manakala hati menggeliat mengusik renungan
mengulang kenangan saat cinta menemui cinta
suara semalam dan siang seakan berlagu
dapat aku dengar rindumu memanggil namaku
saat aku tak lagi disisimu ku tunggu engkau di keabadian
aku tak pernah pergi selalu ada di hatimu
engkau tak pernah jauh selalu ada di hatiku
sukmaku berteriak menegaskan ku cinta padamu
terima kasih pada maha cinta menyatukan kita
saat aku tak lagi di sisimu ku tunggu kau di keabadian
(CINTA SEJATI- BCL ost habibie ainun)
♥ BAGIAN 5 ♥
Dengan risau Kiara mondar-mandir di depan kamarnya. Saat itu
penampilannya sangat anggun sekali dengan kebaya biru muda yang dia
kenakan, senada dengan jilbab yang terpasang dengan cantik semakin
membuatnya terlihat sangat ayu bak putri keraton.
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Namun tamu penting yang di tunggu dari tadi tidak kunjung tiba.
tiba-tiba terdengar ucapan salam dari teras rumah.
“assalammu’alaikum,,,”
“wa’alaikumussalam”sahut Bapak di ikuti oleh beberapa orang yang telah berkumpul di ruang tamu.
Orang itu memasuki ruang tamu, ternyata dia adalah syafi’i. Kemudian
dia duduk di sisi bapak. Kiara dan dua orang temannya mengintip dari
balik tirai kamar.
“hei cah-cah gadis, ngintip-ngintip kayak
gitu,,,,,orah ilok(pantang-pen),,,”tegur ibu yang tiba-tiba saja hadir
diantara mereka.
Kiara langsung beringsut masuk ke dalam kamar,
sedangkan kedua temannya terlihat bercakap-cakap dengan ibu di luar.
Kiara benar-benar cemas saat itu, dia meremas sendiri jemarinya dengan
gelisah. dia juga sangat penasaran apa yang di sampaikan syafi’i kepada
bapak, ini pasti berkaitan dengan keluarga ustadz hanif yang tidak
kunjung datang, kemudian dia membuka jendela kamarnya yang menghadap
kearah halaman rumah. Dia melihat syafi’i di antar oleh ayah dan ibu
keluar rumah. Dan terdengar percakapan mereka.
“itulah pak, saya
juga tidak tahu kenapa ustadz hanif tidak ada kabarnya dari tadi, di
telepon gak di angkat-angkat tadi sempat di cari juga ke kampus juga
tidak ada, tadi sebenarnya pak Siswoyo (Ayah Ustadz Hanif-pen) yang mau
datang kesini tapi kondisi beliau tidak memungkinkan untuk datang, jadi
kebetulan saya pulang dari bengkel langsung ditelepon sama beliau untuk
mengatakan ini kepada bapak, ya kami akui ini benar-benar situasi yang
sangat tidak mengenakkan dan kami benar-benar sangat mengecewakan bapak
dan keluarga, sekali lagi kami benar-benar mohon maaf”ujar syafi’i.
Bapak menepuk bahu syafi’i.
“ya sudah,,kami dapat maklum, kami yakin ini pasti bukan keadaan yang
disengaja, malah sekarang kita yang khawatir ada apa dengan nak hanif,
sampai tidak ada kabarnya seperti itu...”
Tiba-tiba terdengar suara nyaring handphone syafi’i, raut wajahnya terlihat sumringah
“ustadz hanif.....”bisiknya kepada bapak dan ibu. lalu dia angkat telepon itu.
“assalammu’alaikum ustadz,,,,”tampak syafi’i sedang mendengarkan ucapan ustadz dari seberang sana.
“gimana? Rumah sakit?”wajah syafi’i berubah panik, bapak dan ibu juga panik mendengarnya.
“halo-halo...ustadz”terdengar suara koneksi yang terputus begitu saja dari handpone syafi’i.
“itu tadi nak hanif kan?kenapa dengannya?”tanya ibu dengan panik.
“saya tidak yakin....” gumamnya. syafi’i diam termanggu dengan raut wajah bingung.
“ada apa sebenarnya dengan ustadz?”tanyanya dalam hati.
“nak hanif...”ibu membuyarkan kebingungan syafi’i.
“pak, ibu saya pamit,,saya harus memastikan dulu dimana ustadz hanif
dan apa yang terjadi sebenarnya,,dan sekali lagi atas nama keluarga
beliau kami mohon maaf”ujar Syafi’i sambil menyalami bapak dan ibu.
tanpa basa-basi, syafi’i bergegas menuju sepeda motornya dan tancap gas
meninggalkan kediaman kiara tersebut.
“ibuk,,,,,kiara tidak ada di
kamarnya.....”tiba-tiba terdengar suara Anggi salah satu teman Kiara.
ibu terkejut mendengarnya. `
“kiara...kemana dia?”
dengan
setengah berlari bapak dan ibu menuju kamar putrinya itu. disana mereka
hanya melihat kerudung berikut aksesorisnya tergeletak di atas ranjang.
Di tengah keributan halte tempat penantian bus kota. Kiara
menunggu bus kota yang biasa menuju ke kampus dengan harap-harap cemas.
Dia memang nekat meninggalkan rumah begitu saja, setelah mendengar
kata-kata rumah sakit. Dia khawatir terjadi sesuatu yang tidak di
inginkan pada Ustadz Hanif. Dengan kebaya biru dan kain panjang yang dia
kenakan cukup menarik perhatian orang-orang yang juga sedang menanti
bus di halte itu. sesekali ia memperbaiki letak sandalnya, dia baru
menyadari bahwa dia masih menggunakan sandal berhak tinggi. Orang-orang
ada yang saling berpandangan heran karena melihat penampilan kiara,
tapi karena pada dasarnya kiara adalah orang yang sangat cuek, membuat
keadaan itu tidak mengganggunya sama sekali apalagi dalam keadaan
seperti ini tidak ada waktu baginya untuk peduli dengan perhatian
orang-orang kepadanya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, terlihat di layar
ponselnya dengan nama kontak “Bapak”. Kiara mengangkat ponselnya.
“Bapak,,,maafin kiara, kiara benar-benar panik dengan ustadz, saya harus
menemuinya, jangan khawatir,,saya tidak apa-apa pak,,saya akan segera
pulang ,
Iya......assalammu’alaikum”den
“aku gak boleh sedih,,,,itu hanya ponsel
aku bisa mendapatkannya kembali,ustadz hanif jauh lebih penting”serunya
dalam hati. Lalu dia pun meneruskan perjalanannya menuju kampus. Saat
itu waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 sore. Dia merasa yakin kampus
pasti telah tutup, tapi besar harapannya dia bisa mendapatkan informasi
tentang beliau disana. Dengan terburu-buru kiara melangkah ke sisi jalan
tapi dia merasakan sakit di daerah kakinya, ternyata sandalnya itu
membuat jemari kakinya memar. Namun dia tidak memperdulikan hal itu
dengan langkah yang tertatih dia menghentikan angkot dengan jurusan ke
arahkampusnya.
______________________________
Mobil toyota rush berwarna silver itu memasuki halaman rumah
klasik-minimalis yang terdapat di jalan kesawan – Medan itu. bertepatan
dengan itu, syafi’i menyusul dengan motor satria nya dari belakang
mobil. Dia membuka helmnya, dan memandang dengan heran kearah mobil itu.
Ummi dan Pak Siswoyo tergopoh-gopoh menuju ke halaman rumah menyambut
kedatangan ustadz hanif. Ustadz hanif keluar dari mobilnya kemudian
beliau membuka pintu mobil dan keluarlah seorang wanita menggendong
bayinya dan disusul wanita lain yang menggendong seorang anak laki-laki.
Syafi’i, ummi dan ayah terkejut melihatnya.
“hanif,,,ada apa ini?
Diakan......”tanya ummi bingung melihat hal itu. syafa yang menyadari
tatapan heran dari keluarga ustadz hanif itu, hanya bisa diam dan
tertunduk tanpa berkata-kata apapun.
Ustadz hanif terdiam sejenak.
“ummi ,, bayi syafa tadi terkena demam tinggi jadi saya membewanya ke
rumah sakit, dan ponsel saya low bate jadi tidak bisa menjelaskan lebih
banyak”imbuh beliau.
“lalu...”ummi tidak melanjutkan kata-katanya, karena tiba-tiba saja bayi yang di gendong syafa menangis.
“saya mohon,,syafa bisa tinggal di sini dulu mi, untuk malam ini,,,
insyaAllah besok siang dia akan kembali ke Pekanbaru...”ujar ustadz
hanif.
Syafa menghampiri ummi dan mencium tangan beliau. ummi hanya diam melihatnya.
Ummi memandang Syafi’i dan ayah, ayah menganggukkan kepala kepada ummi.
“ya udah..ayo kita masuk dulu....”ujar ibu, lalu mengantar syafa, dan baby sister nya itu ke kamar tamu.
Ayah memandang hanif dengan diam, lalu menghampiri ustadz hanif dan
menepuk bahu beliau, kemudian masih dalam diam beliau meninggalkan
ustadz hanif yang terlihat murung di wajahya. Syafi’i menghampiri
beliau.
Syafi’i tidak ingin berbicara banyak dengan beliau. karena
dia sangat menyadari orang yang sudah dia anggap seperti abangnya
sendiri itu sedang mengalami suatu hal yang berat, sehingga dia
mengurungkan niatnya untuk bertanya banyak hal kepada beliau. apalagi
dengan melihat kehadiran syafa tentu hal itu menyimpan beribu pertanyaan
di benak syafi’i.
“ustadz....kita harus mencari syafa, dia kini
sangat mengkhawatirkan ustadz,,”ujarnya kemudian. Sepintas Ustadz hanif
terkejut mendengarnya, serta merta beliau pun masuk kedalam mobil di
ikuti syafi’i.
Syafi’i mengambil posisi di belakang setir. Dia
melirik ustadz hanif yang mengusap wajah nya, tergambar jelas kerisauan
bercampur rasa bersalah yang begitu dalam terlihat di wajah beliau.
mobil itu pun melaju meninggalkan rumah itu
Kiara duduk
termanggu di sisi kantor jurusan. Dia tidak mendapatkan informasi apapun
tentang ustadz hanif disana. Dia pun beranjak bangkit meninggalkan
teras kantor menuju mushalla ketika terdengar kumandang azan magrib.
Beberapa menit kemudian dia pun berjalan dengan gontai menuju halte.
Halte itu tampak sepi, dia kembali duduk di penantian bus sesekali ia
meremas ujung kebayanya. Saat ini dia masih menkhawatirkan ustadz hanif.
Kata-kata rumah sakit memang cukup menjadi hal yang menakutkan buatnya.
Sedangkan ustadz hanif dan syafi’i kembali melintasi kota setelah selesai melaksanakan shalat di masjid setempat.
“kemana kita mencarinya lagi ustadz?”tanya syafi’i dengan mata yang masih fokus menatap jalan di depannya.
Ustadz hanif memainkan touch screen ponsel beliau.
“belum ada kabar dia pulang ke rumah”ujar beliau kepada syafi’i.
“ustadz ada menghubungi orangtua kiara?”tanya syafi’i.
Ustadz hanif melemparkan pandangannya kesisi jalan.
“iya,,bahkan mereka juga sangat mengkhawatirkan saya,,sehingga saya
tidak sanggup untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya”
Beliau
masih menatap sisi jalan. Masih dengan pandangan kosong. Lampu-lampu
jalan berwarna-warni yang menyemarakkan kota tak mampu menarik beliau.
beliau hanya diam seribu bahasa entah pikiran apa yang berada di
benaknya.
“saya tahu,,dimana dia sekarang...”ujar beliau tiba-tiba.
“putar balik saja kita ke kampus”pinta ustadz hanif. Tanpa bertanya
syafi’i pun langsung memutar balik setir dan menuju ke kampus.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan kampus, ustadz hanif
meminta syafi’i menghentikan mobil, ketika mereka sampai di halte depan
kampus. Dari seberang jalan Tampak seorang gadis berkebaya biru duduk
termenung menunggu bus kota di halte . Ketika ustadz hanif membuka
pintu. Tiba-tiba saja bus kota merapat di halte, lalu gadis itu naik ke
dalam bus tersebut.
Ustadz hanif masuk lagi ke dalam mobil dan
meminta syafi’i untuk mengejar bus itu. tidak lama kemudian mobil itu
pun tepat berada di belakang bus itu. dengan lihai syafi’i memotong bus
itu dan mendahuluinya. Ustadz hanif memintanya untuk berhenti dan di
turunkan di halte yang tidak jauh di depan mereka.
“nanti saya hubungi lagi kamu....”ujar ustadz hanif setelah sampai di halte yang di tuju.
“oke ustadz,,saya duluan,,assalammu’alaikum”ucap
Perlahan bus kota yang di tunggu pun datang. Ustadz hanif pun berdiri
menyambut bus itu. bus itu merapat di sisi halte, dengan sigap beliau
pun naik ke dalam bus. Bus beranjak meninggalkan halte itu. ruangan bus
terlihat lengang, hanya beberapa orang nampak di sana. Mata beliau
mencari di mana kiara. pandangan beliau pun berhenti pada seorang gadis
yang tertidur sendiri di kursi memanjang terletak di bagian paling
belakang bus. Dengan tenang beliau menghampirinya. Lalu beliau duduk di
sampingnya. Ditatap kembali kiara yang terlihat lelah, memiringkan
wajahnya ke arah beliau dengan mata terpejam.
Ustadz hanif menarik
syal putih yang beliau kenakan, dan beliau selimutkan ke tubuh kiara.
kiara tidak bergeming, dia masih terlihat pulas dalam tidurnya. Beliau
menatapnya lagi, lalu beliau pun membuang tatapan beliau ke depan bus,
perasaan bersalah masih menggelayut di hati beliau. terbayang kembali di
dalam ingatan, bagaimana sebelumnya beliau bisa dekat dengan syafa
hingga beliau memiliki hati untuknya, walaupun pada awalnya di mata
beliau kiara sama dengan gadis yang lain, samasekali tidak memiliki
keistimewaan apapun didalam hati beliau. jika bukan karena kerja sama
penelitian yang merupakan awal kebersamaan mereka, mungkin beliau masih
sulit untuk dekat apalagi hingga membuka hati untuk seorang gadis.
Seketika kembali terbersit dalam ingatan tentang pertemuan beliau
dengan syafa hari ini.
“sadarlah....syafa adalah masa lalu,,”tegas
beliau dalam hati. Kembali beliau melirik kearah Kiara. gadis itu
masih terlelap. tiba-tiba tanpa sadar kepala kiara bergerak ke arah
bahu beliau. beliau pun tertegun ketika kepala kiara telah menyentuh
bahu beliau. beliau menoleh kearah kiara. namun gadis itu tetap terlelap
seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Menyadari akan hal itu beliau pun
berusaha untuk membangunkannya, perlahan beliau mengangkat tangan kanan
beliau dan mengarahkannya ke kepala kiara. Ketika tangan beliau akan
menyentuh kepala kiara, melihat wajah lelah kiara, beliau pun
mengurungkan niat. Ditariknya kembali tangan beliau , dan kembali
membuang pandangannya ke depan bus. Sedangkan kepala kiara masih tetap
bertumpu di bahu beliau.
Suara tape recorder dari bus mengalun
lembut memutar sebuah lagu yang mengingatkan beliau saat terakhir kali
beliau mengungkapkan perasaan beliau di tengah hujan waktu itu kepada
Kiara.
Aku belajar mencintaimu mencintai tanpa syarat apapun
Meski engkau yang tersulit untukku tapi ku tak ragu
Kini kita semakin jauh bahkan sulit utk kembali
Kuberi semua yang ada padaku tanpa syarat apapun
Aku ingin terus ada di hatimu,,,
Aku lelaki, yang tak bisa mudah menggantimu
Meski aku takut akan kelemahanmu
Kutakkan lari karena cintaku sempurna....
Beberapa menit kemudian tiba-tiba Bus berhenti mendadak karena
menurunkan seorang penumpang. Saat itu pula, kiara terbangun dan dia
sangat terkejut, ketika menyadari kepalanya sedang bertumpu di bahu
seseorang. Dia pun cepat-cepat mengangkat kepalanya dan membenarkan
posisi duduknya.
“maaf...maafkan saya,,saya tidak sengaja,,,,”ujarnya dengan panik.
Orang yang berada di sampingnya hanya terdiam, dengan panik bercampur
malu kiara pun menoleh ke arah laki-laki itu. dia terperanjat.
“ustadz...?!!!...”serunya.
Beliau menoleh dan melempar senyum kepada kiara.
“ustadz...ini benar ustadz?,saya tidak sedang bermimpikan?apakah ustadz
baik-baik saja?”tanya kiara panik dan berusaha menyakinkan dirinya.
Saking paniknya hingga dia tanpa ia sadari dia memegang tangan beliau.
ketika ia merasakan bahwa dia memang tidak mimpi. Terlihat raut wajah
lega terlukis di wajahnya.
“ya Allah,,alhamdulillah,
syukurlah,,,,ternyata saya tidak sedang bermimpi,,,”ujar kiara dengan
wajah berseri-seri. Lalu dia melirik ke arah tangannya yang masih
memegang tangan beliau, baru ia menyadari apa yang ia lakukan
cepat-cepat dia menarik tangannya. Ustadz hanif masih diam seribu
bahasa melihat tingkah kiara. beliau menatap kiara yang masih tersenyum
lega dan beliau pun berujar
“ki...maafkan saya,saya tidak bisa ....”
“ustadz,,,jangan katakaan apapun,,ustadz baik-baik sajakan?saya takut
terjadi sesuatu pada ustadz..,”potong kiara sambil menatap ke arah
ustadz hanif. Wajah kiara terlihat gelisah.
Ustadz hanif
menggelengkan kepala. Kiara tersenyum lega. Wajahnya terlihat
berseri-seri seolah-olah tidak memperdulikan apa pun yang dia alami
selama seharian itu. bus itu pun terus melaju.
Beberapa saat
kemudian mereka pun sampai di tanjung morawa. Mereka pun turun dari bus
itu, dan berjalan beriringan. kiara masih menatap ustadz hanif dengan
wajah berseri. Ustadz hanif menoleh ke arah kiara. kiara tersenyum
kepada beliau dan dia pun menoleh ke arah jalan yang berada di depannya.
“tahukah ustadz...saya benar-benar sangat bersyukur sekali,,,saya
seperti merasakan sebuah kebahagiaan yang tidak terhingga, melihat
ustadz baik-baik saja” ujar kiara dengan matanya yang masih tertuju
dengan jalan yang cukup ramai di lalui oleh pengguna jalan. Ustadz hanif
masih diam, tatapannya juga tertuju ke depan, seolah-olah beliau
kehilangan kata-kata yang harus beliau ucapkan pada kiara. beliau
melihat kiara yang berjalan sedikit pincang
“kenapa dengan kakimu?”tanya ustadz hanif pada kiara dengan memperhatikan kaki kiara.
“oh ini tidak apa-apa kok ustadz, ini...oh ya karena saya tidak biasa
memakai sandal berhak tinggi, jadi pincang-pincang jalannya,,kalau tau
tadi saya tidak akan memakainya”ujar kiara sambil melepaskan sandalnya.
Dia pun kembali berjalan dengan kaki yang hanya terbungkus kaus kaki.
Ketika dia berusaha untuk kembali melangkahkan kaki. Kiara meringis
menahan sakit.
“kita istirahat saja dulu di situ”pinta ustadz hanif
sambil menunjuk warung yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Dengan langkah yang tertatih kiara berjalan menuju tempat itu. dan kiara
pun duduk di bangku yang berada di warung itu. ustadz hanif duduk di
sampingnya.
“angkat kakimu ke atas bangku...”pinta ustadz hanif.
“ustadz,,mana mungkin saya berani mengangkat kaki saya di hadapan ustadz...”ujar kiara.
Tanpa basa basi, ustadz hanif mengangkat kaki kiara. kiara terkejut
dengan yang di lakukan oleh beliau, beliau pun dengan tenang membuka
kaus kaki kiara. terlihat jemari kaki kiara yang memerah dan lecet di
sana. Lalu beliau memesan air dan penicilin kepada pemilik warung itu.
kemudian beliau mencuci luka itu dan membubuhi penicilin ke atas luka
dengan penicilin yang sudah beliau haluskan sebelumnya. Akhirnya beliau
mengeluarkan sapu tangan beliau dan menyobeknya untuk membalut luka itu,
hal yang sama pun beliau lakukan di kaki yang sebelahnya.
Kiara diam sejenak memperhatikan apa yang di lakukan oleh beliau.
“kenapa ustadz lakukan itu? bukankah itu tidak seharusnya di lakukan?”
kiara membuka suara menunjukkan rasa herannya dengan apa yang dilakukan
oleh ustadz hanif itu. ustadz hanif tersenyum mendengar pertanyaan kiara
itu.
“apa kamu ingin mengatakan,, apa yang saya lakukan ini tidak
sesuai dengan syariat, begitu? Jika itu yang ingin kamu katakan,
seharusnya kamu mengulang kembali mata kuliah qawaidh fiqhiyah pada
program sarjana kamu dulu”
Kiara hanya diam mendengar jawaban
beliau. beliau pun selesai membalut luka kiara. serta merta kiara pun
menurunkan kakinya dan kembali mengenakan kaus kakinya.
Ustadz hanif mengeluarkan ponselnya dan jemari beliau terlihat sibuk mengetik sesuatu.
“ki....mengapa kamu tidak ada bertanya kepada saya atas ketidak hadiran
saya dalam acara pertunangan?”tanya ustadz hanif . beliau menoleh ke
arah kiara.
“saya rasa, itu tidak perlu saya tanyakan”
“kenapa?”
“cepat atau lambat, ,ustadz datang atau tidak, saya yakin ustadz bukanlah orang yang main-main”
“walaupun saya akan mengatakan kita belum bisa melangsungkan pernikahan secepatnya?”
Kiara terdiam, dia menoleh ke arah ustadz hanif.
“bahkan jika kita tidak berjodoh sekali pun, saya akan siap
menerimanya, karna dengan merasakan apa yang saya rasakan saat ini,
menjadi seorang wanita yang di cintai oleh seseorang yang saya anggap
terlalu sempurna buat saya dan saya juga bisa mencintai ustadz seperti
ini ,sudah cukup membuat saya memiliki segalanya”
Ustadz hanif tertegun mendengarnya. beliau menoleh memandang kiara.
“malam sebelum acara pertunangan saya bermimpi, kita mendaki sibayak,
mengumpulkan banyak edelweis hingga kita sampai di puncaknya. Lalu
tiba-tiba saya tergelincir ke sisi jurang, saya berteriak minta tolong
kepada ustadz tapi seolah-olah ustadz tidak mendengar suara saya, ustadz
tetap asyik memetik edelweis dan melangkah pergi meninggalkan saya,
sejak itu saya merasa khawatir dengan ustadz. Saya khawatir ada sesuatu
terjadi pada ustadz atau tiba-tiba ustadz akan meninggalkan saya.”ujar
kiara dengan sedih.
Tidak lama kemudian, sorot lampu mobil
menyilaukan tatapan mereka. Mobl itu pun berhenti tidak jauh dari
mereka. Keluar seseorang dari mobil itu. ternyata itu adalah syafi’i.
“bingung saya mencari ustadz sama mbak kiara dari tadi...”gerutunya.
“ya sudah,,sekarang kan sudah ketemu..”sahut ustadz hanif.
“bagaimana?”tanya beliau lagi kepada syafi’i.
Syafi’i hanya memberikan kode dengan membuat lingkaran dari jari
telunjuk dan ibu jari yang melambangkan tanda “ok” dan menganggukkan
kepala. Kiara tidak mengerti apa maksud mereka berdua. Akhirnya mereka
bertiga pun meninggalkan tempat itu dan menuju rumah kiara. jarak antara
jalan raya dengan perkampungan dimana Kiara tinggal memang cukup
jauh, sekitar satu kilometer dari rumah kiara. beberapa saat kemudian
mereka telah di hadang oleh keramaian yang memenuhi jalan desa yang
mereka lalui.
“mengapa ramai”?tanya ustadz hanif. Kiara mengintip
dari jendela mobil, terlihat orang-orang berjejalan, sehingga membuat
mobil itu sulit untuk lewat.
“ini ustadz ada pasar malam”jawab syafi’i yang masih berusaha dengan hati-hati untuk menembus keramaian.
“lebih baik kita jalan saja dari sini ustadz”ujar kiara.
“bukankah kaki kamu sakit, kita lanjutkan saja pelan-pelan..”kilah ustadz hanif.
“tidak apa-apa , kaki saya sudah mendingan kok, lagian rumah saya kan tidak jauh lagi, dari sini”
Ustadz hanif melirik syafi’i. Syafi’i mengedikkan bahu.
“ok...kalau begitu kita jalan saja...”ujar ustadz hanif kemudian.
Ustadz hanif keluar dari mobil. Tapi syafi’i tetap tinggal di sana.
Kiara berusaha membuka pintu yang kemudian di bantu oleh ustadz hanif
membukanya. Memang daerah itu tampak ramai sekali. Kiara sedikit
tertatih.
“ustadz biar saya berusaha untuk lewat..”ujar syafi’i.
Ustadz hanif dan kiara berusaha menerobos keramaian. Setelah mereka
sampai di tempat yang tidak terlalu ramai.
“ternyata masih ada desa seperti ini...”gumam ustadz hanif.
“ha??...maksud ustadz ,?”tanya kiara tidak mengerti
“iya ,, desa yang tidak jauh dari kota,tapi mengapa seolah-olah mereka tidak pernah mendapat hiburan..”jawab ustadz .
“mungkin karena inikan malam pertama pasar malamnya buka, jadi wajar
saja kalau ramai..paling beberapa malam kedepan pengunjungnya tidak akan
seramai ini...”ujar kiara sambil terus melangkah mengikuti ustadz
hanif. Kiara menoleh ke arah pasar malam itu. ustadz hanif yang berjalan
di depannya, berhenti dan menoleh ke belakang. Di lihatnya kiara yang
tersenyum melihat salah satu wahana di pasar malam itu. ustadz hanif
kembali menghampiri kiara.
“kamu ingin naik baling-baling itu....?”tanya ustadz hanif .
“eng ...nggak,,siapa juga yang mau naik, saya tidak mungkin pergi
kesana dengan pakai kebaya seperti ini, lagian pun saya juga masih
terlalu lelah ustadz”ujar kiara sambil melanjutkan langkah kakinya, tapi
tiba-tiba dia menabrak seorang anak perempuan yang berusia sekitar 6
tahun. Kembang gula yang berada di tangan anak itu jatuh ke tanah.
“aduh dek,,maafin kakak ya,,kakak tidak sengaja” ujar kiara kepada anak itu.
Anak itu tidak menjawab dia memungut kembali kembang gula itu. ustadz hanif menghampiri mereka berdua.
“eits,,itu jangan di ambil lagi,,itu sudah kotor ya,”tegur ustadz hanif
, beliau mengambil kembang gula itu dari tangan anak itu. anak itu
terlihat kecewa, cepat-cepat kiara berlutut di hadapan anak itu.
“ya sudah kakak belikan lagi ya....”hibur kiara.
“beneran kak.?...”
“iya..”jawab kiara sambil tersenyum.
“ayo kak,,abang yang jual kembang gulanya di sana,,”seru anak itu
sambil menarik tangan kiara. kiara terkejut, ketika akan melangkah,
langkahnya terhenti, dia pun melepaskan sandalnya. Ketika akan mengambil
sandalnya, anak itu menarik tangannya begitu saja. Akhirnya dia pun
berlari mengikuti anak itu dengan kaki yang terbalut kaus kaki saja.
Ustadz hanif terheran-heran melihat kejadian itu. beliau pun tersenyum
geli dan menggeleng-gelengkan kepala. Mata beliau tertuju pada sandal
kiara yang tergeletak begitu saja, di sana. Beliau pun memungut sandal
itu. dari jauh beliau melihat kiara yang membelikan kembang gula untuk
anak itu. beliau juga melihat seorang pria dan wanita yang mendekatinya,
kemudian pria itu menggendong anak perempuan tadi. Ustadz hanif datang
menghampiri mereka.
“maafkan anak saya ini ya mbak,,,dia memang sedikit nakal”sesal ibu itu.
“oh gak apa-apa kok bu, saya yang salah karena sudah membuat kembang gulanya jatuh,,,”sahut kiara ramah.
“ayoo bilang apa sama tante itu...”pinta ayah itu kepada putrinya yang sudah berada dalam gendongannya.
“makasih ya kak....eh..tante...”ujar anak itu dengan tingkah lucunya. Kiara tersenyum melihatnya.
“iya sama-sama...”jawab kiara. dengan lembut dia pun mengelus rambut anak itu. anak itu memberikan seutas balon kepada kiara.
“untuk tante...”ujar anak itu. kiara tersenyum geli, akhirnya dia
menerima balon itu. lalu keluarga itu berpamitan dengan kiara. ustadz
hanif yang memperhatikan dari tadi, menyerahkan sandal kepada kiara.
“ternyata anak itu, mengenal dengan baik seperti apa karaktermu...”ujar
ustadz hanif sambil melirik ke arah balon yang mengambang di atas
kepala kiara. kiara pun ikut memandang balon itu.
Lalu mereka pun tertawa melihatnya.
Tiba-tiba terdengar letusan kembang api di angkasa. Semua pengunjung
pun memandang ke atas langit. Tampak beberapa anak laki-laki berlari
dengan membawa batangan kembang api di tangannya. Tiba-tiba seorang
bapak datang menghampiri ustadz hanif dan kiara.
“mas,,ini tolong di bantu nyalakan kembang api ya,,,”ujar bapak itu.
Ustadz hanif bingung. “memangnya ada acara apa nih pak...?”
“tidak ada ,,, Cuma biar lebih semarak aja..”jawab bapak itu sambil
menyulutkan korek api pada sumbu kembang api itu. dan menyerahkan
kembang api itu kepada ustadz hanif, dan memberikan satunya lagi kepada
kiara.
Ustadz hanif terkejut ketika bola-bola api keluar dari
kembang api itu. sedangkan kiara tertawa riang melihat bola-bola api itu
meluncur dari kembang api yang berada di tangannya. Keterkejutan ustadz
hanif pun berubah menjadik keceriaan, mereka pun tertawa lepas saat
bola-bola api itu berpendar menjadi kilauan cahaya berwarna-warni di
angkasa di ikuti suara letusan yang memecah keramaian. Ustadz hanif
merasakan hatinya terlepas dari semua beban yang membelenggunya.
Seolah-olah semua masalah yang di alami beliau terpencar bersama
pecahnya setiap bola api yang menghiasi angkasa. Beliau pun melirik ke
arah kiara, terlihat kiara yang tertawa lepas dengan memandang ke
angkasa, sangat jelas raut kebahagiaan terpapar di sana. Ustadz hanif
terpaku sejenak, terasa getaran lembut menyentuh dawai hatinya, sebuah
getaran yang sudah lama tidak pernah beliau rasakan lagi. Beliau masih
terpaku memandang kiara. lalu kiara pun menoleh ke arah beliau, beliau
pun tersadar dan membuang pandangan kembali ke angkasa, senyuman malu
pun terlukis di wajah beliau.
“kembang apinya sudah habis...”ujar
ustadz hanif. Mata beliau masih memandang langit yang penuh dengan
kepulan asap yang menyebarkan aroma mesiu dari kembang api yang telah
habis mereka nyalakan.
“iya sudah habis....kita pulang lagi..”sahut kiara.
“ya..”jawab ustadz hanif mengangguk.
______________________________
Rumah kiara tampak sepi, mestinya tamu-tamu tadi sudah pulang. Dengan tertatih kiara melangkah menuju pintu rumahnya.
“apa ustadz akan ikut saya kedalam?”tanya kiara
“iya, saya ingin mengucapkan pemohonan maaf saya kepada Bapak dan Ibu
atas ketidak hadiran saya tadi” jawab beliau. ketika masuk kedalam
rumahnya, di ruang tamu ternyata dia sudah di sambut oleh bapak , ibu,
kedua kakaknya, dan yang paling mengejutkan di sana sudah menunggu ummi
dan pak siswohyo.
Kiara terkejut sekali melihat mereka. Kiara
menoleh ke arah ustadz hanif. Beliau tersenyum melihat keterkejutan
kiara. sedangkan syafi’i senyum-senyum sendiri. Ternyata mereka berdua
sudah merencanakan hal ini, pikirnya.
Ibu menghampiri kiara.
“nduk,,benar-benar kamu itu anak nakal semua orang mengkhawatirkan kamu,
keluar rumah gak pakai pamit trus di hubungi gak aktif nomor
handponenya”omel ibu.
“kenapa itu kakimu?”tanya ibu lagi.
Kiara yang masih dilanda kebingungan , menggelengkan kepala. Ustadz hanif tersenyum melihatnya dia pun berkata pada ibu
“ini salah saya bu, maafkan saya”
Beliau melirik ke arah kiara.
“seperti katamu tidak ada kata terlambat bukan?”
Kiara menatap ustadz hanif dengan tatapan tidak percaya.
“ ustdaz, anda benar-benar membuat saya sangat terkejut”ujar kiara dengan senyum kesal menghiasi wajahnya.
Semua yang ada di ruangan itu pun tertawa melihat tingkah mereka
berdua. akhirnya kedua keluarga itu pun terlibat perbincangan yang
hangat dan berlangsunglah acara lamaran ala budaya jawa bersentuhan
islam pada malam itu juga.
SEKERLIP CINTA DI BAWAH DERAI HUJAN.. bag 5
Diposting oleh
Unknown
|
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 komentar:
Posting Komentar