarnya. beliau menoleh memandang kiara.
“malam sebelum acara pertunangan saya bermimpi, kita mendaki sibayak, mengumpulkan banyak edelweis hingga kita sampai di puncaknya. Lalu tiba-tiba saya tergelincir ke sisi jurang, saya berteriak minta tolong kepada ustadz tapi seolah-olah ustadz tidak mendengar suara saya, ustadz tetap asyik memetik edelweis dan melangkah pergi meninggalkan saya, sejak itu saya merasa khawatir dengan ustadz. Saya khawatir ada sesuatu terjadi pada ustadz atau tiba-tiba ustadz akan meninggalkan saya.”ujar kiara dengan sedih.

Tidak lama kemudian, sorot lampu mobil menyilaukan tatapan mereka. Mobl itu pun berhenti tidak jauh dari mereka. Keluar seseorang dari mobil itu. ternyata itu adalah syafi’i.
“bingung saya mencari ustadz sama mbak kiara dari tadi...”gerutunya.
“ya sudah,,sekarang kan sudah ketemu..”sahut ustadz hanif.
“bagaimana?”tanya beliau lagi kepada syafi’i.
Syafi’i hanya memberikan kode dengan membuat lingkaran dari jari telunjuk dan ibu jari yang melambangkan tanda “ok” dan menganggukkan kepala. Kiara tidak mengerti apa maksud mereka berdua. Akhirnya mereka bertiga pun meninggalkan tempat itu dan menuju rumah kiara. jarak antara jalan raya dengan perkampungan dimana Kiara tinggal memang cukup jauh, sekitar satu kilometer dari rumah kiara. beberapa saat kemudian mereka telah di hadang oleh keramaian yang memenuhi jalan desa yang mereka lalui.
“mengapa ramai”?tanya ustadz hanif. Kiara mengintip dari jendela mobil, terlihat orang-orang berjejalan, sehingga membuat mobil itu sulit untuk lewat.
“ini ustadz ada pasar malam”jawab syafi’i yang masih berusaha dengan hati-hati untuk menembus keramaian.
“lebih baik kita jalan saja dari sini ustadz”ujar kiara.
“bukankah kaki kamu sakit, kita lanjutkan saja pelan-pelan..”kilah ustadz hanif.
“tidak apa-apa , kaki saya sudah mendingan kok, lagian rumah saya kan tidak jauh lagi, dari sini”
Ustadz hanif melirik syafi’i. Syafi’i mengedikkan bahu.
“ok...kalau begitu kita jalan saja...”ujar ustadz hanif kemudian.
Ustadz hanif keluar dari mobil. Tapi syafi’i tetap tinggal di sana. Kiara berusaha membuka pintu yang kemudian di bantu oleh ustadz hanif membukanya. Memang daerah itu tampak ramai sekali. Kiara sedikit tertatih.
“ustadz biar saya berusaha untuk lewat..”ujar syafi’i. Ustadz hanif dan kiara berusaha menerobos keramaian. Setelah mereka sampai di tempat yang tidak terlalu ramai.
“ternyata masih ada desa seperti ini...”gumam ustadz hanif.
“ha??...maksud ustadz ,?”tanya kiara tidak mengerti
“iya ,, desa yang tidak jauh dari kota,tapi mengapa seolah-olah mereka tidak pernah mendapat hiburan..”jawab ustadz .
“mungkin karena inikan malam pertama pasar malamnya buka, jadi wajar saja kalau ramai..paling beberapa malam kedepan pengunjungnya tidak akan seramai ini...”ujar kiara sambil terus melangkah mengikuti ustadz hanif. Kiara menoleh ke arah pasar malam itu. ustadz hanif yang berjalan di depannya, berhenti dan menoleh ke belakang. Di lihatnya kiara yang tersenyum melihat salah satu wahana di pasar malam itu. ustadz hanif kembali menghampiri kiara.
“kamu ingin naik baling-baling itu....?”tanya ustadz hanif .
“eng ...nggak,,siapa juga yang mau naik, saya tidak mungkin pergi kesana dengan pakai kebaya seperti ini, lagian pun saya juga masih terlalu lelah ustadz”ujar kiara sambil melanjutkan langkah kakinya, tapi tiba-tiba dia menabrak seorang anak perempuan yang berusia sekitar 6 tahun. Kembang gula yang berada di tangan anak itu jatuh ke tanah.
“aduh dek,,maafin kakak ya,,kakak tidak sengaja” ujar kiara kepada anak itu.
Anak itu tidak menjawab dia memungut kembali kembang gula itu. ustadz hanif menghampiri mereka berdua.
“eits,,itu jangan di ambil lagi,,itu sudah kotor ya,”tegur ustadz hanif , beliau mengambil kembang gula itu dari tangan anak itu. anak itu terlihat kecewa, cepat-cepat kiara berlutut di hadapan anak itu.
“ya sudah kakak belikan lagi ya....”hibur kiara.
“beneran kak.?...”
“iya..”jawab kiara sambil tersenyum.
“ayo kak,,abang yang jual kembang gulanya di sana,,”seru anak itu sambil menarik tangan kiara. kiara terkejut, ketika akan melangkah, langkahnya terhenti, dia pun melepaskan sandalnya. Ketika akan mengambil sandalnya, anak itu menarik tangannya begitu saja. Akhirnya dia pun berlari mengikuti anak itu dengan kaki yang terbalut kaus kaki saja. Ustadz hanif terheran-heran melihat kejadian itu. beliau pun tersenyum geli dan menggeleng-gelengkan kepala. Mata beliau tertuju pada sandal kiara yang tergeletak begitu saja, di sana. Beliau pun memungut sandal itu. dari jauh beliau melihat kiara yang membelikan kembang gula untuk anak itu. beliau juga melihat seorang pria dan wanita yang mendekatinya, kemudian pria itu menggendong anak perempuan tadi. Ustadz hanif datang menghampiri mereka.
“maafkan anak saya ini ya mbak,,,dia memang sedikit nakal”sesal ibu itu.
“oh gak apa-apa kok bu, saya yang salah karena sudah membuat kembang gulanya jatuh,,,”sahut kiara ramah.
“ayoo bilang apa sama tante itu...”pinta ayah itu kepada putrinya yang sudah berada dalam gendongannya.
“makasih ya kak....eh..tante...”ujar anak itu dengan tingkah lucunya. Kiara tersenyum melihatnya.
“iya sama-sama...”jawab kiara. dengan lembut dia pun mengelus rambut anak itu. anak itu memberikan seutas balon kepada kiara.
“untuk tante...”ujar anak itu. kiara tersenyum geli, akhirnya dia menerima balon itu. lalu keluarga itu berpamitan dengan kiara. ustadz hanif yang memperhatikan dari tadi, menyerahkan sandal kepada kiara.
“ternyata anak itu, mengenal dengan baik seperti apa karaktermu...”ujar ustadz hanif sambil melirik ke arah balon yang mengambang di atas kepala kiara. kiara pun ikut memandang balon itu.
Lalu mereka pun tertawa melihatnya.
Tiba-tiba terdengar letusan kembang api di angkasa. Semua pengunjung pun memandang ke atas langit. Tampak beberapa anak laki-laki berlari dengan membawa batangan kembang api di tangannya. Tiba-tiba seorang bapak datang menghampiri ustadz hanif dan kiara.
“mas,,ini tolong di bantu nyalakan kembang api ya,,,”ujar bapak itu.
Ustadz hanif bingung. “memangnya ada acara apa nih pak...?”
“tidak ada ,,, Cuma biar lebih semarak aja..”jawab bapak itu sambil menyulutkan korek api pada sumbu kembang api itu. dan menyerahkan kembang api itu kepada ustadz hanif, dan memberikan satunya lagi kepada kiara.
Ustadz hanif terkejut ketika bola-bola api keluar dari kembang api itu. sedangkan kiara tertawa riang melihat bola-bola api itu meluncur dari kembang api yang berada di tangannya. Keterkejutan ustadz hanif pun berubah menjadik keceriaan, mereka pun tertawa lepas saat bola-bola api itu berpendar menjadi kilauan cahaya berwarna-warni di angkasa di ikuti suara letusan yang memecah keramaian. Ustadz hanif merasakan hatinya terlepas dari semua beban yang membelenggunya. Seolah-olah semua masalah yang di alami beliau terpencar bersama pecahnya setiap bola api yang menghiasi angkasa. Beliau pun melirik ke arah kiara, terlihat kiara yang tertawa lepas dengan memandang ke angkasa, sangat jelas raut kebahagiaan terpapar di sana. Ustadz hanif terpaku sejenak, terasa getaran lembut menyentuh dawai hatinya, sebuah getaran yang sudah lama tidak pernah beliau rasakan lagi. Beliau masih terpaku memandang kiara. lalu kiara pun menoleh ke arah beliau, beliau pun tersadar dan membuang pandangan kembali ke angkasa, senyuman malu pun terlukis di wajah beliau.
“kembang apinya sudah habis...”ujar ustadz hanif. Mata beliau masih memandang langit yang penuh dengan kepulan asap yang menyebarkan aroma mesiu dari kembang api yang telah habis mereka nyalakan.
“iya sudah habis....kita pulang lagi..”sahut kiara.
“ya..”jawab ustadz hanif mengangguk.
______________________________________

Rumah kiara tampak sepi, mestinya tamu-tamu tadi sudah pulang. Dengan tertatih kiara melangkah menuju pintu rumahnya.
“apa ustadz akan ikut saya kedalam?”tanya kiara
“iya, saya ingin mengucapkan pemohonan maaf saya kepada Bapak dan Ibu atas ketidak hadiran saya tadi” jawab beliau. ketika masuk kedalam rumahnya, di ruang tamu ternyata dia sudah di sambut oleh bapak , ibu, kedua kakaknya, dan yang paling mengejutkan di sana sudah menunggu ummi dan pak siswohyo.
Kiara terkejut sekali melihat mereka. Kiara menoleh ke arah ustadz hanif. Beliau tersenyum melihat keterkejutan kiara. sedangkan syafi’i senyum-senyum sendiri. Ternyata mereka berdua sudah merencanakan hal ini, pikirnya.
Ibu menghampiri kiara.
“nduk,,benar-benar kamu itu anak nakal semua orang mengkhawatirkan kamu, keluar rumah gak pakai pamit trus di hubungi gak aktif nomor handponenya”omel ibu.
“kenapa itu kakimu?”tanya ibu lagi.
Kiara yang masih dilanda kebingungan , menggelengkan kepala. Ustadz hanif tersenyum melihatnya dia pun berkata pada ibu
“ini salah saya bu, maafkan saya”
Beliau melirik ke arah kiara.
“seperti katamu tidak ada kata terlambat bukan?”
Kiara menatap ustadz hanif dengan tatapan tidak percaya.
“ ustdaz, anda benar-benar membuat saya sangat terkejut”ujar kiara dengan senyum kesal menghiasi wajahnya.
Semua yang ada di ruangan itu pun tertawa melihat tingkah mereka berdua. akhirnya kedua keluarga itu pun terlibat perbincangan yang hangat dan berlangsunglah acara lamaran ala budaya jawa bersentuhan islam pada malam itu juga.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SEKERLIP CINTA DI BAWAH DERAI HUJAN "bagian 2 dan 3"

Bagian 2
Ustadz Hanif tidak tidur setelah melaksanakan qiyamullail, beliau melanjutkan kesibukannya mengetik penelitian yang sudah dekat deadline pengumpulannya. Beliau tetap asyik mengetik , sehingga beliau tidak sadar waktu berputar dengan sangat cepat. Beliau meneguk kopinya, dan tersadar kopi itu sudah dingin. Sayup-sayup terdengar adzan subuh memanggil umat dari peraduannya. Beliau bangkit dari kursinya untuk mengambil wudhu’. Gemericik air wudhu membasuh wajah lelah beliau, sehingga beliau merasa segar kembali. Seusai shalat terdengar tilawah qur’an melantun dengan tartil. Memhiasi wajah pagi, menyegarkan hati kelam dan menghangatkan senyum mentari yang masih manja untuk bangun dari buaiannya. Suasana itu terus berlanjut walau telah berlalunya isti’adzah lalu shadqta mengakhirinya. Beliau melatakkan alqu’an itu ke dalam tas laptop beliau, pagi ini beliau akan berangkat ke malaysia untuk menyelesaikan program doktoral nya. Tiba-tiba Teringat pembicaraan beliau dengan kiara beberapa waktu yang lalu.
“saya harap kamu telah menyelesaikan pengetikan pada bab 3 dan 4, karena sepulang dari malaysia saya ingin melihat semua hasil kerja kamu” ujar ustadz hanif dengan mata beliau yang tidak terlepas dari kitab Bidayatul Mujtahid di hadapannya.
“jadi saya harus menyelesaikan semuanya ustadz?bagaimana bisa?sedangkan saya belum menguasai metodologinya?”tukas kiara panik, dia membolak-balik laporan-laporan yang di buatnya.
Namun ustadz Hanif masih tetap asyik dengan kitabnya tanpa menghiraukan Kiara sedikit pun. Kiara pun menjadi jengkel dibuatnya
“bahkan kita belum observasi ke lapangan.....”sungut kiara jengkel. Tapi ustadz hanif masih dengan tenang membaca kitab itu.
“ustaddddz........!”seru kiara kesal.
Ustadz hanif memukul gulungan kertas ke kepala kiara.
“kamu kerjakan saja,,dan jangan banyak komentar, paham!”beliau menatap kesal kearah kiara.
Kiara melongo di perlakukan seperti itu. Dia pun menghela nafas sambil mengusap-usap kepalanya.
“ya ustadz, insyaAllah saya kerjakan dan akan selesai setelah ustadz kembali, assalammu’alaikum” sungut kiara sambil menyusun laporan-laporannya dan bergegas pergi . beliau tersenyum melihatnya sambil menggeleng-gelengkan kepala .
Ustadz hanif tersenyum sendiri mengingat peristiwa itu. Memang diakui banyak peristiwa aneh yang terjadi diantara beliau dengan kiara. Sepertinya beliau akan banyak bersabar menghadapi gadis yang akan menjadi calon istrinya itu. Beliau pun mengambil ponselnya di atas meja, beliau ingin menyampaikan sesuatu sebelum beliau berangkat ke Malaysia. Tapi tanpa sengaja tangan kiri beliau menyenggol kotak yang berisi tumpukan papper yang terletak tidak jauh dari meja belajar beliau, sehingga isi kotak itu pun berserakan ke lantai. Beliau berusaha merapikan kembali makalah-makalah tersebut dan memasukkannya ke dalam kotak, lalu tiba-tiba beliau melihat sebuah bingkai berukuran 5 R tergeletak diantara makalah-makalah itu. Beliau pun mengambil bingkai itu. Terlihat di sana foto seorang wanita tersenyum dengan manis mengenakan pakaian toga mengapit bucket bunga ditangannya. Beliau tahu benar siapa wanita itu. Karena Wanita itulah yang selama ini menjadi alasan baginya untuk tetap bertahan dan dapat sukses seperti sekarang. Karena dia pernah menjadi bagian dalam hidup beliau, seseorang yang sangat beliau cintai dan karenanya pula beliau sulit untuk membuka hati untuk gadis lain karena ia tidak berpikir untuk bisa menggantikan posisinya . Walaupun mengingatnya sama saja membuka luka masa lalu yang pernah beliau rasakan. Tapi cinta yang pernah ia berikan untuk wanita itu memang terkesan begitu dalam. Terbayang olehnya beberapa tahun yang lalu ketika beliau masih menjalani kuliah di Universitas Sidi Muhammad Ben Abdullah Maroko. Empat tahun kuliah di sana, banyak ia lalui kenangan indah bersama wanita itu. Wanita yang bernama syafa fadhillah khudhori Lc adalah orang yang dikenal beliau sejak beliau menimba ilmu di Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponorogo Jawa Timur. Hubungan antara Ustadz Hanif dengan Syafa bukan hanya kedekatan biasa , bahkan bunga cinta telah tumbuh di hati mereka berdua sejak mereka menjadi peserta jambore tingkat nasional di cibubur. Tapi karena mereka adalah santri yang memiliki pengaruh yang baik dan dikenal sebagai santri yang pintar di sana, sehingga mereka lebih memilih menjaga nama baik mereka masing-masing tanpa harus merealisasikan kedekatan mereka. Namun kedekatan mereka semakin terasa ketika mereka sama-sama mendapatkan beasiswa di Universitas yang sama di maroko. kedekatan mereka ini juga tidak terlalu mencolok di hadapan para pelajar yang lain, sehingga tidak banyak yang tahu bahwa ada hubungan yang spesial antara mereka berdua. Tapi hubungan mereka tidak berakhir seperti yang mereka harapkan, setelah 5 tahun menjalani sweet relation akhirnya syafa harus menikah dengan orang lain. Hal ini yang membuat ustadz hanif benar-benar hancur dan terpukul. Sebenarnya , sebelum menyelesaikan kuliahnya di Maroko, ustadz hanif sudah mencoba untuk meminang Syafa kepada orang tuanya di kota pekanbaru, ternyata penolakanlah yang terjadi, keluarga syafa fadhilla adalah keluarga yang memiliki status sosial yang tinggi di masyarakat selain itu mereka adalah keluarga yang kental dengan ajaran salafi, bahkan mereka sudah mempersiapkan seorang calon suami yang disesuaikan dengan standar yang mereka miliki. Setelah beliau mengetahuinya, ternyata calon suami syafa itu juga seorang pria yang fanatisme dalam ajaran salafi ditambah lagi dia berasal dari keluarga terhormat. Berbeda sekali dengan beliau yang hanya berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja sedangkan untuk mengenyam pendidikan beliau hanya mengandalkan beasiswa.
Ustadz hanif kembali teringat dengan peristiwa itu dan masih terngiang kata-kata yang beliau ucapkan saat terakhir beliau dan syafa bertemu disebuah restoran di kota Marakech al khamra’ sebuah kota yang sangat indah di maroko, mereka bertemu ketika diadakan agenda rihlah setelah selesai menyelesaikan studi mereka selama 4 tahun di Universitas yang terletak di Dahr al Mehraz. Fes, Maroko.
“walaupun saya bukan dari keluarga kaya, tapi jika saya fanatisme salafiah apakah saya bisa menikahimu syafa?”tanya ustadz hanif mengawali pembicaraan sambil mengetuk meja perlahan. Syafa memperhatikan gerakan tangan beliau itu tanpa ekspresi apapun.
Syafa mengangkat wajahnya “mas, ingatkan dengan hadits wa man kanat hijrotuhu yusibuha awim ro atin yankihuha fahijrotuhu ila ma hajaro ilaih,, saya tidak ingin mas seperti sahabat rasulullah itu mas, yang melakukan hijrah hanya karena mengejar cinta ummu qais”terang syafa.
“saya lebih baik menjadi seperti halnya pecinta ummu Qais daripada saya harus kehilangan kamu, ”ujar Ustadz Hanif sedih sambil membuang tatapannya kearah kerumunan para pejalan kaki yang memenuhi sepanjang trotoar di kota itu.
“mas,,, jangan jadikan perasaan yang kita rasa membutakan mata hati, terutama mata hati kita untuk Allah, mas percayakan dengan jodoh, mungkin ini adalah pertanda bahwa memang kita .........” Syafa tidak melanjutkan kata-katanya.
tidak berjodoh?” sambung Ustadz Hanif tenang. Beliau masih memandang kearah kerumunan pejalan kaki di trotoar itu.
“mas...maksud saya,,,”syafa berkata dengan suara lemah dan tatapannya tidak lepas dari Ustadz hanif.
Ustadz hanif menoleh ke arah syafa,
“lalu ,,,,dengan membiarkan kamu menikah dengan orang lain, kamu mengatakan kita tidak berjodoh?
Syafa menundukkan wajahnya. Ustadz hanif menghela nafas, kemudian beliau melanjutkan kata-kata beliau.
Syafa kamu adalah seorang sarjana sekarang,, tolong jawab pertanyaan saya dengan otak cerdasmu,,, apakah Allah tidak ridho dengan hubungan yang sudah kita jalin selama bertahun-tahun ini?apakah tidak boleh kita merasakan bahagia yang sesungguhnya ,,sedangkan masa bahagia itu sudah berada selangkah di depan kita?
Syafa mulai berlinangan airmata. Beliau pun melanjutkan pertanyaannya.
“Syafa....bagaimana sebenarnya kamu menilai semua perasaan saya selama ini? kenapa kamu begitu mudah untuk mengatakan kata-kata perpisahan syafa...?ketika saya telah menganggap kamu satu-satunya buat saya?ketika telah banyak rencana yang kita buat untuk kehidupan kita kedepan...”
“sudah cukup....cukup!” potong Syafa masih dengan isak tangisnya.
“mas kira saya mau menikah begitu saja dengan orang lain,itu tidak mudah mas...”sambung Syafa.
Masih terlihat jelas syafa yang mulai menangis. Ustadz hanif tertegun sesaat, saat ini beliau juga sangat sulit untuk menahan semua kepedihan yang beliau rasakan . jika beliau wanita mungkin sedari tadi dia akan menangis tersedu-sedu di depan syafa. Kemudian beliau mengeluarkan sapu tangan dari sakunya, dan menyeka airmata yang jatuh berlinangan dari sudut mata syafa.
“mari melarikan diri dengan saya, syafa.....”ujar beliau
Syafa terperanjat mendengar kata-kata itu. Dia menatap lekat kearah beliau .
“jika memang dengan cara itu, kita bisa menggapai kebahagian kita, kenapa kita tidak pergi dan menikah di suatu tempat dimana tidak ada orang yang mengetahuinya”sambung beliau, saat itu beliau menatap tajam kearah syafa mencari kesungguhan dan kepercayaan dari orang terkasihnya itu,.
Kemudian beliau menegaskan“jika kamu bersedia,,sepulangnya dari maroko saya akan langsung ke kota Pekanbaru , saya tunggu kamu di airport ”. syafa menatap Ustadz hanif dengan tidak bergeming sedikit pun, lalu ia pun menganggukkan kepalanya sebagai tanda dia setuju untuk pergi dengan ustadz hanif.
Lima hari kemudian, Ustadz hanif bersiap-siap untuk meninggalkan asrama mahasiswa indonesia. Beliau berencana untuk singgah ke pekanbaru dan bertekad untuk membawa syafa ke medan, menemui ummi disana. Sedangkan Tiga hari yang lalu syafa sudah lebih dulu meninggalkan maroko. Sebelum meninggalkan asrama, beliau mendapatkan surat dari Dr dzakki Syukri, kemudian beliau membacanya. Didalam surat itu Beliau mendapat tawaran untuk menjadi dosen di salah satu kampus di maroko. Dan beberapa tawaran beasiswa untuk melanjutkan S2 disana. Hal ini berkaitan bahwa beliau adalah salah satu mahasiswa yang mendapatkan predikat (Musyarrof Jiddan/Summa Cumlaude) di akhir studi sarjananya di Negeri Magribi ini. Sebenarnya penghargaan-penghargaan itu yang sangat beliau impikan selama ini, apalagi mengingat beliau bukan berasal dari keluarga yang berada tentu untuk dapat melanjutkan studi di Universitas Asing hanya dari penghargaan seperti inilah yang menjadi harapan beliau selama ini. Tapi beliau memutuskan untuk menolak semua tawaran itu karena saat ini syafa lebih berarti bagi beliau dibanding itu semua.
Ustadz Hanif meninggalkan surat itu diatas meja belajarnya, dan berangkat bersama pelajar indonesia lainnya untuk kembali ke tanah air.
Sesampainya di pekanbaru, ustadz Hanif menghubungi nomor telepon syafa. Tapi nomor tersebut tidak aktif, berkali-kali beliau coba nomor itu tapi masih tidak aktif juga. Beliau kembali memastikan dengan seksama no handpone yang di beri oleh syafa terakhir kali. Tidak ada yang salah dengan nomor ini, pikir beliau. Beliau memutuskan untuk menunggu, bandara sultan syarif kasim 2 mulai di padati oleh banyak pengunjung . tapi tidak ada tanda-tanda kedatangan syafa di sana. Berkali-kali beliau melirik arlojinya, dengan perasaan risau dan cemas. waktu merambat semakin lambat tapi beliau masih tetap menunggu dengan sabar . Enam jam berlalu begitu saja, tetapi gadis yang beliau tunggu tidak juga menampakkan diri, senja semakin menggantung di pelupuk barat. adzan magrib pun terdengar berkumandang lewat siaran televisi . Beliau pun memutuskan untuk melaksanakan shalat. Seusai dari shalat beliau kembali menunggu, namun hasilnya tetap sama. Beliau menunggu dengan risau, sesekali beliau melihat para pengunjung yang berlalu lalang. Terdengar musik radio mengalun lembut berasal dari sebuah tempat yang tidak jauh dari beliau,
Tak ingin ku jalani cinta yang begini,
yang kutahu cinta itu indah
Tak ingin kurasakan jiwa yang tak tenang
ku mau kau tetap disisiku (Afgan Syah Reza ft Nagita slavina- yang ku tahu cinta itu indah)
Ustadz Hanif termenung sejenak, beliau termanggu mendengarkan lagu itu. Beliau kembali melirik arlojinya, waktu telah menunjukkan pukul 7 malam,. Beliau membuang pandangannya kearah gerbang bandara dengan tatapan kosong . akhirnya beliau memutuskan untuk meninggalkan bandara , menuju ke satu tempat. Menuju rumah Syafa, saat ini beliau benar-benar mengkhawatirkannya. Beliau pun akhirnya mengorbankan jadwal keberangkatannya ke kota medan yang tinggal 30 menit lagi.
Beberapa menit kemudian akhirnya beliau sampai di depan pintu pagar sebuah rumah yang pernah beliau kunjungi itu. Setelah membayar biaya taksi perlahan beliau dekati pagar rumah itu, dari celah pagar mata beliau menyapu sekeliling rumah itu, tapi rumah itu terlihat sepi. Ketika beliau akan mengucap salam, tiba-tiba seorang pria setengah baya dengan memakai seragam security datang menghampirinya. Dan berkata
“mas, orangnya sekeluarga pada pergi ,,,,,”
“pergi kemana ya pak?”tanya Ustadz hanif
Bapak itu menyulutkan rokoknya dan berkata
“iya, pergi katanya, ada acara pernikahan anak perempuan orang yang punya rumah ini”
“pernikahan?”tanya ustadz hanif kaget
“iya, pernikahan mbak syafa di Palembang katanya sih dapat orang palembang, lagian orang rumah ini baru kemarin perginya mas”.
“kemarin?”tanya ustadz hanif tidak percaya
“iya, jadi saya yang disuruh nunggu rumah ini..”terang Bapak itu sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
Ustadz hanif terperanjat mendengarnya. Tampak jelas wajah beliau yang memerah menahan kekecewaan dan amarah. Ustadz hanif menghela nafasnya dengan berat.
“terima kasih pak, sepertinya saya salah alamat”ujar Ustadz hanif dengan kecewa. Bapak itu pun mengangguk dan berlalu pergi.
Kemudian beliau menjauhi pintu pagar rumah itu. Perlahan beliau merasakan air mata menetes di sudut mata beliau, dengan hati yang sangat terluka beliau pun bergegas menghapusnya . kepala beliau pun menengadah ke langit. Langit malam itu tidak terlihat seperti biasanya. Langit itu seolah-olah akan runtuh, dan siap meluluh lantakkan hati dan perasaan beliau.
Tak pernah kubayangkan,,, cerita kita berakhir begini ,,,
Tega kau dustai semua .......janji kita berdua (Afgan Syah Reza – Entah)
-------------------------------------------------------------------
Berkali-kali kiara menguap di meja perpustakaan itu. Tadi malam dia tidak bisa tidur, mengerjakan penelitian itu benar-benar membuatnya stress. Kiara memainkan touchscreen ponselnya. Hari ini sudah genap 4 hari Ustadz Hanif pergi ke Malaysia. Dia membaca inbox pesan yang terakhir beliau kirimkan:
“gadis kecilku yang baik....selesaikan semua tugasmu dan tunggu abi nilai ya......”
Kiara tersenyum sendiri membacanya.
“gadis kecil apaan.........”sungutnya kesal.
“ternyata beliau memperlakukan saya seperti murid paud,,benar-benar”kiara berceloteh sendiri. Beberapa menit kemudian Kiara sudah tertidur dengan membenamkan wajahnya diatas lipatan tangannya.
Tiba-tiba seseorang mendekatinya.
“hei bangun...”terdengar suara orang itu pelan membangunkan kiara. Kiara tidak berkutik sama sekali.
Ternyata orang itu adalah ustadz Hanif. Beliau mengernyitkan dahi.
Beliau mengetuk-ngetuk meja di depannya,
“hei,,,banguun, sejak kapan perpustakaan menjadi tempat penginapan?”ujar beliau sambil terus mengetuk meja itu.
“sejak saya belum selesaikan tugas itu...”ceracau kiara antara sadar dan tidak dan dia pun masih tetap membenamkan wajahnya di tangannya.
“apa yang kamu katakan?”tanya beliau kaget. Pertanyaan beliau hanya dijawab dengan lenguhan kiara saja. Dia tidak sadar bahwa ustadz hanif sudah berada disampingnya.
Beliau cepat-cepat memeriksa laptop kiara, dan terlihat halaman microsoft word yang masih terbuka disana. Beliau menarik kursor hingga halaman terakhir. Beliau benar-benar terkejut melihatnya.
“astagfirullah,,,apa yang kamu kerjakan selama ini sampai belum selesai..........”gumam beliau. Beliau pun duduk di atas kursi yang terletak di samping kiara dan menggeser laptop itu. Kemudian meletakkan bucket bunga mawar yang beliau bawa pada kursi lainnya. Beliau membolak balik laporan yang tertumpuk di hadapan kiara. Beliau memeriksa semua laporan itu. Beliau menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepala.
Akhirnya beliau pun mengetik semua laporan-laporan itu. Dan menyempurnakan bagian-bagian yang belum lengkap. Dengan sigap beliau mengerjakan itu semua mulai mencari rujukan dari buku-buku sehingga beliau harus mencarinya di setiap rak-rak buku, mengutip kata-kata dari buku tersebut, menyusun metodologi penelitian dan mengetik hal-hal yang dianggap perlu. Sesekali beliau melirik kearah kiara, tapi dia masih belum terbangun dari tidurnya. Hingga 46 menit pun berlalu beliau telah menyelesaikan semuanya. Beliau pun bernafas lega. Diliriknya lagi kiara, ternyata dia belum terbangun juga.
Beberapa menit kemudian ponsel yang berada genggaman kiara bergetar. Kiara mengangkat kepalanya dan membaca inbox pesan dari ustadz hanif yang bertuliskan
“sudah bangun lagi, dan cepat antarkan tugas kamu itu.”
“astagfirullahal adzim,,,”seru kiara. Cepat-cepat dia buka laptopnya dan masih halaman microsoft word terbuka disana, ketika ia akan kembali mengetik. Dia pun kaget melihat semuanya sudah terketik dengan rapi. Dia tarik kursornya dari terakhir kali ia mengetik. Dia benar-benar bingung, dia pun mengucek-ngucek matanya. Ternyata dia tidak salah lihat, tugasnya sudah selesai. Tapi siapa yang menyelesaikannya?pikirnya bingung. Dia membuka inbox pesan di ponselnya, di bacanya kembali pesan dari ustadz hanif.
“beliau mengatakan agar bangun,,berarti beliau tahu saya ketiduran disini”ujar kiara dengan dirinya sendiri. Kiara menoleh kearah sisi kirinya, terlihat bucket mawar putih tergeletak diatas kursi.
“ya Allah,,,berarti tadi ustadz hanif kesini, mengerjakan tugas ini dan melihat saya tertidur,,benar-benar memalukan...”Kiara memukul-mukul kepalanya dengan kikuk.
Kemudian dia pun bergegas menuju kantor ustadz hanif. Ketika tiba disana terlihat beliau sedang sibuk dengan laptopnya.
“assalammu’alaikum ustadz”ucap kiara pelan.
Beliau melirik kearahnya, “wa’alaikumussalam warohmatullah”kemudian beliau kembali sibuk dengan laptopnya.
Dengan malu-malu kiara memasuki ruangan beliau.
“mana tugas kamu?saya ingin cepat merekapnya dan harus segera diserahkan ke lembaga penelitian”ujar beliau sambil menatap kearah Kiara.
“semua sudah saya simpan di sini ustadz”sahut kiara sambil menyerahkan flashdisk. Ustadz hanif menerima flasdisk itu.
“dan maafkan saya, saya tidak menyelesaikan tugas saya tepat waktu dan tadi ada seseorang nampaknya yang membantu saya menyelesaikan tugas itu”sambung kiara.
Ustadz hanif tidak menghiraukan perkataaan Kiara. Beliau hanya sibuk mentrasfer data dari flashdisk ke laptop. Lalu kiara pun duduk di kursi yang berada dihadapan beliau. Dan ia pun sempat melirik ke meja sekretaris jurusan yang kosong. Kemudian kiara menoleh kearah ustadz Hanif. Dengan stelan kemeja abu-abu dan dasi biru tua bergaris putih beliau terlihat cerdas dan berwibawa hari itu. Kiara pun terkesima menatap beliau.
Kiara tertegun sejenak sedangkan beliau tetap tenang dan tidak bergeming sedikit pun. Dia tidak menyadari kalau sebenarnya ustadz Hanif tahu Kiara terkesima menatapnya seperti itu.
“saya sadari saya sangat tampan, lalu bisakah kamu berhenti menatap saya seperti itu?”tukas ustadz hanif, dengan tatapan matanya tidak terlepas dari layar laptop.
Kiara pun tersadar cepat-cepat dia menundukkan wajahnya , dia mencoba mengontrol dirinya dan menghela nafasnya perlahan. dia sadar apa yang dia lakukan tidak pantas, memandang seseorang laki-laki yang bukan muhrim seperti itu tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang gadis yang paham tentang batasan hijab seperti dirinya.
“astagfirullah hal adziem....”bisikKiara
Ustadz hanif pun tersenyum melihatnya. “seorang pria tampan ,,,,,,,sedang konsentrasi dengan sangat serius, bukankah itu satu pemandangan yang sangat menarik?...apalagi hal itu dilakukan oleh dosen anda ini,,,”ucap ustadz hanif dengan tenang.
Kiara tersipu malu mendengar ucapan ustadz itu.
“selain berani menatap saya apakah sekarang kamu juga berani untuk mentertawakan saya?!”sela beliau dengan suara sedikit ketus. Tatapan beliau pun tertuju pada kiara. Langsung hal itu membuat Kiara menjadi semakin gugup.
“tidak ustadz..tidak ada..saya tidak ada mentertawakan ustadz......”ucap kiara dengan gugup, kemudian wajahnya kembali menunduk. Ustadz hanif menatap kiara dengan tersenyum sinis.
“angkat wajahmu....”pinta beliau.
Kiara kaget mendengar pinta ustadz Hanif, perlahan dia mengangkat wajahnya sedikit dengan tatapan mata yang masih mengarah ke bawah.
“Lagi....!”pinta beliau lagi. Kiara mengangkat wajahnya sedikit.
“lagi...!”ulang beliau. Kiara mengangkat wajahnya lebih tinggi tapi dengan tatapan matanya yang mengarah ke kanan beliau.
“tatap wajah saya.......!nada suara beliau mulai meninggi. Dengan refleks Kiara menatap wajah ustadz Hanif, serta merta tidak ada angin tidak ada hujan beliau langsung menulis tanda cek list di kening Kiara dengan spidol boardmaker yang sudah di tangan beliau. Hal itu benar-benar membuat Kiara terperanjat seketika.
“ustadz...kenapa sih memperlakukan saya seperti anak-anak?....”ucap Kiara kaget, dengan panik tangannya menggosok-gosok tanda cek list di keningnya tersebut.
“karena saya tidak yakin apakah jenis hukuman untuk wanita dewasa cocok dengan kamu, jadi saya buat hukuman yang sesuai dengan karaktermu!”ujar beliau dengan nada sedikit kesal.
”sudahlah .... hentikan kamu menggosok kening kamu itu,,,jangan kamu berharap .. akan keluar jin dari sana”ledek ustadz Hanif sambil tersenyum geli
“ustadz...ini tidak lucu, bagaimana bisa ustadz mencorat coret wajah saya seenaknya....”ucap Kiara kesal.
“assaammu’alaikum” terdengar seseorang masuk dengan ucapan salam. Terdengar suara langkah kaki seseorang memasuki ruangan dan ternyata orang tersebut adalah pak yamin sekretaris jurusan.
Menyadari akan hal itu kiara menyembunyikan wajahnya sambil terus menggosok-gosok keningnya. Pak Yamin pun memandang heran ke arah Kiara.
“kenapa kok nunduk-nunduk kayak gitu?”tanya beliau heran. Ustadz Hanif menutup mulutnya tersenyum geli.
“ustadz, pak yamin,,saya permisi,assalammu’alaikum”pamit Kiara dan diapun bergegas meninggalkan ruangan itu
-------------------------------------
Tepat pukul 13.20 wib, kiara meninggalkan kampus dan menuju halte. Kiara yang bekerja di kantor APSI (Asosiasi Pengacara Syariah Indonesia) harus mengambil data-data klien berperkara yang belum ia masukkan kedalam database. Kiara mempercepat langkahnya. Hari ini cuaca terlihat cerah sepertinya musim penghujan telah berlalu. Cerahnya hari ini, secerah hatinya ketika bunga-bunga di hatinya bermekaran dengan indah. Di lihatnya kembali bucket bunga yang ia bawa, berkali-kali dia tersenyum melihatnya. Lalu tatapannya beralih kearah cincin yang terpasang di jemarinya dan terngiang kata – kata beliau.
“menikahlah dengan saya “ ujar ustadz hanif waktu itu, dan itu membuat kiara tersenyum sendiri . Dia pun menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“ya Allah,,apakah aku sekarang sedang gila....”bisiknya di dalam hati.
Dia memasang headset ponselnya, terdengar lagu yang mewakili perasaannya hari ini
Merah pipi ini saat kulihat dirinya
Mungkinkah ini yang dinamakan cinta
Malu hati ini saat ku tatap wajahnya
mungkinkah ini yang dinamakan cinta (Afgan – Pesan Cinta)

---------------------------------
BAGIAN 3
Minggu yang indah menghiasi langit mesjid raya medan kota. Terlihat sejumlah orang keluar dari masjid raya itu.
Ustadz hanif keluar dari mesjid itu dan terlihat beliau asyik bercakap-cakap dengan seorang laki-laki.
“terima kasih banyak ustadz, saat ustadz Ahmad pergi umroh seperti ini, kami sering kebingungan mencari pengganti beliau untuk mengisi kajian tafsir qur’an dalam minggu ini, alhamdulillah kami sangat bersyukur ketika anda bersedia menggantikan beliau , ,, oh ya sebelum terlupa ini ustadz ada undangan pengajian kamis malam, jika ustadz ada kesempatan kami berharap ustadz dapat hadir dalam acara ini”ujar orang itu sambil menyerahkan selembar undangan kepada beliau.
“insya Allah, jika tidak ada aral melintang, saya akan menghadirinya”ujar ustadz hanif.
“sekali lagi terima kasih banyak ustadz, semoga selamat sampai tujuan”ujar pria itu sambil menyalami ustadz hanif.
“iya sama-sama, saya pamit dulu, assalammu’alaikum”ucap beliau
“wa’alaikumussalam,”dengan tersenyum pria itu menyahut salam dari beliau.
Ketika akan menuruni anak tangga mesjid. Seorang gadis manis berkerudung putih telah menunggu dengan senyuman manis di bawah anak tangga.
Ustadz hanif terkesima melihatnya. Perlahan beliau menuruni anak tangga.
“apa yang kamu lakukan disini?”tanya beliau setelah sampai di hadapan kiara.
“kemarin saya mendengar dari radio kalau ustadz, mengisi kajian tafsir qur’an di mesjid raya hari ini, jadi saya datang kesini”
“dengan siapa kamu datang kesini?”
“saya sendirian saja ustadz”
“dari tanjung morawa sendirian sampai kesini?”
“tidak ustadz,,,tadi perginya saya bareng sama mas saya, kebetulan beliau kalo pagi-pagi sudah berangkat untuk narik angkot.....”
Ustadz Hanif manggut-manggut mendengarnya.
“mas Hanif,,,semuanya udah saya letakkan di mobil,”seru seorang laki-laki sembari menghampiri mereka. Kiara memperhatikan laki-laki itu, dia terlihat seumuran dengan kiara. Ustadz hanif mengangguk kepala kepadanya.
“baiklah,,,,oh iya Kiara perkenalkan ini syafi’i, kami berdua bersaudara sepupu dan syafi’i inilah yang selalu membantu kesibukan saya selama ini”, ustadz hanif memperkenalkan laki-laki yang bernama syafi’i kepada Kiara. Laki-laki itu menganggukkan kepala dan tersenyum kepadanya.
“fi’i, waktu itu kamu bertanya siapa Kiara, ini dia yang namanya Kiara”ujar beliau lagi kepada syafi’i.
“saya merasa menjadi orang yang beruntung sepertinya karena bisa bertemu dengan yang namanya Kiara”celetuk Syafi’i, sambil memandang wajah Ustadz Hanif lalu menoleh ke arah Kiara dengan tatapan penuh arti. beliau pun tersenyum mendengarnya. Sedangkan Kiara hanya dapat tersipu malu.
“kamu akan kemana lagi kiara?”tanya beliau kemudian kepada kiara.
“hmm.,,sepertinya saya mau pulang saja ustadz” sahut kiara
Lalu ustadz Hanif melirik arloji beliau. Waktu masih menunjukkan pukul 9 pagi. Lalu beliau pun menatap kiara dan berkata kepadanya
“ya sudah begini saja, kamu ikut sekalian saja dengan saya, karena kebetulan saya dan syafi’i akan menghadiri acara di Kota Rempah”
“tapi apakah tidak merepotkan ustadz?”ujar kiara, mendadak dia pun merasa tidak enak.
“insya Allah tidak, selain itu kalau mau ke Rempah tentunya melewati Tanjung Morawa,benarkan fi’i?”beliau pun melirik syafi’i yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua.
Syafi’i tersenyum melihatnya
“iya benar sekali ustadz “ujarnya dengan senyuman yang masih mengambang diwajahnya.
Kemudian mereka pun menuju mobil toyota Rush berwarna silver yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Sepanjang perjalanan mereka pun larut dalam perbincangan yang hangat. Ternyata syafi’i adalah sosok yang penuh dengan humoris. Sehingga dapat memecahkan kekakuan selama di perjalanan. Di tengah perjalanan itu, Kiara juga baru mengetahui bahwa Syafi’i masih mahasiswa S1 di Unimed Fakultas Keguruan Bahasa Inggris. Dan saat ini ia sudah semester 12, hal itu dikarenakan jiwa kewirausahaan yang dia miliki membuat dia lebih tertarik untuk menyibukkan diri dengan usaha-usaha sampingan. Bahkan kini dia telah memiliki dua kedai dodol di Pasar Bengkel-Perbaungan. Hal itu membuktikan keseriusannya dalam menjalani minat dan bakatnya sebagai seorang pengusaha muda. Sehingga dia sering merasa tidak sesuai untuk menjadi guru bahasa inggris. Walaupun begitu, dia tetap akan menyelesaikan kuliahnya dengan segera. Ustadz Hanif yang duduk disamping Syafi’i yang sedang mengemudi , memberikan pengertian kepadanya bahwa Allah selalu menyimpan rencana untuk hamba-hamba yang dikasih-Nya.
Mendengar penuturan Ustadz Hanif dan Syafi’I, Kiara pun berpikir di bandingkan mereka berdua dia merasa belum memiliki apa-apa. Dia pun merasa terinspirasi dengan penjelasan beliau dan semangat yang dimilki syafi’i.
Beberapa menit kemudian ketika sampai di Taman Teladan. Tiba-tiba Syafi’i mengehentikan mobil.
“mas, sebentar ya, saya mau ngantarkan titipan kawan disini, sebentar aja gak lama kok”ujar Syafi’i pada Ustadz Hanif.
“ya udah,, ingat jangan lama-lama”pesan beliau. Lalu tanpa basa basi Syafi’i meninggalkan mobil. Tinggallah ustadz Hanif dan Kiara didalam mobil. Kiara merasa tidak enak berdua dengan beliau seperti itu.
“kamu mau keluar juga?”tanya ustadz hanif yang asyik memainkan i pad di tangannya. Ternyata beliau juga menyadari ketidak nyamanan situasi tersebut.
“bukankah sebentar lagi syafi’i akan balik?”Kiara balik bertanya.
Terlihat ustadz Hanif membuka pintu mobil. Kiara hanya memperhatikan beliau. Beliau pun membukakan pintu untuk kiara dan berkata”apakah kamu mau saya kunci di dalam?”cepat keluar...”
Kiara pun keluar dari mobil itu dan melihat kearah taman yang ramai di kunjungi oleh banyak orang. Taman teladan merupakan taman yang terletak di kota medan yang banyak dikunjungi banyak orang dari berbagai kalangan. Apalagi hari itu adalah hari minggu, banyak orang yang menghabiskan masa weekend mereka hanya sekadar hang-out bersama orang-orang tercinta. Tiba-tiba Ustadz hanif sudah berada disamping Kiara.
“kamu sering kesini?”tanya beliau kepada kiara yang masih berdiri melihat keramaian di taman itu.
“kalau lagi suntuk saya sering main kesini”
Ustadz hanif berdiri membelakangi Kiara.
“biasanya saya tidak pernah memiliki waktu senggang untuk berjalan-jalan seperti ini, ayo kita berjalan-jalan sebentar”Ustadz Hanif tanpa menoleh kearah Kiara.
“tapi ustadz, bagaimana kalau syafi’i nanti mencari kita?”sahut kiara risau.
“dia kan bisa menghubungi saya”jawab beliau tenang, beliau pun melangkah pergi menjauhi kiara. Kiara mengikuti beliau dari belakang. Kiara melihat banyak para pedagang menjual berbagai macam barang dan makanan disana. Kiara melangkah lebih cepat, ia pun berhasil berjalan disamping ustadz Hanif. Diliriknya beliau, beliau pun membalas melirik kearah Kiara. cepat-cepat kiara menoleh kearah lain.
“apakah ustadz merasa senang?”tanya Kiara sambil menatap anak-anak tidak jauh darinya sedang asyik bermain.
“Iya saya senang”ungkap beliau .
Mereka pun melewati penjual bakso bakar. Lalu Kiara memesan dua tusuk bakso bakar kepada penjual tersebut. Ustadz Hanif pun ikut berhenti bersamanya. Beliau dan kiara memperhatikan dengan saksama penjual bakso bakar itu memproses bakso-bakso itu, mulai dari memanggangnya, memasukkannya kedalam saus kacang dan mengolesinya dengan saus pedas. Kemudian kiara menyerahkan lembaran uang 2 ribu rupiah kepada penjual itu dan tidak lupa mengucapkan terima kasih. Akhirnya dua tusuk bakso bakar itu telah menjadi miliknya. Dia memberikan satu kepada Ustadz Hanif. Tapi wajah beliau terlihat ragu untuk menerimanya lalu beliau pun menggelengkan kepala. Kiara menghela nafas melihatnya. Lalu dengan kesal dia pun berlalu pergi. Dia menuju kursi taman yang terletak tidak jauh darinya. Ustadz hanif tersenyum lalu menyusulnya dan mengambil salah satu bakso itu dari tangan kiara. beliau pun duduk di samping kiara dan memakan bakso bakar tersebut. Kiara tersenyum melihatnya.
Beberapa saat kemudian, mereka pun kembali menuju tempat di mana mobil Ustadz hanif terparkir. Tapi mereka tidak ada melihat syafi’i di sana.
“ustadz, jangan-jangan syafi’i sedang mencari kita” ujar kiara risau. Ustadz hanif memperhatikan sekeliling tempat dimana beliau berdiri. Mata beliau menemukan syafi’i yang sedang makan di warung penjual makanan sarapan pagi yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
“ternyata dia sampai kelaparan menunggu kita”ujar beliau sambil menunjukkan dimana syafi’i berada. Kiara tersenyum melihatnya.
“sebenarnya saya menyembunnyikan sebuah hadiah yang saya siapkan untuk kamu di sini ”ujar beliau tiba-tiba. Kiara tersenyum dan berkata
“saya sudah mendapatkan semua hadiah saya ustadz, bagaimana mungkin saya berani menginginkan hal yang lain”
Ustadz Hanif menoleh ke arah kiara
“saya sudah menyiapkannya, carilah...”
Lalu kiara pun dengan antusias mencarinya. Mulai dari tempat dimana ia berdiri, dibalik bebatuan, di tanah, diantara bunga-bunga , rumput, di dekat ban mobil, diatas mobil kemudian ia memperhatikan dahan pohon diatasnya.
Ustadz Hanif tersenyum geli melihatnya.
“Bukankah baru saja kamu bilang, bahwa kamu tidak memerlukan hal-hal yang lain lagi? Tapi mengapa kamu terlihat serius mencarinya?” ujar Ustadz Hanif. Sedangkan Kiara masih penasaran, dia pun memperhatikan dengan saksama pohon yang berada di dekatnya.
“apa itu sebenarnya?”tanya kiara penasaran.
“mungkinkah itu benda yang sangat kecil sehingga tidak bisa dilihat dengan mata telanjang?”sambungnya sambil matanya terus mencari di sekelilingnya.
“kecil? sembarangan!”seru beliau. Kiara menatap Ustadz Hanif. Beliau tersenyum. Kiara pun melangkah menghampiri beliau dengan tatapan penuh arti seolah-olah dia sudah dapat menebak hadiah itu.
“apakah mungkin, ustadz ingin memberikan mobil ustadz untuk saya?”ujar Kiara sambil menunjuk mobil toyota Rush di belakangnya itu. Ustadz Hanif tertawa.
“kamu berani berpikir seperti itu?”ujar beliau. “bukan itu”sambungnya.
“lalu apa itu?”
“ yang ingin saya berikan kepadamu adalah sesuatu yang tidak tergantikan oleh apapun di dunia ini, di seluruh dunia satu-satunya, yang selama ini banyak wanita yang menginginkannya...”
Kiara tersenyum “mungkinkah...”ujarnya.
Ustadz Hanif tersipu, “sepertinya kamu sudah bisa menebaknya...”
“benar....itu saya..”sambung beliau masih dengan wajah tersipu.
Kiara menundukkan wajahnya dan tertawa melihat beliau begitu.
“apa arti tawamu itu? Apakah kamu menganggap ini lucu?”tanya beliau
“mana mungkin saya berani tidak hormat dengan ustadz”kata-kata Kiara terhenti
“karena saya bahagia, karena saya bahagia maka saya tertawa”lanjutnya. Ustadz Hanif mendekati Kiara.
“bukankah kamu telah memberikan hatimu kepada saya,, maka saya akan memberikan segalanya untukmu...”ujar beliau lalu beliau memandang wajah kiara. Kiara tertegun.
Ku ingin dia yang sempurna
Untuk diriku yang biasa
Kuingin hatinya, kuingin cintanya,
kuingin semua yang ada pada dirinya
kuhanya manusia biasa
tuhan bantuku ntuk berubah
tuk miliki dia, tuk bahagiakannya
tuk menjadi seorang yang sempurna
untuk dia...... (Sammy simorangkir-dia)
-----------------------------
Beberapa menit kemudian mobil itu pun melaju meninggalkan lapangan teladan. Tiba-tiba ponsel ustadz hanif berbunyi. Terlihat beliau terlibat percakapan yang serius dengan orang yang menghubunginya itu.
“fi’i kita tidak jadi ke Rempah hari ini,”ujar beliau setelah mengakhiri pembicaraan via ponselnya.
“kenapa ustadz?tanya syafi’i pandangannya tetap fokus menyetir.
“karena sesuatu hal mereka membatalkan acaranya hari ini.”terang beliau. Kiara hanya mendengarkan saja percakapan mereka berdua. Ternyata pada awalnya ustadz hanif dan syafi’i akan menghadiri acara sebuah organisasi cendikiawan.
“jadi bagaimana ustadz?apakah kita mengantar mbak Kiara pulang dulu?”tanya syafi’i
Ustadz hanif tidak menjawab beliau hanya sibuk dengan ponselnya.
“kita ke pusat kota saja dulu, setelah itu baru kita pulang...”pinta Ustadz Hanif.
“kiara,,,jika kamu menolak saya turunkan kamu disini....”ancam beliau pada kiara.
“tapi ustadz, jika terlalu lama saya juga tidak bisa, karena saya ada kegiatan lagi setelah ini”ujar kiara.
“insya Allah tidak lama, dan ini berkaitan denganmu...”ucap beliau sambil mengisayaratkan kepada syafi’i untuk memutar balik ke arah Pusat kota. Akhirnya mereka pun menuju kota.
Tiga puluh menit kemudian, merek pun sampai di pusat kota. Syafi’i memparkirkan mobil di sebuah toko. Terlihat banner di depannya, dengan tulisan “Syafira Bridal”. Kiara terheran-heran, hatinya bertanya untuk apa Ustadz Hanif mengajaknya kesini. Akhirnya beliau dan Kiara memasuki toko tersebut. sedangkan syafi’i tetap memilih untuk tinggal.
Di dalam toko tersebut terlihat berbagai model busana pengantin. Kiara baru menyadari ini bukan toko, tapi sebuah Bridal gaun Pengantin. Kemudian sampailah mereka di sebuah ruangan yang luas seperti sebuah aula kecil. seorang wanita berjilbab pasmina menghampiri mereka berdua.
“ustadz hanif,,akhirnya anda datang juga...”sambut wanita itu dengan tersenyum.
“apa kamu sudah siapkan,,yang saya pesan..?”tanya beliau kepada wanita itu.
“tentu saja, sudah saya siapkan..”jawab wanita itu sambil melirik kearah kiara.
“apakah ini dia orangnya”tanya wanita itu lagi kepada ustadz hanif.
“iya dia kiara,,kiara ini mbak Vio”ustadz hanif memperkenalkan kiara dengan wanita itu. kIara meyalami wanita itu.
“kalau begitu, tunggu apa lagi kita fitting saja sekarang...”ujar wanita yang bernama Vio tersebut.
“maksud anda fitting gaun pengantin?”tanya Kiara terkejut.
“memangnya ustadz hanif tidak ada memberitahukan kepada mbak kiara?”tanya Vio heran sambil melirik ke arah Ustadz Hanif. Ustadz hanif menjadi kikuk. Kiara pun menoleh kearah beliau, beliau hanya membalas tatapan Kiara dengan senyum tipis.
Vio menyadari suasana tidak enak itu. “ya sudah,,kita langsung saja ya,,,ada beberapa gaun yang harus mbak Kiara coba, ayo...”ajak Vio sambil menarik tangan Kiara.
Kiara mencoba gaun pengantin yang pertama. Lalu dia berdiri di hadapan Ustadz Hanif. Ustadz Hanif memegang dagunya dan mengernyitkan dahi. Kemudian beliau menggeleng. Lalu vio membantu Kiara untuk mencoba gaun yang kedua. Setelah memperlihatkannya kepada ustadz Hanif , masih juga beliau menggelengkan kepala. Akhirnya dia mengenakan gaun yang ketiga.
“tinggal dua gaun lagi yang ini dan ini, tapi moga aja yang ini tepat menurut calon suami mbak ya...”ujar Vio sambil menunjukkan satu gaun berwarna putih.
Beberapa menit kemudian. Kiara telah siap berganti kepada gaun yang ketiga. Dengan berdebar-debar dia memperlihatkan diri dihadapan Ustadz Hanif.
“ustadz bagaimana yang ini?”tanya vio kepada Ustadz Hanif. Beliau membalikkan badannya. Beliau terpana melihat Kiara dengan gaun itu. Beliau benar-benar terpesona melihatnya. Kemudian beliau pun tersenyum.
“kamu terlihat seperti seorang peri dengan gaun itu”puji Ustadz Hanif kepada Kiara. Kiara tersenyum malu mendengarnya. Beliau mendekati kiara.
“saya ingin kamu mengenakannya ketika akad nikah kita nanti...”ujar beliau kepada kiara. kiara menundukkan wajahnya dan terlihat pipinya bersemu menahan malu.
Vio berdehem “bagaimana mau pilih yang ini?”tanya vio sambil tersenyum melihat mereka berdua.
“ya saya ambil yang ini...”pinta beliau. Kemudian beliau tersenyum menatap kiara. Kiara pun ikut tersenyum.
Setelah selesai fitting gaun pengantin di toko itu. Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan. Mereka pun memasuki daerah kesawan, untuk singgah ke rumah orangtua Ustadz Hanif.
Akhirnya beberapa menit kemudian mereka sampai di halaman sebuah rumah. Dengan halaman yang penuh ditumbuhi pepohonan yang asri dan bunga—bunga yang terawat dengan indah. Rumah tersebut terlihat tertata apik dengan sentuhan desain” jaman doeloe” dan minimalis modern.ketika akan memasuki teras rumah, Mereka pun telah di sambut oleh seorang wanita berkerudung biru muda. Wanita itu terlihat cantik, walaupun di umur beliau yang sudah tidak muda lagi. Ustadz hanif memperkenalkan kepada Kiara bahwa wanita itu adalah ummi beliau. Kiara sudah menduga bahwa wanita itu adalah ibu ustadz Hanif. Dari wajah beliau yang cantik tidak mengherankan beliau memiliki seorang putra yang tampan seperti Ustadz Hanif. Kiara pun mencium tangan ummi. Dan mereka pun memasuki rumah itu. Di sana terlihat seorang laki-laki yang tidak terlalu tua sedang membaca koran di atas sebuah kursi rotan. Beliau memperkenalkan Kiara pada orang yang merupakan ayah beliau itu. Mereka pun terlibat dalam perbincangan hangat. Dan disana kiara banyak mengetahui tentang Ustadz Hanif. Terutama tentang Ustadz Hanif, yang sudah tidak memiliki ayah lagi, sedangkan orang yang dianggap ayah itu adalah ayah tiri beliau. Dan beliau adalah anak tunggal dari suami ummi terdahulu. Dan kiara juga baru mengetahui ternyata dahulu ummi menikah dengan ayah ustadz Hanif yang merupakan seorang muallaf tionghoa. Yang kemudian meninggal dunia karena sakit ketika Ustadz Hanif berumur 10 tahun. Dan sekarang Ustadz Hanif memiliki 2 Saudara tiri, anak kandung dari ayah tiri beliau dari pernikahan terdahulu. Tapi saudara tirinya sudah berkeluarga semua. Sedangkan dari pernikahan ummi dan ayah tiri beliau tersebut memilki 2 orang anak, satu orang perempuan yang sedang melaksanakan kuliah di Malaysia dan satu orang laki-laki yang masih duduk di Aliyah di Pesantren Darul Arafah, Sumatera Utara. Setelah melaksanakan shalat zuhur berjama’ah di sana dan menikmati masakan ummi. Akhirnya Kiara berpamitan pulang. Ummi memberikan oleh-olehkepada Kiara untuk diberikan kepada orangtuanya di Tanjung Morawa. Kiara sangat senang menerimanya. Kiara sangat senang sekali. Dan dia menilai keluarga Ustadz Hanif sangat harmonis dan kompak. Kemudian Syafi’i dan Ustadz Hanif mengantarkan Kiara pulang. Lengkap sudah kebahagiaan yang dia rasakan hari ini, karena apa yang menjadi impiannya selama ini benar-benar akan terwujud. Tidak henti-hentinya seulas senyuman manis menghiasi wajahnya.
Apakah Kiara benar-benar akan menikah dengan Ustadz Hanif????Apakah Ustadz Hanif benar-benar mencintainya?????tunggu di bagian selanjutnya.........................................
BERSAMBUNG KE BAGIAN 4…..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SEKERLIP CINTA DI BAWAH DERAI HUJAN

Oleh : Era Puspita
(CERBUNG)
Bagian 1
Kiara melirik arlojinya, waktu sudah menunjukkan pukul 17.10 WIB. Dia pun menoleh kearah jalan tidak terlihat tanda-tanda kedatangan sosok yang dia tunggu sejak tiga puluh menit yang lalu. Halte yang pada awalnya sepi, mulai di padati oleh orang - orang yang menunggu busway di setiap sorenya. Kiara menggoyang-goyangkan kakinya yang terjuntai, dia benar-benar gelisah, kekhawatirannya semakin bertambah setelah kembali lagi ia melihat kearah kampus tidak ada juga terlihat orang yang dia tunggu menampakkan diri. dia kembali membuka inbox pesan pada pesannya tertulis jelas disana :
"kita bertemu di halte depan kampus pukul 5 sore, tapi jika bisa tunggu saya 30 menit sebelumnya"
Kiara menghela nafas, bukan karena ia kecewa atas keterlambatan orang itu untuk menemuinya. tapi rasa risau, penasaran, dan bingung berkecamuk didalam pikirannya. dia pun bertanya-tanya "ada apa sebenarnya Ustadz Hanif ini ingin bertemu dengan saya disini, bukankah jika beliau menginginkan laporan ini seharusnya beliau bisa bertemu dengannya dikampus? apakah saya sudah melakukan satu kesalahan, sehingga beliau tidak mau bertemu di kampus?lalu apa hubungannya dengan itu semua?
memang benar, penelitian ilmiah yang dia lakukan selama ini bersama Ustadz Hanif cukup membuat terjadi kedekatan diantara mereka berdua. Ustadz Hanif adalah seorang Dosen fiqh islam, di Pascasarjana Hukum Islam di salah satu kampus terkemuka di kota medan ini. Beliau masih muda, usia beliau hanya berselisih 6 tahun dengan kiara, dan dia adalah satu-satunya dosen pascasarjana di kampus itu yang belum berumah tangga. Tidak banyak yang tahu kenapa ia belum menikah, jika di lihat dari fisik tentu tidak tepat jika itu alasannya, karena beliau adalah seorang pria yang berdarah jawa-tionghoa, yang tentu saja dapat ditebak seperti apa ketampanan yang beliau miliki itulah yang terpahat jelas dari fisicly beliau. Dari sudut pandang karir dan ilmu, beliau termasuk orang yang berhasil memperolehnya. Walaupun pada dasarnya tidak ada satu pun manusia yang sempurna (kecuali rasulullah.pen), tapi jika di lihat dari kriteria calon suami idaman wanita, maka akan banyak wanita yang akan menunjuk kriteria seperti Ustadz Hanif Izzat ma’arif, Lc.M.Hi . Apalagi beliau bukan tipe laki-laki yang bebas bergaul dengan banyak wanita. Mungkin hal ini dikarenakan kesibukannya sebagai seorang dosen, Ketua jurusan di salah satu jurusan pascasarjana di kampus itu, dosen yang selalu haus dengan berbagai penelitian sekaligus seorang mahasiswa Doktoral. Tapi yang jelas tidak ada satu pun yang tahu mengapa beliau belum menikah dan terkesan cuek dengan wanita. Sehingga sebelum kiara memiliki kejasama penelitian dengan beliau, kiara menganggap beliau itu adalah dosen yang sangat arogan dan tidak nyambung sama sekali setiap kali Kiara bertanya atau mendiskusikan sesuatu dengan beliau. Dan apa yang terjadi hari ini merupakan suatu hal yang aneh pikirnya, Ustadz Hanif menyuruhnya untuk menunggu di halte ini adalah sesuatu yang bahkan tidak pernah terlintas sedikitpun di pikiran Kiara. Walaupun hubungannya dengan beliau cukup dekat tapi itu hanya sebatas untuk membahas penelitian saja tidak lebih. Walaupun Kiara sendiri yang sering merasa gugup setiap kali bertemu denganbeliau. Tapi beliau selalu bersikap biasa saja sebagaimana halnya sikap seorang dosen dan mahasiswa. Kiara teringat satu kejadian ketika Ustadz Hanif keluar dari mobilnya saat itu hari sedang hujan, di tangan beliau penuh dengan tumpukan papper. Saat itu kiara sedang berjalan tidak jauh dari beliau dan hanya memandang beliau saja tanpa ada usaha untuk membantu beliau, apalagi meminjamkan payung yang sedang ia kenakan, sehingga ketika beliau menyampaikan kuliah di kelas kiara. Ia menyampaikan kata-kata seolah-olah untuk menyindirnya beliau mengatakan Bahwa sebagai seorang manusia harus saling membantu baik laki-laki maupun perempuan contohnya jika ada melihat seseorang dilanda kesulitan di saat hujan, apa salahnya kita membantunya walaupun sekedar membantunya meminjamkan payung yang ia kenakan. Kata-kata Ustadz hanif memang sangat tepat tertuju sekali kepada dirinya, apalagi ketika menyampaikan hal itu beliau sempat melirik ke arah Kiara . Kiara pun terdiam seribu bahasa dan pura-pura tidak tahu. Beberapa hari setelahnya, kiara bertemu lagi dengan beliau dalam kejadian yang sama, hujan deras pun turun ketika Ustadz Hanif keluar dari mobilnya dengan membawa setumpuk pepper di tangannya, lalu kiara mendekati beliau dan memayungi beliau. Ustadz Hanif kaget dengan apa yang dilakukan oleh kiara tersebut, namun kiara tidak memperdulikannya bahkan dia juga tidak peduli dengan bajunya yang basah. Setelah sampai di depan kantor Jurusan Ustadz Hanif memandangnya dengan heran.
“apa yang kamu lakukan?”tanya ustadz hanif
“saya hanya tidak ingin ustadz kehujanan, maksud saya pepper yang ustadz bawa, saya yakin sekali salah satu pepper itu adalah bahan penelitian yang saya juga ikut terlibat mengerjakannya”jawab Kiara sambil sesekali mengibaskan gaunnya yang basah.
“kemana lagi kamu setelah ini?”tanya Ustadz hanif sambil meletakkan Pepper di atas meja yang tidak jauh darinya.
“saya mau pulang lagi ustadz, saya harus cepat menuju halte karena busway nya pasti sebentar lagi akan lewat”ujar Kiara.
Ustadz Hanif membuka blazer yang ia kenakan, dan mengenakannya ke pundak kiara. Kiara terkejut dengan apa yang beliau lakukan.
“ap apa,,,,yang ustadz lakukan?”tanya kiara kikuk.
“apakah kamu mau bertemu dengan orang-orang di busway dengan pakaian basah seperti itu?, setidaknya mereka tidak akan melihatnya” tukas Ustadz Hanif
Kiara terdiam.
“Baiklah,,hati-hati di jalan,, assalammu’alaikum” ucap beliau, kemudian belia mengambil pepper itu kembali dan melangkah memasuki kantor,
“wa’alaikumussalam warohmatullah”jawab Kiara gugup. Lalu matanya pun menyapu kesekeliling tempat dimana ia berdiri. Dia takut kalau-kalau ada yang melihat kejadian itu. Namun tidak ada terlihat ada siapa-siapa di sana.
Kiara menghela nafas lega. Jika ada yang lihat, dia takut akan ada spekulasi yang tidak baik dari orang-orang.
Kemudian di hari berikutnya, ketika ia sampai di gerbang kampus hujan pun mengguyur derasnya. Tapi saat ini ia lupa membawa payung, sedangkan ia harus cepat ke ruangan belajar karena ada kelas Sejarah Hukum Islam dengan Ustadz Iqbal. Tiba-tiba seseorang yang mengenakan mantel hujan memayunginya dengan payung yang ia kenakan. Kiara terkejut lalu di lihatnya orang yang disampingnya itu, ternyata dia adalah Ustadz Hanif.
“karena saya tidak ingin merepotkan orang lagi maka saya membawa payung sendiri sekarang dan anggap ini untuk membalas bantuanmu telah memayungi saya waktu itu”ujar Ustadz Hanif dengan tenang.
Kiara menjadi bingung, Ustadz Hanif menyadari kebingungannya. Lalu ia memayungi Kiara dengan daerah yang teduh lebih banyak pada kiara, sedangkan beliau mendapatkan bagian yang sedikit. Tapi payungnya lebih besar ukurannya dibanding payung yang dimiliki kiara sehingga Payung itu cukup melindungi tubuh beliau tapi karena jas hujan yang beliau pakai membuat beliau tetap terlindung dari hujan. Ketika menuju ruangan kuliah, Kiara benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya.
“terima kasih ustadz”ucap Kiara singkat sesampai nya di depan ruangan belajar itu.
“baiklah,,jangan lupa, bawa semua peppermu besok,assalammu’alaikum”tukas beliau sambil berlalu pergi.
“wa’alaikumussalam warohmatullah”jawab kiara dengan masih memasang wajah bingung. Kiara menoleh ke kanan dan ke kiri tapi dilihatnya koridor terlihat sepi hanya beberapa cleaning servis yang berlalu lalang di sana. .
Ya itulah awal dari semua sikap aneh yang ditunjukkan Ustadz Hanif kepada dirinya tapi ia tidak berani berpikir lebih jauh mengapa beliau bersikap seperti itu, karena dia merasa dia bukan siapa-siapa dia merasa Ustadz Hanif bersikap seperti itu karena dia adalah orang yang baik bisiknya dalam hati. tiba-tiba ia merasakan sesuatu terasa sesak di dadanya, dia pun meremas jemarinya sendiri, entah kenapa perasaan gugup kembali menyelimuti dirinya. seketika tatapannya pun tertunduk kebumi. Orang-orang semakin ramai memadati halte itu. Waktu merambat semakin sore. tiba-tiba dia melihat sepasang kaki berhenti di dekatnya. kiara menengadahkan pandangannya dan dia melihat sosok yang dia tunggu telah berdiri di dekatnya. Kiara pun tertegun sesaat. beliau tersenyum kepadanya. Kiara pun menjadi kikuk dibuatnya.
"maaf sudah menunggu lama,"ujar beliau.
"iya Ustadz, tidak apa-apa, hmmm,,ini laporannya...."tukas kiara dengan kikuknya sembari menyerahkan sebuah berkas kearah beliau.
“luarbiasa, ternyata kamu menyelesaikan laporan ini disini”ujar beliau sambil membolak-balik laporan itu masih dengan wajah tanpa ekspresi apapun.
“saya kerjakan di rumah....Ustadz,”sela kiara. Ustadz Hanif duduk disamping kiara, dengan meletakkan tas laptopnya di antara beliau dan kiara. Kiara menoleh kearah ustadz hanif dan memperhatikan wajah beliau. Lalu Cepat-cepat dia membuang muka kearah jalan dengan kikuk, ketika beliau menoleh kearahnya.
“biar saya bawa laporan ini,,” ucap beliau sambil memasukan laporan itu kedalam tas laptopnya.
Kiara hanya memperhatikan tingkah ustadz hanif tanpa berani komentar apapun. Dia tidak pernah sampai segugup ini, tidak seperti biasanya jika dia berdiskusi mengenai penelitian dengan beliau dikampus atau ketika sedang mengikuti kelas Fiqh Islam dengan beliau.
“Ada apa denganmu?kamu sakit?”tanya ustadz Hanif kepada kiara yang diam seribu bahasa.
“oh,,tidak , tidak apa-apa....hmmm boleh saya bertanya sesuatu, ustadz?”kiara berusaha mengalihkan pembicaraan.
“bertanya apa?”
Itu,,,kenapa ustadz tidak naik mobil seperti biasanya,,? Saya lihat ustadz selalu naik busway akhir-akhir ini?”
Apakah dengan naik busway, membuat saya menjadi pria yang kurang tampan?”
Kiara tertawa mendengarnya.. ustadz Hanif pun ikut tertawa pula. Dari kejauhan Busway yang di tunggu pun semakin mendekati sisi halte. Orang-orang semakin merepatkan diri ke pintu halte. Kiara pun bersiap-siap sama seperti dengan yang lainnya.
“apakah kamu akan naik busway yang ini?”tanya ustadz Hanif
“iya., kenapa ustadz tetap duduk, ayo kita naik tunggu apa lagi”
“sepertinya busway ini bukan jurusan tempat tinggal saya...”ujar beliau.
Kiara mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
“baiklah ustadz saya mohon izin,,,ilal liqo’ assalammu’alaikum wr.wb”ucap naya dan dia pun berbaur dengan kerumunan orang-orang yang masuk kedalam busway yang telah berhenti tepat di pintu halte itu. Kiara duduk dekat dengan jendela melihat kearah ustadz hanif yang masih dengan santainya duduk sendiri di halte. Perlahan busway itu meninggalkan halte, lalu ustadz hanif melemparkan senyum kerahnya dan melambaikan tangannya kearah Kiara. Kiara tersenyum sendiri melihatnya. Lalu dia tersadar ustadz hanif sebenarnya bukan sedang melambaikan tangan, tapi dia sedang melambaikan sebuah ponsel yang sangat mirip sekali dengan ponsel miliknya. Kiara pun mengaduk-aduk tas yang dia bawanya, tidak ada ia menemukan ponsel genggamnya disana. Busway masih terus melaju dengan kencang. Sedangkan kiara terus mencari-cari Ponselnya. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke halte.
“pak tolong berhenti,tolong minggir pak, ....”seru Kiara panik kepada pengemudi Busway. Kemudian busway pun berhenti mendadak.
“maaf pak, saya meninggalkan ponsel saya di halte,biar saya turun disini saja pak,sekali lagi saya mohon maaf” ujar Kiara panik.
Lalu kiara pun turun dari busway itu, kiara setengah berlari menuju halte yang sudah cukup jauh ditinggalkan oleh busway tadi. Dia teringat ponsel yang digenggam oleh ustadz hanif tadi.apakah jangan-jangan itu memang ponselnya. Didalam pikirannya dia benar-benar berharap itu adalah ponselnya. Dengan panik dia berlari di trotoar menuju halte itu. Dia tidak memperdulikan pejalan kaki yang menatap aneh ke arahnya. Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika dia melihat ustadz Hanif berdiri di trotoar. Dengan nafas yang masih tersengal-sengal dia menatap kearah Ustadz Hanif yang tersenyum kesal kearahnya. Ustadz Hanif menyerahkan ponsel berwarna silver itu kearahnya. Kiara mencoba mengatur nafas. Dengan tersenyum lega dia menerima ponsel itu.
“alhamdulillah” ujar Kiara sambil memeluk ponsel itu.
“dasar ceroboh....”sungut Ustadz Hanif kesal.
“terima kasih ya ustadz,,,,”ujar Kiara
“iya sama-sama”jawab beliau dengan berlalu meninggalkan Kiara begitu saja.
“ustadz....satu lagi,,,!”seru kiara
Ustadz Hanif menoleh, “ada apalagi?”
“maafkan saya”
“untuk apa?”
“pertama karena saya ceroboh, kedua karena saya,,,,,,,,”
“karena apa?”
“ustadz meminta saya untuk menunggu di halte, itu membuat saya bertanya-tanya”
Ustadz hanif mendekati Kiara.
“apakah menurutmu, saya seperti seseorang yang membuat janji denganmu?”
“saya lihat seperti itu”
Darimana kamu mengetahuinya,,,?”
“dari penampilan ustadz...”
Ustadz Hanif memperhatikan penampilannya, baju koko yang di balut dengan blazer dan syal putih katun melingkar di leher.
“apakah ada yang aneh bukankah saya selalu berpenampilan seperti ini setiap kali mengisi kuliah?”tanya beliau kepada Kiara yang tersenyum geli melihatnya.
“gak aneh sih, Cuma kelihatan seperti mubaligh mau khutbah jumat,,”ledek Kiara.
Ustadz Hanif hanya tersenyum mendengarnya.
“ustadz mengapa mengajak saya bertemu di halte? apakah saya melakukan hal yang mengecewakan ustadz sehingga ustadz tidak mau berjumpa dengan saya di kampus?”
“pertanyaan kamu, tidak menunjukkan pertanyaan dari seorang mahasiswa magister...”ujar Ustadz Hanif sambil meneruskan langkahnya.
“tapi kenapa ustadz?” seru kiara. Suara kira membuat Beberapa pejalan kaki di trotoar melihat kiara dengan aneh . Kiara pun tersenyum kikuk kearah mereka, lalu mempercepat langkahnya mengejar ustadz hanif, akhirnya dia pun berjalan disisi beliau.
“boleh saya tanya kenapa ustadz?”tanya Kiara penuh selidik.
“ada sesuatu, yang ingin saya bicarakan denganmu,,,”ujar beliau.
“mengenai.....?”tanya kiara masih dengan wajah penasaran.
“mengenai penelitian yang sedang kita kerjakan, kamu harus lebih menyempurnakannya, dan saya ingin kamu mulai mentranslate kalimat-kalimat itu kedalam bahasa inggris,,,,”terang beliau dengan masih terus berjalan tanpa memandang ke arah kiara. Sedangkan kiara memasang wajah kecewa,
“ ternyata Ustadz Hanif hanya ingin mengatakan itu” pikirnya.
Sayup-sayup terdengar alunan musik instrumental yang berasal dari sebuah toko. Kiara mempercepat langkahnya mendahului ustadz Hanif, dan ia pun berhenti tepat di depan estalase sebuah toko alat-alat musik. Matanya tertuju pada sebuah biola yang dipajang disana. Ustadz hanif menyusulnya, beliau berdiri di belakangnya, terlihat bayangan beliau terpampang jelas dari kaca estalase toko itu. Terbayang olehnya, ketika ia mengikuti less biola beberapa tahun yang silam. Namun itu tidak berlangsung lama. Ketika ia harus disibukkan dengan urusan kuliah sehingga ia harus meninggalkan alat musik yang sangat ia sukai itu.
“apakah kamu menyukainya...?” tanya Ustadz Hanif .
Kiara terdiam.
“saya menyukainya.....”ujar ustadz Hanif. Kiara tersenyum dengan tatapan yang tidak terlepas dari biola itu.
“ya semua orang boleh menyukainya, baik saya maupun ustadz”ucap kiara. Terlihat senyum tipis menghiasi wajah nya.
“Saya menyukai, tidak hanya barang berharga yang ada di dalam estalase itu, tapi juga sosok berharga yang ada di hadapan saya”
Kiara terkejut dengan ucapan beliau. Perlahan dia pandang wajah Ustadz Hanif dari bayangan yang dipantulkan kaca estalase itu.
“menikahlah dengan saya,,”
Kiara terperanjat dengan kata-kata itu. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Dia menoleh ke arah Ustadz Hanif. Dia pandang wajah beliau sekali lagi, terlihat jelas wajah beliau yang tenang dan tidak ada tanda-tanda yang terlukis di wajah beliau yang menyatakan bahwa beliau sedang bercanda apalagi berbohong. Kiara benar-benar tidak tahu harus berbuat apa bahkan dia tidak mampu mengatakan kata-kata apapun.
“ustadz,,apakah ini tidak terlalu tiba-tiba?” Kiara berusaha mengalahkan kerisauannya. Lalu dia menundukkan wajahnya yang masih tidak mampu menatap wajah beliau.
“sebaliknya saya berpikir,, saya terlalu banyak membuang waktu untuk memulainya, saya ingin mengakhiri kesendirian ini dan mengisi sisa waktu saya dengan seseorang,, yaitu kamu”
Ustadz Hanif mengeluarkan sesuatu di dalam sakunya, sebuah kotak kecil berwarna jingga dan memberikannya kepada Kiara. Dia hanya diam memandang dengan ragu kotak itu, melihat keraguan tersirat dari wajah gadis itu, ustadz Hanif menarik syalnya dan membalut tangan kirinya dengan syal tersebut dan mengangkat tangan kanan Kiara dan meletakkan kotak tersebut di atas telapak tangannya
“saya kira kamulah yang pantas mengenakannya...... “ ucap ustadz hanif kemudian.
Kiara membuka kotak itu dan dia melihat sebuah cincin. Dia pernah mengetahui cincin itu sebelumnya, ketika beliau pernah kehilangan sebuah cincin pemberian ibunya dan Kiaralah yang menemukan cincin itu di antara tumpukan berkas penelitiannya. Airmatanya menetes membasahi pipinya, tangisnya pun tidak bisa lagi dibendung, dia pun menutup mulutnya seketika mencoba menahan sedu sedan yang ia rasakan. Antara perasaan bahagia, tidak percaya bercampur menjadi satu dan semua itu bergejolak di dalam hatinya.
“Apakah,,,saya sedang bermimpi Ustadz...?”tanya kiara mencoba menyakinkan dirinya.
Ustadz Hanif menggelengkan kepala dan tersenyum. Tiba-tiba hujan pun turun, orang-orang dan pejalan kaki berlarian mencari tempat berteduh. Kiara menatap lekat kearah ustadz Hanif, sedangkan mata beliau mengitari di sekilingnya mencari tempat untuk berteduh. Kemudian beliau menarik lengan Kiara dan mereka pun berlari menuju satu tempat untuk berlindung dari hujan. Sayup-sayup terdengar lagu “cinta tanpa syarat” yang di populerkan oleh Afghan yang mengalun dari toko tersebut :
Aku ingin terus,,,, ada di hatimu
Aku lelaki yang tak bisa mudah menggantimu
Meski pun diriku takut akan kelemahanmu
Ku takkan lari,,, karena cintaku sempurna

(bersambung..................................)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS