RSS

SEKERLIP CINTA DI BAWAH DERAI HUJAN "bagian 4"

(Bagian 4)

Hari itu merupakan pagi yang indah, keindahannya mampu menyejukkan embun yang menari lembut di kelopak dedaunan . Sesekali wajah pagi mengedipkan matahari yang mulai malu-malu menampakkan diri yang kerapkali berusaha menutup wajahnya dengan selembar awan putih namun kehadiran pangeran bumi, membuatnya tidak berdaya untuk menghindar sehingga matahari pun tersenyum cerah menghangatkan suasana ibarat kisah romansa sepasang pujangga cinta.
Kiara berputar-putar di depan cermin. Dia memperhatikan dirinya yang dibalut kebaya panjang yang ia pakai. Hari ini, ustadz Hanif akan datang untuk mengkhitbahnya (meminang-pen). Dia pun tersenyum melihat bayangan dirinya sendiri di dalam cermin. Tiba-tiba seorang wanita setengah baya, memasuki kamarnya.
“kiara-kiara,,bukannya masmu datang siap zuhur,,kok udah gak sabaran,,masih pagi-pagi udah siap-siapa pakai kebaya,”ujar wanita itu menggoda Kiara. kiara menjadi salah tingkah. Wanita yang ternyata ibunya itu, duduk di kursi depan meja rias, beliau pun tertawa melihat kelakuan putri bungsunya itu.
Kiara bergelayut manja di bahu ibunya. Dan memandang wajah ibunya dari cermin.
“ibu,,,,hari ini kiara bener-bener bahagiaaaaa banget, akhirnya sebentar lagi anak ibu ini akan menikah dengan pangerannya...”
“iya,,sebentar lagi,,kau pergi ninggalin ibuk sama bapak, ikut sama suami,,,akhirnya bapak sama ibuk udah kehilangan satu anak lagi”ujar ibu sambil mengelus kepala Kiara.
“ibu dengerin deh, kiara menikah bukan berarti kiara akan berpisahkan dengan ibu?apa perlu setelah kiara menikah nanti, kiara tetap tinggal di sini aja?”tanya kiara.
“hush ngawur kuwi,,,kalau orang udah nikah itu, suami yang menjadi panutan buat istri, ibarat pepatah jawa surgo nunut neroko katut, ngikut kemanapun suami pergi,mana bisa seenakmu sendiri,trus gak bisa juga masih manja kayak gini”omel ibu sambil menjewer lembut telinga putrinya itu.
“tapi walaupun kiara udah menikah , kiara gak kan biasa menghilangkan kebiasaan manja sama ibu kayak gini ..”ujar kiara. dia pun mencium lembut pipi ibu yang sangat dia cinta itu. Ibu tersenyum melihat kiara dari cermin.

Kesibukkan juga terlihat di rumah ustadz hanif.
Terlihat ummi, ayah dan Ustadz Hanif berkemas-kemas, mempersiapkan semua yan akan di bawah kerumah kiara.
“dimana syafi’i, ummi tidak ada lihat dari tadi?”tanya ummi sambil tetap merapikan beberapa bingkisan di depan beliau.
“dia pergi ke pasar bengkel tadi pagi, dia mengurus masalah pemasokan barang di kedai dodolnya”ujar ustadz ahanif sambil ikut merapikan bingkisan itu.
“ternyata syafi’i itu hebat ya, belum lagi tamat kuliah tapi udah jadi saudagar,,,”sela ayah
“iya,,bocah itu memang piawai untuk masalah dagang”sambung ustadz Hanif sambil tersenyum.
“oh iya,,hampir saya lupa mi, sebelum fi’i pergi dia ada menitipkan dodol, dia meminta untuk kita bawa ke Rumah Kiara dan lainnya untuk Ranti di malaysia”ujar ustadz hanif lagi. Ranti adalah adik sulung ustadz hanif dari pernikahan ummi dengan ayah tiri beliau. saat ini Ranti sedang mengenyam pendidikan S1 nya Di negeri jiran Malaysia.
“ternyata syafi’i itu perhatian betul ya sama si ranti,,sepertinya baru kemarin dia meminta kamu untuk membawakan dodol”ujar ummi. Ustadz hanif yang diajak bicara hanya tersenyum mendengarnya.
“ya wajarlah mi,,ranti kan udah dianggap seperti adinya sendiri oleh syafi’i malah dia juga lebih dekat dengan syafi’i daripada dengan hanif”sahut ayah tersenyum sambil melirik kearah hanif. Ustadz hanif tertawa renyah menanggapi perkataan ayah itu.
“gimana mau dekat sama hanif, wong kalau ketemu sama hanif suasananya jadi sepi seperti suasana di pemakaman pahlawan, mana cocok dengan ranti yang ributnya bukan main seperti pasar”tukas ummi.
“tapi saya akhirnya bersyukur juga pada gusti Allah, cah bagus ini akhirnya telah menemukan seseorang bidadari yang bisa melumerkan hatinya yang beku, lihat itu wajahnya sekarang, gak dingin lagi,, malah cerah seperti bulan purnama”goda ummi sambil mengusap-usap kepala putra yang paling disayanginya itu.
“sudah ummi,,,ayah,,,cukup ya, saya gak bisa bicara apa-apa lagi untuk menanggapinya”ujar ustadz hanif yang mulai menampakkan wajah malu.
“kalau begitu sekalian aja nif, ambil dodol itu biar yang untuk kiara kita bungkus bersama yang lainnya disini”pinta ummi.
Kemudian ustadz hanif pun melangkah menuju mobil beliau. Beliau pun membuka bagasi dan mengambil sebuah kotak berisi beberapa bungkus dodol beraneka rasa itu. Tiba-tiba ponsel beliau berbunyi. Beliau kesulitan mengambil ponselnya di saku kemeja beliau kenakan. Kemudian beliau letakkan kotak tersebut di atas bangku yang terletak di depan teras rumah. Terlihat nama sekretaris jurusan di layar ponsel beliau.
“assalammu’alaikum pak yamin...”salam beliau. Terdengar sahutan pak yamin dari seberang sana. Kemudian beliau pun terlibat pembicaraan singkat dengan pak yamin
“baiklah saya akan kesana...”ujar beliau mengakhiri pembicaraan, setelah mengucapkan salam beliau pun menutup ponselnya. Beliau mengambil kembali kotak itu dan bergegas masuk kedalam rumah.
“ummi,,tampaknya saya harus ke kampus dulu, insya Allah setengah jam kemudian saya akan pulang”terang beliau sambil meletakkan kotak berisi dodol itu di atas meja makan.
“lho,,bukannya nanti jam 1 kita harus sudah berangkat.?”tanya ummi heran.
“lebih baik kamu tunda dulu untuk urusan kampus hari ini hanif,.”sambung ayah..
“tapi pak yamin, menelepon saya dan terlihat ada urusan yang sangat penting, tidak sepertinya beliau meminta saya untuk datang seperti ini ”ucap ustadz hanif.
“tapi kamu harus cepat pulang,,jangan sampai kita terlambat datang kesana, kita tidak boleh memberikan kesan pertama yang tidak baik kepada keluarga kiara,,paham itu nak...”ujar ummi sambil menepuk bahu putranya itu. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 11 pagi. Sedangkan mereka sekeluarga akan berangkat ke Tanjung Morawa sekitar pukul 12.45 siang. Beliau menyambar jaket dan bergegas menuju ke mobil beliau. Kemudian Mobil toyota rush silver itu pun melaju dengan kencang menuju kampus.
Beberapa menit kemudian, beliau telah sampai di kampus. Beliau pun langsung menuju kantor jurusan, dari sudut koridor beliau melihat pak yamintergesa-gesa keluar dari kantor. Lalu ustadz hanif pun datang menhampirinya.
“assalammu’alaikum pak yamin”salam beliau kemudian
“wa’alaikumussalam,,”jawab beliau
“ada apa sebenarnya, apakah rapat bersama rektor akan dilaksanakan hari ini?”tanya beliau. Tapi pak yamin hanya memperlihatkan wajah diam. Dan menggelengkan kepala.
“mereka meminta saya untuk tidak menjelaskan,,, kenapa anda harus datang kesini...”ujar pak yamin.
“mereka? Mereka siapa maksudnya pak..?” tanya Ustadz hanif. beliau memandang pak yamin dengan tatapan tidak mengerti.
“dua orang perempuan dengan anak-anaknya, saya juga tidak kenal, ustadz lihat saja ya sendiri, sekarang saya sedang ada kelas , saya pamit dulu assalammu’alaikum”pamit pak yamin tersenyum. Dan berlalu pergi meninggalkan ustadz hanif yang masih dengan air muka penuh tanda tanya.
Perlahan beliau melangkahkan kaki menuju ruangannya. Dari bibir pintu langkah beliau terhenti ketika beliau melihat dua orang wanita berada di dalam ruangannya. Seorang wanita berkerudung biru tua yang tidak pernah ia kenal sebelumnya duduk di atas sofa sambil memangku bayi, tidak jauh darinya seorang wanita lainnya mengenakan jilbab yang hampir menutupi seluruh tubuhnya sedang duduk di atas kursi dengan menghadap kearah meja kerja beliau. Sehingga beliau tidak dapat melihat siapa wanita itu. Ketika beliau akan mengucapkan salam, Tiba-tiba seorang anak laki-laki kira-kira berumur 3 tahun datang dari sudut ruangan menghampiri wanita itu.
“ummi..haqqi bisa buat ni,,”seru anak itu sambil mengacungkan pesawat kertas dan menghampiri wanita itu.
Wanita tersebut membalikkan badan ke arah anak itu. Ustadz Hanif terkejut sekali ketika ia melihat, siapa wanita itu. Beliau terperangah melihatnya. Wanita itu pun tersadar, dia pun menoleh ke arah ustdaz hanif. Wanita itu pun tertegun memandang ustadz hanif. Tatapan mereka bertemu seperti yang pernah terjadi pada 4 tahun yang lalu. Seolah-olah membuka kembali tabir masa lalu yang penuh luka dan kepedihan.
Wanita itu menghampiri ustadz hanif.
“mas hanif,,,,,,,,”ucapnya lirih.
Ustadz Hanif diam tidak bergeming sedikit pun. Beliau benar-benar syok melihat wanita itu. wanita yang seharusnya sudah hilang dari kenangannya itu, mengapa harus hadir kembali di hadapannya. Dia adalah Wanita yang telah menghancurkan perasaan dan cintanya yakni Syafa Fadhilla Khudhori. Kini, Wanita itu memilki penampilan yang berbeda tidak seperti ketika terakhir kali beliau bertemu dengannya di maroko. Dulu dia berpenampilan seperti seorang muslimah kebanyakkan. Namun syafa yang berada di hadapan beliau saat ini terlihat lebih anggun dengan hijab yang jauh lebih sempurna di banding sebelumnya. Mungkin ini dikarenakan karena ia telah menikah dengan seorang suami dari keluarga salafiah. Ustadz hanif tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa berdiri mematung, ketika syafa melangkah semakin mendekat ke arah beliau.
“mas saya....”syafa tidak melanjutkan perkataannya. Ustadz hanif menatap tajam kearah syafa, syafa tak kuasa menatap beliau dia pun menundukan kepalanya.
“ma-maafkan saya,,,”suara syafa terdengar terbata-bata, terlihat wajah penuh penyesalan di raut wajahnya. Ustadz hanif masih diam dengan ekspresi kosong. Susana hening sejenak. Wanita berkerudung biru yang sedang menggendong bayi itu menggandeng anak laki-laki tadi untuk mengajaknya keluar dari ruangan itu. melihat hal itu, ustadz hanif menghela nafas perlahan.
“kita bicara di luar....”ujar ustadz hanif dingin. lalu beliau melangkahkan kai meninggalkan ruangan itu, dengan patuh syafa mengikuti beliau sedangkan wanita yang satunya lagi memandang mereka dengan diam lalu dia tetap tinggal dalam ruangan bersama bayi dan anak laki-laki itu.
setelah sampai di sebuah gazebo yang tidak jauh dari ruanagan kantor beliau, ustadz hanif menghentikan langkahnya. Suasana tampak lengang hanya kicauan burung yang melantunkan senandung hari di ujung pagi. Namun tampaknya senandung itu, mengalun disaat yang tidak tepat. ustadz hanif menggenggam dada beliau. masih terasa perihnya luka menyesaki rongga dada. luka yang teramat dalam yang masih membekas di hatinya.
“apa yang kamu lakukan disini?”tanya beliau. Beliau pun menoleh ke belakang, menatap dingin ke arah wanita itu.
“maafkan saya mas,saya benar-benar telah melakukan dosa besar di hadapan mas, atas kesalahan saya di masa lalu..”ucap syafa, suaranya terdengar bergetar. Syafa menghela nafas, dia berusaha menguasai dirinya di depan ustadz hanif. Dia melanjutkan kata-katanya kembali.
“dulu, saya tidak berniat untuk meninggalkan mas, itu semua saya lakukan dengan terpaksa karena tuntutan orang tua saya agar saya menikah dengan laki-laki lain”
Ustadz hanif membuang tatapannya. Untuk beberapa saat dia masih terdiam.
“itu semua sudah tidak ada lagi hubungannya dengan saya, hal itu sudah saya anggap sebagai masa lalu, dan tidak perlu di ungkit-ungkit kembali..”sahut beliau.
“apakah sekarang mas, masih membenci saya?sedangkan sekarang ini saya tidak tahu harus mengadu kepada siapa lagi, di setiap kali saya memohon petunjuk kepada Allah, hanya mas yang memenuhi pikiran saya, karenanya, saya putuskan untuk mencari mas, karena saya yakin hanya mas yang dapat membantu saya dalam situasi ini, sya yakin ini adalah jawaban Allah untuk saya...”ujar syafa, isak tangisnya pun mulai terdengar.
Ustadz hanif tertegun mendengarnya,
“Apa maksud kamu?”tanya beliau. Beliau pun menoleh ke arah syafa.
Syafa pun menangis .
“saya sekarang telah bercerai dengan suami saya, mas”
Ustadz hanif terkejut mendengarnya. Air mata syafa pun bercucuran di sudut matanya, dengan lemah ia menatap wajah dingin ustadz hanif.
“bagaimana bisa saya dapat bahagia dengan sebuah pernikahan jika selama ini dia telah banyak melakukan tindakankasar dan semena-mena terhadap saya dan anak-anak, ternyata perkiraan keluarga saya selama ini terhadap dia adalah salah ternyata dia bukan figur seorang suami atau seorang ayah yang baik untuk keluarga saya”ujar syafa masih dengan isak tangisnya.
Ustadz hanif hanya diam membisu. Lalu beliau menghela nafas
“saya tidak ada hak,,untuk ikut campur dalam rumah tangga orang lain apalagi harus mendengarkan sebuah aib rumah tangga yang seharusnya tidak boleh diceritakan kepada orang yang tidak memiliki kepentingan disana, bahkan Allah sangat melaknat akan hal itu”ujar beliau tanpa menatap sedikit pun kearah syafa.
“sekarang saya tidak punya banyak waktu, saya tidak ingin pembicaaan kita disini menyebabkan fitnah bagi orang lain yang melihatnya sedangkan saya hari ini harus malangsungkan pertunangan”
Pertunangan?”tanya syafa tidak percaya.
“ karena itu saya tegaskan kepada kamu , sebagai seorang wanita baik-baik, tentu kamu sangat menyadari bukan? pantas atau tidak kamu bersikap seperti itu kepada seorang laki-laki yang ajnabi, terlebih lagi laki-laki ajnabi itu akan menikah, saya yakin kamu juga sangat memahami bagaimana menjaga marwah dan harga diri. silahkan kamu meninggalkan kampus ini dan kembalilah ke pekanbaru kemudian selesaikan persoalan rumah tangga yang kamu alami dan jangan berharap apapun lagi kepada saya, karena saya tidak ingin terlibat dalam sebuah masalah yang saya tidak ada kepentingan disana ”terang beliau, beliau pun membalikkan badan dan berlalu pergi.
“mas hanif!!!”seru syafa. Ustadz Hanif menghentikan langkah beliau.
“saya mohon,,tolong mengertilah dengan keadaan saya ini,,,”ujar syafa dengan suara terisak. Ustadz hanif tidak bergeming. tanpa berbalik sedikit pun, beliau melanjutkan langkah meninggalkan wanita itu. namun syafa mengejar beliau dan berlutut di hadapannya.
“apa yang kamu lakukan? Cepat kamu berdiri”ujar ustadz hanif panik. Syafa menangis lalu dia menundukkan wajahnya.
“tidak mas,,saya tidak akan pergi dari tempat ini,saya akan lakukan apapun, jika perlu saya akan mencium kaki mas, jika itu bisa membuat mas dapat mengerti apa yang saya alami saat ini,saya benar-benar membutuhkan bantuan mas, karena mantan suami saya akan membawa anak-anak saya ”ujar syafa, terasa sekali syafa yang mencoba menahan isak tangisnya dari gemetar suaranya.
“selain itu bukankah dulu mas pernah berkata kepada saya walaupun pada akhirnya kita tidak berjodoh, mas tidak akan membiarkan saya menghadapi masalah saya sendiri, mas tidak akan tinggal diam saat saya menderita apalagi hingga saya mengalami masalah keretakkan rumah tangga seperti ini dan saya juga sangat mengenal siapa Hanif Izzat Ma’arif ,,dia bukanlah seorang pengecut dan munafik, sehingga dia tidak akan melupakan begitu saja apalagi menjadi orang yang tidak komitmen dengan apa yang pernah dia katakan ”tutur syafa , wajahnya masih tertunduk menatap kedua kaki ustadz hanif.
“karena itu,,,saya datang kesini untuk menagih apa yang pernah mas katakan itu.....”lanjut syafa, perlahan dia mengangkat wajahnya memandang ustadz hanif.
Ustadz Hanif termanggu mendengar penuturan syafa. tatapan beliau yang kosong seolah-olah menerbitkan ribuan kata kebimbanganyang semakin berkecamuk di kepala beliau. di dalam hati, Beliau pun membenarkan apa yang dikatakan syafa, bahwa beliau dulu memang pernah mengatakan hal itu kepadanya, tapi saat itu beliau tidak pernah berpikir jika perpisahannya dengan syafa berakhir dengan cara yang begitu menyakitkan. Namun kini keadaanya telah berubah karena rasa sakit itu beliau mengenang syafa sebagai seorang yang menebarkan luka yang sangat dalam di hatinya. Diam-diam beliau menyesali apa yang pernah beliau katakan dulu, sebuah perkataan terkesan sepele, tidak penting, dan kata-kata yang hanya mengikuti emosi sesaat saja, sedangkan beliau sendiri tidak bisa menjamin apakah beliau benar-benar bisa memenuhinya.tapi ustadz hanif bukanlah tipe seorang yang tidak bertanggung jawab dengan apa yang pernah beliau katakan. Sekarang beliau kembali terdiam, hanya itulah yang bisa beliau lakukan saat ini. Hati beliau pun dengan pilu mengadu “ya Allah...apa yang harus hamba lakukan...”
Perlahan Beliau pun memandang syafa yang masih berlutut di hadapannya. Dan bertanya
“apa yang harus saya lakukan untuk membantumu?”
Syafa terhenyak seketika mendengar pertanyaan ustadz hanif itu, dia memandang beliau dengan tatapan tidak percaya.

Ku takkan pergi bila kau anggap aku ada
Hanya mencintamu pun aku bisa
Takkan ku sesali hidup tanpamu aku bisa
Akan hanya cinta yang ku bawa pulang (kau anggap apa-ungu)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar