Bagian 2
Ustadz Hanif tidak tidur setelah melaksanakan qiyamullail, beliau
melanjutkan kesibukannya mengetik penelitian yang sudah dekat deadline
pengumpulannya. Beliau tetap asyik mengetik , sehingga beliau tidak
sadar waktu berputar dengan sangat cepat. Beliau meneguk kopinya, dan
tersadar kopi itu sudah dingin. Sayup-sayup terdengar adzan subuh
memanggil umat dari peraduannya. Beliau bangkit dari kursinya untuk
mengambil wudhu’. Gemericik air wudhu membasuh wajah lelah beliau,
sehingga beliau merasa segar kembali. Seusai shalat terdengar tilawah
qur’an melantun dengan tartil. Memhiasi wajah pagi, menyegarkan hati
kelam dan menghangatkan senyum mentari yang masih manja untuk bangun
dari buaiannya. Suasana itu terus berlanjut walau telah berlalunya
isti’adzah lalu shadqta mengakhirinya. Beliau melatakkan alqu’an itu ke
dalam tas laptop beliau, pagi ini beliau akan berangkat ke malaysia
untuk menyelesaikan program doktoral nya. Tiba-tiba Teringat pembicaraan
beliau dengan kiara beberapa waktu yang lalu.
“saya harap kamu
telah menyelesaikan pengetikan pada bab 3 dan 4, karena sepulang dari
malaysia saya ingin melihat semua hasil kerja kamu” ujar ustadz hanif
dengan mata beliau yang tidak terlepas dari kitab Bidayatul Mujtahid di
hadapannya.
“jadi saya harus menyelesaikan semuanya ustadz?bagaimana
bisa?sedangkan saya belum menguasai metodologinya?”tukas kiara panik,
dia membolak-balik laporan-laporan yang di buatnya.
Namun ustadz Hanif masih tetap asyik dengan kitabnya tanpa menghiraukan Kiara sedikit pun. Kiara pun menjadi jengkel dibuatnya
“bahkan kita belum observasi ke lapangan.....”sungut kiara jengkel. Tapi ustadz hanif masih dengan tenang membaca kitab itu.
“ustaddddz........!”seru kiara kesal.
Ustadz hanif memukul gulungan kertas ke kepala kiara.
“kamu kerjakan saja,,dan jangan banyak komentar, paham!”beliau menatap kesal kearah kiara.
Kiara melongo di perlakukan seperti itu. Dia pun menghela nafas sambil mengusap-usap kepalanya.
“ya ustadz, insyaAllah saya kerjakan dan akan selesai setelah ustadz
kembali, assalammu’alaikum” sungut kiara sambil menyusun
laporan-laporannya dan bergegas pergi . beliau tersenyum melihatnya
sambil menggeleng-gelengkan kepala .
Ustadz hanif tersenyum
sendiri mengingat peristiwa itu. Memang diakui banyak peristiwa aneh
yang terjadi diantara beliau dengan kiara. Sepertinya beliau akan
banyak bersabar menghadapi gadis yang akan menjadi calon istrinya itu.
Beliau pun mengambil ponselnya di atas meja, beliau ingin menyampaikan
sesuatu sebelum beliau berangkat ke Malaysia. Tapi tanpa sengaja tangan
kiri beliau menyenggol kotak yang berisi tumpukan papper yang terletak
tidak jauh dari meja belajar beliau, sehingga isi kotak itu pun
berserakan ke lantai. Beliau berusaha merapikan kembali makalah-makalah
tersebut dan memasukkannya ke dalam kotak, lalu tiba-tiba beliau melihat
sebuah bingkai berukuran 5 R tergeletak diantara makalah-makalah itu.
Beliau pun mengambil bingkai itu. Terlihat di sana foto seorang wanita
tersenyum dengan manis mengenakan pakaian toga mengapit bucket bunga
ditangannya. Beliau tahu benar siapa wanita itu. Karena Wanita itulah
yang selama ini menjadi alasan baginya untuk tetap bertahan dan dapat
sukses seperti sekarang. Karena dia pernah menjadi bagian dalam hidup
beliau, seseorang yang sangat beliau cintai dan karenanya pula beliau
sulit untuk membuka hati untuk gadis lain karena ia tidak berpikir untuk
bisa menggantikan posisinya . Walaupun mengingatnya sama saja membuka
luka masa lalu yang pernah beliau rasakan. Tapi cinta yang pernah ia
berikan untuk wanita itu memang terkesan begitu dalam. Terbayang olehnya
beberapa tahun yang lalu ketika beliau masih menjalani kuliah di
Universitas Sidi Muhammad Ben Abdullah Maroko. Empat tahun kuliah di
sana, banyak ia lalui kenangan indah bersama wanita itu. Wanita yang
bernama syafa fadhillah khudhori Lc adalah orang yang dikenal beliau
sejak beliau menimba ilmu di Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponorogo
Jawa Timur. Hubungan antara Ustadz Hanif dengan Syafa bukan hanya
kedekatan biasa , bahkan bunga cinta telah tumbuh di hati mereka berdua
sejak mereka menjadi peserta jambore tingkat nasional di cibubur. Tapi
karena mereka adalah santri yang memiliki pengaruh yang baik dan
dikenal sebagai santri yang pintar di sana, sehingga mereka lebih
memilih menjaga nama baik mereka masing-masing tanpa harus
merealisasikan kedekatan mereka. Namun kedekatan mereka semakin terasa
ketika mereka sama-sama mendapatkan beasiswa di Universitas yang sama
di maroko. kedekatan mereka ini juga tidak terlalu mencolok di hadapan
para pelajar yang lain, sehingga tidak banyak yang tahu bahwa ada
hubungan yang spesial antara mereka berdua. Tapi hubungan mereka tidak
berakhir seperti yang mereka harapkan, setelah 5 tahun menjalani sweet
relation akhirnya syafa harus menikah dengan orang lain. Hal ini yang
membuat ustadz hanif benar-benar hancur dan terpukul. Sebenarnya ,
sebelum menyelesaikan kuliahnya di Maroko, ustadz hanif sudah mencoba
untuk meminang Syafa kepada orang tuanya di kota pekanbaru, ternyata
penolakanlah yang terjadi, keluarga syafa fadhilla adalah keluarga yang
memiliki status sosial yang tinggi di masyarakat selain itu mereka
adalah keluarga yang kental dengan ajaran salafi, bahkan mereka sudah
mempersiapkan seorang calon suami yang disesuaikan dengan standar yang
mereka miliki. Setelah beliau mengetahuinya, ternyata calon suami syafa
itu juga seorang pria yang fanatisme dalam ajaran salafi ditambah lagi
dia berasal dari keluarga terhormat. Berbeda sekali dengan beliau yang
hanya berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja sedangkan untuk
mengenyam pendidikan beliau hanya mengandalkan beasiswa.
Ustadz
hanif kembali teringat dengan peristiwa itu dan masih terngiang
kata-kata yang beliau ucapkan saat terakhir beliau dan syafa bertemu
disebuah restoran di kota Marakech al khamra’ sebuah kota yang sangat
indah di maroko, mereka bertemu ketika diadakan agenda rihlah setelah
selesai menyelesaikan studi mereka selama 4 tahun di Universitas yang
terletak di Dahr al Mehraz. Fes, Maroko.
“walaupun saya bukan dari
keluarga kaya, tapi jika saya fanatisme salafiah apakah saya bisa
menikahimu syafa?”tanya ustadz hanif mengawali pembicaraan sambil
mengetuk meja perlahan. Syafa memperhatikan gerakan tangan beliau itu
tanpa ekspresi apapun.
Syafa mengangkat wajahnya “mas, ingatkan
dengan hadits wa man kanat hijrotuhu yusibuha awim ro atin yankihuha
fahijrotuhu ila ma hajaro ilaih,, saya tidak ingin mas seperti sahabat
rasulullah itu mas, yang melakukan hijrah hanya karena mengejar cinta
ummu qais”terang syafa.
“saya lebih baik menjadi seperti halnya
pecinta ummu Qais daripada saya harus kehilangan kamu, ”ujar Ustadz
Hanif sedih sambil membuang tatapannya kearah kerumunan para pejalan
kaki yang memenuhi sepanjang trotoar di kota itu.
“mas,,, jangan
jadikan perasaan yang kita rasa membutakan mata hati, terutama mata hati
kita untuk Allah, mas percayakan dengan jodoh, mungkin ini adalah
pertanda bahwa memang kita .........” Syafa tidak melanjutkan
kata-katanya.
tidak berjodoh?” sambung Ustadz Hanif tenang. Beliau masih memandang kearah kerumunan pejalan kaki di trotoar itu.
“mas...maksud saya,,,”syafa berkata dengan suara lemah dan tatapannya tidak lepas dari Ustadz hanif.
Ustadz hanif menoleh ke arah syafa,
“lalu ,,,,dengan membiarkan kamu menikah dengan orang lain, kamu mengatakan kita tidak berjodoh?
Syafa menundukkan wajahnya. Ustadz hanif menghela nafas, kemudian beliau melanjutkan kata-kata beliau.
Syafa kamu adalah seorang sarjana sekarang,, tolong jawab pertanyaan
saya dengan otak cerdasmu,,, apakah Allah tidak ridho dengan hubungan
yang sudah kita jalin selama bertahun-tahun ini?apakah tidak boleh kita
merasakan bahagia yang sesungguhnya ,,sedangkan masa bahagia itu sudah
berada selangkah di depan kita?
Syafa mulai berlinangan airmata. Beliau pun melanjutkan pertanyaannya.
“Syafa....bagaimana sebenarnya kamu menilai semua perasaan saya selama
ini? kenapa kamu begitu mudah untuk mengatakan kata-kata perpisahan
syafa...?ketika saya telah menganggap kamu satu-satunya buat saya?ketika
telah banyak rencana yang kita buat untuk kehidupan kita kedepan...”
“sudah cukup....cukup!” potong Syafa masih dengan isak tangisnya.
“mas kira saya mau menikah begitu saja dengan orang lain,itu tidak mudah mas...”sambung Syafa.
Masih terlihat jelas syafa yang mulai menangis. Ustadz hanif tertegun
sesaat, saat ini beliau juga sangat sulit untuk menahan semua kepedihan
yang beliau rasakan . jika beliau wanita mungkin sedari tadi dia akan
menangis tersedu-sedu di depan syafa. Kemudian beliau mengeluarkan sapu
tangan dari sakunya, dan menyeka airmata yang jatuh berlinangan dari
sudut mata syafa.
“mari melarikan diri dengan saya, syafa.....”ujar beliau
Syafa terperanjat mendengar kata-kata itu. Dia menatap lekat kearah beliau .
“jika memang dengan cara itu, kita bisa menggapai kebahagian kita,
kenapa kita tidak pergi dan menikah di suatu tempat dimana tidak ada
orang yang mengetahuinya”sambung beliau, saat itu beliau menatap tajam
kearah syafa mencari kesungguhan dan kepercayaan dari orang terkasihnya
itu,.
Kemudian beliau menegaskan“jika kamu bersedia,,sepulangnya
dari maroko saya akan langsung ke kota Pekanbaru , saya tunggu kamu di
airport ”. syafa menatap Ustadz hanif dengan tidak bergeming sedikit
pun, lalu ia pun menganggukkan kepalanya sebagai tanda dia setuju untuk
pergi dengan ustadz hanif.
Lima hari kemudian, Ustadz hanif
bersiap-siap untuk meninggalkan asrama mahasiswa indonesia. Beliau
berencana untuk singgah ke pekanbaru dan bertekad untuk membawa syafa
ke medan, menemui ummi disana. Sedangkan Tiga hari yang lalu syafa sudah
lebih dulu meninggalkan maroko. Sebelum meninggalkan asrama, beliau
mendapatkan surat dari Dr dzakki Syukri, kemudian beliau membacanya.
Didalam surat itu Beliau mendapat tawaran untuk menjadi dosen di salah
satu kampus di maroko. Dan beberapa tawaran beasiswa untuk melanjutkan
S2 disana. Hal ini berkaitan bahwa beliau adalah salah satu mahasiswa
yang mendapatkan predikat (Musyarrof Jiddan/Summa Cumlaude) di akhir
studi sarjananya di Negeri Magribi ini. Sebenarnya
penghargaan-penghargaan itu yang sangat beliau impikan selama ini,
apalagi mengingat beliau bukan berasal dari keluarga yang berada tentu
untuk dapat melanjutkan studi di Universitas Asing hanya dari
penghargaan seperti inilah yang menjadi harapan beliau selama ini. Tapi
beliau memutuskan untuk menolak semua tawaran itu karena saat ini syafa
lebih berarti bagi beliau dibanding itu semua.
Ustadz Hanif
meninggalkan surat itu diatas meja belajarnya, dan berangkat bersama
pelajar indonesia lainnya untuk kembali ke tanah air.
Sesampainya di
pekanbaru, ustadz Hanif menghubungi nomor telepon syafa. Tapi nomor
tersebut tidak aktif, berkali-kali beliau coba nomor itu tapi masih
tidak aktif juga. Beliau kembali memastikan dengan seksama no handpone
yang di beri oleh syafa terakhir kali. Tidak ada yang salah dengan nomor
ini, pikir beliau. Beliau memutuskan untuk menunggu, bandara sultan
syarif kasim 2 mulai di padati oleh banyak pengunjung . tapi tidak ada
tanda-tanda kedatangan syafa di sana. Berkali-kali beliau melirik
arlojinya, dengan perasaan risau dan cemas. waktu merambat semakin
lambat tapi beliau masih tetap menunggu dengan sabar . Enam jam berlalu
begitu saja, tetapi gadis yang beliau tunggu tidak juga menampakkan
diri, senja semakin menggantung di pelupuk barat. adzan magrib pun
terdengar berkumandang lewat siaran televisi . Beliau pun memutuskan
untuk melaksanakan shalat. Seusai dari shalat beliau kembali menunggu,
namun hasilnya tetap sama. Beliau menunggu dengan risau, sesekali beliau
melihat para pengunjung yang berlalu lalang. Terdengar musik radio
mengalun lembut berasal dari sebuah tempat yang tidak jauh dari beliau,
Tak ingin ku jalani cinta yang begini,
yang kutahu cinta itu indah
Tak ingin kurasakan jiwa yang tak tenang
ku mau kau tetap disisiku (Afgan Syah Reza ft Nagita slavina- yang ku tahu cinta itu indah)
Ustadz Hanif termenung sejenak, beliau termanggu mendengarkan lagu itu.
Beliau kembali melirik arlojinya, waktu telah menunjukkan pukul 7
malam,. Beliau membuang pandangannya kearah gerbang bandara dengan
tatapan kosong . akhirnya beliau memutuskan untuk meninggalkan bandara ,
menuju ke satu tempat. Menuju rumah Syafa, saat ini beliau benar-benar
mengkhawatirkannya. Beliau pun akhirnya mengorbankan jadwal
keberangkatannya ke kota medan yang tinggal 30 menit lagi.
Beberapa
menit kemudian akhirnya beliau sampai di depan pintu pagar sebuah
rumah yang pernah beliau kunjungi itu. Setelah membayar biaya taksi
perlahan beliau dekati pagar rumah itu, dari celah pagar mata beliau
menyapu sekeliling rumah itu, tapi rumah itu terlihat sepi. Ketika
beliau akan mengucap salam, tiba-tiba seorang pria setengah baya dengan
memakai seragam security datang menghampirinya. Dan berkata
“mas, orangnya sekeluarga pada pergi ,,,,,”
“pergi kemana ya pak?”tanya Ustadz hanif
Bapak itu menyulutkan rokoknya dan berkata
“iya, pergi katanya, ada acara pernikahan anak perempuan orang yang punya rumah ini”
“pernikahan?”tanya ustadz hanif kaget
“iya, pernikahan mbak syafa di Palembang katanya sih dapat orang
palembang, lagian orang rumah ini baru kemarin perginya mas”.
“kemarin?”tanya ustadz hanif tidak percaya
“iya, jadi saya yang disuruh nunggu rumah ini..”terang Bapak itu sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
Ustadz hanif terperanjat mendengarnya. Tampak jelas wajah beliau yang
memerah menahan kekecewaan dan amarah. Ustadz hanif menghela nafasnya
dengan berat.
“terima kasih pak, sepertinya saya salah alamat”ujar Ustadz hanif dengan kecewa. Bapak itu pun mengangguk dan berlalu pergi.
Kemudian beliau menjauhi pintu pagar rumah itu. Perlahan beliau
merasakan air mata menetes di sudut mata beliau, dengan hati yang
sangat terluka beliau pun bergegas menghapusnya . kepala beliau pun
menengadah ke langit. Langit malam itu tidak terlihat seperti biasanya.
Langit itu seolah-olah akan runtuh, dan siap meluluh lantakkan hati dan
perasaan beliau.
Tak pernah kubayangkan,,, cerita kita berakhir begini ,,,
Tega kau dustai semua .......janji kita berdua (Afgan Syah Reza – Entah)
------------------------------
Berkali-kali kiara menguap di meja perpustakaan itu. Tadi malam dia
tidak bisa tidur, mengerjakan penelitian itu benar-benar membuatnya
stress. Kiara memainkan touchscreen ponselnya. Hari ini sudah genap 4
hari Ustadz Hanif pergi ke Malaysia. Dia membaca inbox pesan yang
terakhir beliau kirimkan:
“gadis kecilku yang baik....selesaikan semua tugasmu dan tunggu abi nilai ya......”
Kiara tersenyum sendiri membacanya.
“gadis kecil apaan.........”sungutnya kesal.
“ternyata beliau memperlakukan saya seperti murid
paud,,benar-benar”kiara berceloteh sendiri. Beberapa menit kemudian
Kiara sudah tertidur dengan membenamkan wajahnya diatas lipatan
tangannya.
Tiba-tiba seseorang mendekatinya.
“hei bangun...”terdengar suara orang itu pelan membangunkan kiara. Kiara tidak berkutik sama sekali.
Ternyata orang itu adalah ustadz Hanif. Beliau mengernyitkan dahi.
Beliau mengetuk-ngetuk meja di depannya,
“hei,,,banguun, sejak kapan perpustakaan menjadi tempat penginapan?”ujar beliau sambil terus mengetuk meja itu.
“sejak saya belum selesaikan tugas itu...”ceracau kiara antara sadar
dan tidak dan dia pun masih tetap membenamkan wajahnya di tangannya.
“apa yang kamu katakan?”tanya beliau kaget. Pertanyaan beliau hanya
dijawab dengan lenguhan kiara saja. Dia tidak sadar bahwa ustadz hanif
sudah berada disampingnya.
Beliau cepat-cepat memeriksa laptop
kiara, dan terlihat halaman microsoft word yang masih terbuka disana.
Beliau menarik kursor hingga halaman terakhir. Beliau benar-benar
terkejut melihatnya.
“astagfirullah,,,apa yang kamu kerjakan selama
ini sampai belum selesai..........”gumam beliau. Beliau pun duduk di
atas kursi yang terletak di samping kiara dan menggeser laptop itu.
Kemudian meletakkan bucket bunga mawar yang beliau bawa pada kursi
lainnya. Beliau membolak balik laporan yang tertumpuk di hadapan kiara.
Beliau memeriksa semua laporan itu. Beliau menghela nafas dan
menggeleng-gelengkan kepala.
Akhirnya beliau pun mengetik semua
laporan-laporan itu. Dan menyempurnakan bagian-bagian yang belum
lengkap. Dengan sigap beliau mengerjakan itu semua mulai mencari rujukan
dari buku-buku sehingga beliau harus mencarinya di setiap rak-rak buku,
mengutip kata-kata dari buku tersebut, menyusun metodologi penelitian
dan mengetik hal-hal yang dianggap perlu. Sesekali beliau melirik
kearah kiara, tapi dia masih belum terbangun dari tidurnya. Hingga 46
menit pun berlalu beliau telah menyelesaikan semuanya. Beliau pun
bernafas lega. Diliriknya lagi kiara, ternyata dia belum terbangun juga.
Beberapa menit kemudian ponsel yang berada genggaman kiara
bergetar. Kiara mengangkat kepalanya dan membaca inbox pesan dari ustadz
hanif yang bertuliskan
“sudah bangun lagi, dan cepat antarkan tugas kamu itu.”
“astagfirullahal adzim,,,”seru kiara. Cepat-cepat dia buka laptopnya
dan masih halaman microsoft word terbuka disana, ketika ia akan kembali
mengetik. Dia pun kaget melihat semuanya sudah terketik dengan rapi. Dia
tarik kursornya dari terakhir kali ia mengetik. Dia benar-benar
bingung, dia pun mengucek-ngucek matanya. Ternyata dia tidak salah
lihat, tugasnya sudah selesai. Tapi siapa yang
menyelesaikannya?pikirnya bingung. Dia membuka inbox pesan di ponselnya,
di bacanya kembali pesan dari ustadz hanif.
“beliau mengatakan
agar bangun,,berarti beliau tahu saya ketiduran disini”ujar kiara dengan
dirinya sendiri. Kiara menoleh kearah sisi kirinya, terlihat bucket
mawar putih tergeletak diatas kursi.
“ya Allah,,,berarti tadi
ustadz hanif kesini, mengerjakan tugas ini dan melihat saya
tertidur,,benar-benar memalukan...”Kiara memukul-mukul kepalanya dengan
kikuk.
Kemudian dia pun bergegas menuju kantor ustadz hanif. Ketika tiba disana terlihat beliau sedang sibuk dengan laptopnya.
“assalammu’alaikum ustadz”ucap kiara pelan.
Beliau melirik kearahnya, “wa’alaikumussalam warohmatullah”kemudian beliau kembali sibuk dengan laptopnya.
Dengan malu-malu kiara memasuki ruangan beliau.
“mana tugas kamu?saya ingin cepat merekapnya dan harus segera
diserahkan ke lembaga penelitian”ujar beliau sambil menatap kearah
Kiara.
“semua sudah saya simpan di sini ustadz”sahut kiara sambil menyerahkan flashdisk. Ustadz hanif menerima flasdisk itu.
“dan maafkan saya, saya tidak menyelesaikan tugas saya tepat waktu dan
tadi ada seseorang nampaknya yang membantu saya menyelesaikan tugas
itu”sambung kiara.
Ustadz hanif tidak menghiraukan perkataaan Kiara.
Beliau hanya sibuk mentrasfer data dari flashdisk ke laptop. Lalu kiara
pun duduk di kursi yang berada dihadapan beliau. Dan ia pun sempat
melirik ke meja sekretaris jurusan yang kosong. Kemudian kiara menoleh
kearah ustadz Hanif. Dengan stelan kemeja abu-abu dan dasi biru tua
bergaris putih beliau terlihat cerdas dan berwibawa hari itu. Kiara
pun terkesima menatap beliau.
Kiara tertegun sejenak sedangkan
beliau tetap tenang dan tidak bergeming sedikit pun. Dia tidak
menyadari kalau sebenarnya ustadz Hanif tahu Kiara terkesima menatapnya
seperti itu.
“saya sadari saya sangat tampan, lalu bisakah kamu
berhenti menatap saya seperti itu?”tukas ustadz hanif, dengan tatapan
matanya tidak terlepas dari layar laptop.
Kiara pun tersadar
cepat-cepat dia menundukkan wajahnya , dia mencoba mengontrol dirinya
dan menghela nafasnya perlahan. dia sadar apa yang dia lakukan tidak
pantas, memandang seseorang laki-laki yang bukan muhrim seperti itu
tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang gadis yang paham tentang
batasan hijab seperti dirinya.
“astagfirullah hal adziem....”bisikKiara
Ustadz hanif pun tersenyum melihatnya. “seorang pria tampan
,,,,,,,sedang konsentrasi dengan sangat serius, bukankah itu satu
pemandangan yang sangat menarik?...apalagi hal itu dilakukan oleh dosen
anda ini,,,”ucap ustadz hanif dengan tenang.
Kiara tersipu malu mendengar ucapan ustadz itu.
“selain berani menatap saya apakah sekarang kamu juga berani untuk
mentertawakan saya?!”sela beliau dengan suara sedikit ketus. Tatapan
beliau pun tertuju pada kiara. Langsung hal itu membuat Kiara menjadi
semakin gugup.
“tidak ustadz..tidak ada..saya tidak ada
mentertawakan ustadz......”ucap kiara dengan gugup, kemudian wajahnya
kembali menunduk. Ustadz hanif menatap kiara dengan tersenyum sinis.
“angkat wajahmu....”pinta beliau.
Kiara kaget mendengar pinta ustadz Hanif, perlahan dia mengangkat
wajahnya sedikit dengan tatapan mata yang masih mengarah ke bawah.
“Lagi....!”pinta beliau lagi. Kiara mengangkat wajahnya sedikit.
“lagi...!”ulang beliau. Kiara mengangkat wajahnya lebih tinggi tapi dengan tatapan matanya yang mengarah ke kanan beliau.
“tatap wajah saya.......!nada suara beliau mulai meninggi. Dengan
refleks Kiara menatap wajah ustadz Hanif, serta merta tidak ada angin
tidak ada hujan beliau langsung menulis tanda cek list di kening Kiara
dengan spidol boardmaker yang sudah di tangan beliau. Hal itu
benar-benar membuat Kiara terperanjat seketika.
“ustadz...kenapa sih
memperlakukan saya seperti anak-anak?....”ucap Kiara kaget, dengan
panik tangannya menggosok-gosok tanda cek list di keningnya tersebut.
“karena saya tidak yakin apakah jenis hukuman untuk wanita dewasa cocok
dengan kamu, jadi saya buat hukuman yang sesuai dengan karaktermu!”ujar
beliau dengan nada sedikit kesal.
”sudahlah .... hentikan kamu
menggosok kening kamu itu,,,jangan kamu berharap .. akan keluar jin dari
sana”ledek ustadz Hanif sambil tersenyum geli
“ustadz...ini tidak lucu, bagaimana bisa ustadz mencorat coret wajah saya seenaknya....”ucap Kiara kesal.
“assaammu’alaikum” terdengar seseorang masuk dengan ucapan salam.
Terdengar suara langkah kaki seseorang memasuki ruangan dan ternyata
orang tersebut adalah pak yamin sekretaris jurusan.
Menyadari akan
hal itu kiara menyembunyikan wajahnya sambil terus menggosok-gosok
keningnya. Pak Yamin pun memandang heran ke arah Kiara.
“kenapa kok nunduk-nunduk kayak gitu?”tanya beliau heran. Ustadz Hanif menutup mulutnya tersenyum geli.
“ustadz, pak yamin,,saya permisi,assalammu’alaikum”pami
------------------------------
Tepat pukul 13.20 wib, kiara meninggalkan kampus dan menuju halte.
Kiara yang bekerja di kantor APSI (Asosiasi Pengacara Syariah Indonesia)
harus mengambil data-data klien berperkara yang belum ia masukkan
kedalam database. Kiara mempercepat langkahnya. Hari ini cuaca terlihat
cerah sepertinya musim penghujan telah berlalu. Cerahnya hari ini,
secerah hatinya ketika bunga-bunga di hatinya bermekaran dengan indah.
Di lihatnya kembali bucket bunga yang ia bawa, berkali-kali dia
tersenyum melihatnya. Lalu tatapannya beralih kearah cincin yang
terpasang di jemarinya dan terngiang kata – kata beliau.
“menikahlah
dengan saya “ ujar ustadz hanif waktu itu, dan itu membuat kiara
tersenyum sendiri . Dia pun menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“ya Allah,,apakah aku sekarang sedang gila....”bisiknya di dalam hati.
Dia memasang headset ponselnya, terdengar lagu yang mewakili perasaannya hari ini
Merah pipi ini saat kulihat dirinya
Mungkinkah ini yang dinamakan cinta
Malu hati ini saat ku tatap wajahnya
mungkinkah ini yang dinamakan cinta (Afgan – Pesan Cinta)
------------------------------
BAGIAN 3
Minggu yang indah menghiasi langit mesjid raya medan kota. Terlihat sejumlah orang keluar dari masjid raya itu.
Ustadz hanif keluar dari mesjid itu dan terlihat beliau asyik bercakap-cakap dengan seorang laki-laki.
“terima kasih banyak ustadz, saat ustadz Ahmad pergi umroh seperti ini,
kami sering kebingungan mencari pengganti beliau untuk mengisi kajian
tafsir qur’an dalam minggu ini, alhamdulillah kami sangat bersyukur
ketika anda bersedia menggantikan beliau , ,, oh ya sebelum terlupa
ini ustadz ada undangan pengajian kamis malam, jika ustadz ada
kesempatan kami berharap ustadz dapat hadir dalam acara ini”ujar orang
itu sambil menyerahkan selembar undangan kepada beliau.
“insya Allah, jika tidak ada aral melintang, saya akan menghadirinya”ujar ustadz hanif.
“sekali lagi terima kasih banyak ustadz, semoga selamat sampai tujuan”ujar pria itu sambil menyalami ustadz hanif.
“iya sama-sama, saya pamit dulu, assalammu’alaikum”ucap beliau
“wa’alaikumussalam,”dengan tersenyum pria itu menyahut salam dari beliau.
Ketika akan menuruni anak tangga mesjid. Seorang gadis manis
berkerudung putih telah menunggu dengan senyuman manis di bawah anak
tangga.
Ustadz hanif terkesima melihatnya. Perlahan beliau menuruni anak tangga.
“apa yang kamu lakukan disini?”tanya beliau setelah sampai di hadapan kiara.
“kemarin saya mendengar dari radio kalau ustadz, mengisi kajian tafsir
qur’an di mesjid raya hari ini, jadi saya datang kesini”
“dengan siapa kamu datang kesini?”
“saya sendirian saja ustadz”
“dari tanjung morawa sendirian sampai kesini?”
“tidak ustadz,,,tadi perginya saya bareng sama mas saya, kebetulan
beliau kalo pagi-pagi sudah berangkat untuk narik angkot.....”
Ustadz Hanif manggut-manggut mendengarnya.
“mas Hanif,,,semuanya udah saya letakkan di mobil,”seru seorang
laki-laki sembari menghampiri mereka. Kiara memperhatikan laki-laki itu,
dia terlihat seumuran dengan kiara. Ustadz hanif mengangguk kepala
kepadanya.
“baiklah,,,,oh iya Kiara perkenalkan ini syafi’i, kami
berdua bersaudara sepupu dan syafi’i inilah yang selalu membantu
kesibukan saya selama ini”, ustadz hanif memperkenalkan laki-laki yang
bernama syafi’i kepada Kiara. Laki-laki itu menganggukkan kepala dan
tersenyum kepadanya.
“fi’i, waktu itu kamu bertanya siapa Kiara, ini dia yang namanya Kiara”ujar beliau lagi kepada syafi’i.
“saya merasa menjadi orang yang beruntung sepertinya karena bisa
bertemu dengan yang namanya Kiara”celetuk Syafi’i, sambil memandang
wajah Ustadz Hanif lalu menoleh ke arah Kiara dengan tatapan penuh arti.
beliau pun tersenyum mendengarnya. Sedangkan Kiara hanya dapat tersipu
malu.
“kamu akan kemana lagi kiara?”tanya beliau kemudian kepada kiara.
“hmm.,,sepertinya saya mau pulang saja ustadz” sahut kiara
Lalu ustadz Hanif melirik arloji beliau. Waktu masih menunjukkan pukul
9 pagi. Lalu beliau pun menatap kiara dan berkata kepadanya
“ya
sudah begini saja, kamu ikut sekalian saja dengan saya, karena kebetulan
saya dan syafi’i akan menghadiri acara di Kota Rempah”
“tapi apakah tidak merepotkan ustadz?”ujar kiara, mendadak dia pun merasa tidak enak.
“insya Allah tidak, selain itu kalau mau ke Rempah tentunya melewati
Tanjung Morawa,benarkan fi’i?”beliau pun melirik syafi’i yang sedari
tadi memperhatikan mereka berdua.
Syafi’i tersenyum melihatnya
“iya benar sekali ustadz “ujarnya dengan senyuman yang masih mengambang diwajahnya.
Kemudian mereka pun menuju mobil toyota Rush berwarna silver yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Sepanjang perjalanan mereka pun larut dalam perbincangan yang hangat.
Ternyata syafi’i adalah sosok yang penuh dengan humoris. Sehingga
dapat memecahkan kekakuan selama di perjalanan. Di tengah perjalanan
itu, Kiara juga baru mengetahui bahwa Syafi’i masih mahasiswa S1 di
Unimed Fakultas Keguruan Bahasa Inggris. Dan saat ini ia sudah semester
12, hal itu dikarenakan jiwa kewirausahaan yang dia miliki membuat dia
lebih tertarik untuk menyibukkan diri dengan usaha-usaha sampingan.
Bahkan kini dia telah memiliki dua kedai dodol di Pasar
Bengkel-Perbaungan. Hal itu membuktikan keseriusannya dalam menjalani
minat dan bakatnya sebagai seorang pengusaha muda. Sehingga dia sering
merasa tidak sesuai untuk menjadi guru bahasa inggris. Walaupun begitu,
dia tetap akan menyelesaikan kuliahnya dengan segera. Ustadz Hanif yang
duduk disamping Syafi’i yang sedang mengemudi , memberikan pengertian
kepadanya bahwa Allah selalu menyimpan rencana untuk hamba-hamba yang
dikasih-Nya.
Mendengar penuturan Ustadz Hanif dan Syafi’I, Kiara pun
berpikir di bandingkan mereka berdua dia merasa belum memiliki apa-apa.
Dia pun merasa terinspirasi dengan penjelasan beliau dan semangat yang
dimilki syafi’i.
Beberapa menit kemudian ketika sampai di Taman Teladan. Tiba-tiba Syafi’i mengehentikan mobil.
“mas, sebentar ya, saya mau ngantarkan titipan kawan disini, sebentar aja gak lama kok”ujar Syafi’i pada Ustadz Hanif.
“ya udah,, ingat jangan lama-lama”pesan beliau. Lalu tanpa basa basi
Syafi’i meninggalkan mobil. Tinggallah ustadz Hanif dan Kiara didalam
mobil. Kiara merasa tidak enak berdua dengan beliau seperti itu.
“kamu mau keluar juga?”tanya ustadz hanif yang asyik memainkan i pad
di tangannya. Ternyata beliau juga menyadari ketidak nyamanan situasi
tersebut.
“bukankah sebentar lagi syafi’i akan balik?”Kiara balik bertanya.
Terlihat ustadz Hanif membuka pintu mobil. Kiara hanya memperhatikan
beliau. Beliau pun membukakan pintu untuk kiara dan berkata”apakah kamu
mau saya kunci di dalam?”cepat keluar...”
Kiara pun keluar dari
mobil itu dan melihat kearah taman yang ramai di kunjungi oleh banyak
orang. Taman teladan merupakan taman yang terletak di kota medan yang
banyak dikunjungi banyak orang dari berbagai kalangan. Apalagi hari itu
adalah hari minggu, banyak orang yang menghabiskan masa weekend mereka
hanya sekadar hang-out bersama orang-orang tercinta. Tiba-tiba Ustadz
hanif sudah berada disamping Kiara.
“kamu sering kesini?”tanya beliau kepada kiara yang masih berdiri melihat keramaian di taman itu.
“kalau lagi suntuk saya sering main kesini”
Ustadz hanif berdiri membelakangi Kiara.
“biasanya saya tidak pernah memiliki waktu senggang untuk
berjalan-jalan seperti ini, ayo kita berjalan-jalan sebentar”Ustadz
Hanif tanpa menoleh kearah Kiara.
“tapi ustadz, bagaimana kalau syafi’i nanti mencari kita?”sahut kiara risau.
“dia kan bisa menghubungi saya”jawab beliau tenang, beliau pun
melangkah pergi menjauhi kiara. Kiara mengikuti beliau dari belakang.
Kiara melihat banyak para pedagang menjual berbagai macam barang dan
makanan disana. Kiara melangkah lebih cepat, ia pun berhasil berjalan
disamping ustadz Hanif. Diliriknya beliau, beliau pun membalas melirik
kearah Kiara. cepat-cepat kiara menoleh kearah lain.
“apakah ustadz merasa senang?”tanya Kiara sambil menatap anak-anak tidak jauh darinya sedang asyik bermain.
“Iya saya senang”ungkap beliau .
Mereka pun melewati penjual bakso bakar. Lalu Kiara memesan dua tusuk
bakso bakar kepada penjual tersebut. Ustadz Hanif pun ikut berhenti
bersamanya. Beliau dan kiara memperhatikan dengan saksama penjual bakso
bakar itu memproses bakso-bakso itu, mulai dari memanggangnya,
memasukkannya kedalam saus kacang dan mengolesinya dengan saus pedas.
Kemudian kiara menyerahkan lembaran uang 2 ribu rupiah kepada penjual
itu dan tidak lupa mengucapkan terima kasih. Akhirnya dua tusuk bakso
bakar itu telah menjadi miliknya. Dia memberikan satu kepada Ustadz
Hanif. Tapi wajah beliau terlihat ragu untuk menerimanya lalu beliau pun
menggelengkan kepala. Kiara menghela nafas melihatnya. Lalu dengan
kesal dia pun berlalu pergi. Dia menuju kursi taman yang terletak tidak
jauh darinya. Ustadz hanif tersenyum lalu menyusulnya dan mengambil
salah satu bakso itu dari tangan kiara. beliau pun duduk di samping
kiara dan memakan bakso bakar tersebut. Kiara tersenyum melihatnya.
Beberapa saat kemudian, mereka pun kembali menuju tempat di mana mobil
Ustadz hanif terparkir. Tapi mereka tidak ada melihat syafi’i di sana.
“ustadz, jangan-jangan syafi’i sedang mencari kita” ujar kiara risau.
Ustadz hanif memperhatikan sekeliling tempat dimana beliau berdiri. Mata
beliau menemukan syafi’i yang sedang makan di warung penjual makanan
sarapan pagi yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
“ternyata dia sampai kelaparan menunggu kita”ujar beliau sambil menunjukkan dimana syafi’i berada. Kiara tersenyum melihatnya.
“sebenarnya saya menyembunnyikan sebuah hadiah yang saya siapkan untuk
kamu di sini ”ujar beliau tiba-tiba. Kiara tersenyum dan berkata
“saya sudah mendapatkan semua hadiah saya ustadz, bagaimana mungkin saya berani menginginkan hal yang lain”
Ustadz Hanif menoleh ke arah kiara
“saya sudah menyiapkannya, carilah...”
Lalu kiara pun dengan antusias mencarinya. Mulai dari tempat dimana ia
berdiri, dibalik bebatuan, di tanah, diantara bunga-bunga , rumput, di
dekat ban mobil, diatas mobil kemudian ia memperhatikan dahan pohon
diatasnya.
Ustadz Hanif tersenyum geli melihatnya.
“Bukankah
baru saja kamu bilang, bahwa kamu tidak memerlukan hal-hal yang lain
lagi? Tapi mengapa kamu terlihat serius mencarinya?” ujar Ustadz Hanif.
Sedangkan Kiara masih penasaran, dia pun memperhatikan dengan saksama
pohon yang berada di dekatnya.
“apa itu sebenarnya?”tanya kiara penasaran.
“mungkinkah itu benda yang sangat kecil sehingga tidak bisa dilihat
dengan mata telanjang?”sambungnya sambil matanya terus mencari di
sekelilingnya.
“kecil? sembarangan!”seru beliau. Kiara menatap
Ustadz Hanif. Beliau tersenyum. Kiara pun melangkah menghampiri beliau
dengan tatapan penuh arti seolah-olah dia sudah dapat menebak hadiah
itu.
“apakah mungkin, ustadz ingin memberikan mobil ustadz untuk
saya?”ujar Kiara sambil menunjuk mobil toyota Rush di belakangnya itu.
Ustadz Hanif tertawa.
“kamu berani berpikir seperti itu?”ujar beliau. “bukan itu”sambungnya.
“lalu apa itu?”
“ yang ingin saya berikan kepadamu adalah sesuatu yang tidak
tergantikan oleh apapun di dunia ini, di seluruh dunia satu-satunya,
yang selama ini banyak wanita yang menginginkannya...”
Kiara tersenyum “mungkinkah...”ujarnya.
Ustadz Hanif tersipu, “sepertinya kamu sudah bisa menebaknya...”
“benar....itu saya..”sambung beliau masih dengan wajah tersipu.
Kiara menundukkan wajahnya dan tertawa melihat beliau begitu.
“apa arti tawamu itu? Apakah kamu menganggap ini lucu?”tanya beliau
“mana mungkin saya berani tidak hormat dengan ustadz”kata-kata Kiara terhenti
“karena saya bahagia, karena saya bahagia maka saya tertawa”lanjutnya. Ustadz Hanif mendekati Kiara.
“bukankah kamu telah memberikan hatimu kepada saya,, maka saya akan
memberikan segalanya untukmu...”ujar beliau lalu beliau memandang wajah
kiara. Kiara tertegun.
Ku ingin dia yang sempurna
Untuk diriku yang biasa
Kuingin hatinya, kuingin cintanya,
kuingin semua yang ada pada dirinya
kuhanya manusia biasa
tuhan bantuku ntuk berubah
tuk miliki dia, tuk bahagiakannya
tuk menjadi seorang yang sempurna
untuk dia...... (Sammy simorangkir-dia)
-----------------------------
Beberapa menit kemudian mobil itu pun melaju meninggalkan lapangan
teladan. Tiba-tiba ponsel ustadz hanif berbunyi. Terlihat beliau
terlibat percakapan yang serius dengan orang yang menghubunginya itu.
“fi’i kita tidak jadi ke Rempah hari ini,”ujar beliau setelah mengakhiri pembicaraan via ponselnya.
“kenapa ustadz?tanya syafi’i pandangannya tetap fokus menyetir.
“karena sesuatu hal mereka membatalkan acaranya hari ini.”terang
beliau. Kiara hanya mendengarkan saja percakapan mereka berdua. Ternyata
pada awalnya ustadz hanif dan syafi’i akan menghadiri acara sebuah
organisasi cendikiawan.
“jadi bagaimana ustadz?apakah kita mengantar mbak Kiara pulang dulu?”tanya syafi’i
Ustadz hanif tidak menjawab beliau hanya sibuk dengan ponselnya.
“kita ke pusat kota saja dulu, setelah itu baru kita pulang...”pinta Ustadz Hanif.
“kiara,,,jika kamu menolak saya turunkan kamu disini....”ancam beliau pada kiara.
“tapi ustadz, jika terlalu lama saya juga tidak bisa, karena saya ada kegiatan lagi setelah ini”ujar kiara.
“insya Allah tidak lama, dan ini berkaitan denganmu...”ucap beliau
sambil mengisayaratkan kepada syafi’i untuk memutar balik ke arah Pusat
kota. Akhirnya mereka pun menuju kota.
Tiga puluh menit kemudian,
merek pun sampai di pusat kota. Syafi’i memparkirkan mobil di sebuah
toko. Terlihat banner di depannya, dengan tulisan “Syafira Bridal”.
Kiara terheran-heran, hatinya bertanya untuk apa Ustadz Hanif
mengajaknya kesini. Akhirnya beliau dan Kiara memasuki toko tersebut.
sedangkan syafi’i tetap memilih untuk tinggal.
Di dalam toko
tersebut terlihat berbagai model busana pengantin. Kiara baru menyadari
ini bukan toko, tapi sebuah Bridal gaun Pengantin. Kemudian sampailah
mereka di sebuah ruangan yang luas seperti sebuah aula kecil. seorang
wanita berjilbab pasmina menghampiri mereka berdua.
“ustadz hanif,,akhirnya anda datang juga...”sambut wanita itu dengan tersenyum.
“apa kamu sudah siapkan,,yang saya pesan..?”tanya beliau kepada wanita itu.
“tentu saja, sudah saya siapkan..”jawab wanita itu sambil melirik kearah kiara.
“apakah ini dia orangnya”tanya wanita itu lagi kepada ustadz hanif.
“iya dia kiara,,kiara ini mbak Vio”ustadz hanif memperkenalkan kiara dengan wanita itu. kIara meyalami wanita itu.
“kalau begitu, tunggu apa lagi kita fitting saja sekarang...”ujar wanita yang bernama Vio tersebut.
“maksud anda fitting gaun pengantin?”tanya Kiara terkejut.
“memangnya ustadz hanif tidak ada memberitahukan kepada mbak
kiara?”tanya Vio heran sambil melirik ke arah Ustadz Hanif. Ustadz hanif
menjadi kikuk. Kiara pun menoleh kearah beliau, beliau hanya membalas
tatapan Kiara dengan senyum tipis.
Vio menyadari suasana tidak enak
itu. “ya sudah,,kita langsung saja ya,,,ada beberapa gaun yang harus
mbak Kiara coba, ayo...”ajak Vio sambil menarik tangan Kiara.
Kiara
mencoba gaun pengantin yang pertama. Lalu dia berdiri di hadapan Ustadz
Hanif. Ustadz Hanif memegang dagunya dan mengernyitkan dahi. Kemudian
beliau menggeleng. Lalu vio membantu Kiara untuk mencoba gaun yang
kedua. Setelah memperlihatkannya kepada ustadz Hanif , masih juga
beliau menggelengkan kepala. Akhirnya dia mengenakan gaun yang ketiga.
“tinggal dua gaun lagi yang ini dan ini, tapi moga aja yang ini tepat
menurut calon suami mbak ya...”ujar Vio sambil menunjukkan satu gaun
berwarna putih.
Beberapa menit kemudian. Kiara telah siap berganti
kepada gaun yang ketiga. Dengan berdebar-debar dia memperlihatkan diri
dihadapan Ustadz Hanif.
“ustadz bagaimana yang ini?”tanya vio kepada
Ustadz Hanif. Beliau membalikkan badannya. Beliau terpana melihat Kiara
dengan gaun itu. Beliau benar-benar terpesona melihatnya. Kemudian
beliau pun tersenyum.
“kamu terlihat seperti seorang peri dengan
gaun itu”puji Ustadz Hanif kepada Kiara. Kiara tersenyum malu
mendengarnya. Beliau mendekati kiara.
“saya ingin kamu mengenakannya
ketika akad nikah kita nanti...”ujar beliau kepada kiara. kiara
menundukkan wajahnya dan terlihat pipinya bersemu menahan malu.
Vio berdehem “bagaimana mau pilih yang ini?”tanya vio sambil tersenyum melihat mereka berdua.
“ya saya ambil yang ini...”pinta beliau. Kemudian beliau tersenyum menatap kiara. Kiara pun ikut tersenyum.
Setelah selesai fitting gaun pengantin di toko itu. Akhirnya mereka
melanjutkan perjalanan. Mereka pun memasuki daerah kesawan, untuk
singgah ke rumah orangtua Ustadz Hanif.
Akhirnya beberapa menit
kemudian mereka sampai di halaman sebuah rumah. Dengan halaman yang
penuh ditumbuhi pepohonan yang asri dan bunga—bunga yang terawat dengan
indah. Rumah tersebut terlihat tertata apik dengan sentuhan desain”
jaman doeloe” dan minimalis modern.ketika akan memasuki teras rumah,
Mereka pun telah di sambut oleh seorang wanita berkerudung biru muda.
Wanita itu terlihat cantik, walaupun di umur beliau yang sudah tidak
muda lagi. Ustadz hanif memperkenalkan kepada Kiara bahwa wanita itu
adalah ummi beliau. Kiara sudah menduga bahwa wanita itu adalah ibu
ustadz Hanif. Dari wajah beliau yang cantik tidak mengherankan beliau
memiliki seorang putra yang tampan seperti Ustadz Hanif. Kiara pun
mencium tangan ummi. Dan mereka pun memasuki rumah itu. Di sana terlihat
seorang laki-laki yang tidak terlalu tua sedang membaca koran di atas
sebuah kursi rotan. Beliau memperkenalkan Kiara pada orang yang
merupakan ayah beliau itu. Mereka pun terlibat dalam perbincangan
hangat. Dan disana kiara banyak mengetahui tentang Ustadz Hanif.
Terutama tentang Ustadz Hanif, yang sudah tidak memiliki ayah lagi,
sedangkan orang yang dianggap ayah itu adalah ayah tiri beliau. Dan
beliau adalah anak tunggal dari suami ummi terdahulu. Dan kiara juga
baru mengetahui ternyata dahulu ummi menikah dengan ayah ustadz Hanif
yang merupakan seorang muallaf tionghoa. Yang kemudian meninggal dunia
karena sakit ketika Ustadz Hanif berumur 10 tahun. Dan sekarang Ustadz
Hanif memiliki 2 Saudara tiri, anak kandung dari ayah tiri beliau dari
pernikahan terdahulu. Tapi saudara tirinya sudah berkeluarga semua.
Sedangkan dari pernikahan ummi dan ayah tiri beliau tersebut memilki 2
orang anak, satu orang perempuan yang sedang melaksanakan kuliah di
Malaysia dan satu orang laki-laki yang masih duduk di Aliyah di
Pesantren Darul Arafah, Sumatera Utara. Setelah melaksanakan shalat
zuhur berjama’ah di sana dan menikmati masakan ummi. Akhirnya Kiara
berpamitan pulang. Ummi memberikan oleh-olehkepada Kiara untuk diberikan
kepada orangtuanya di Tanjung Morawa. Kiara sangat senang menerimanya.
Kiara sangat senang sekali. Dan dia menilai keluarga Ustadz Hanif sangat
harmonis dan kompak. Kemudian Syafi’i dan Ustadz Hanif mengantarkan
Kiara pulang. Lengkap sudah kebahagiaan yang dia rasakan hari ini,
karena apa yang menjadi impiannya selama ini benar-benar akan terwujud.
Tidak henti-hentinya seulas senyuman manis menghiasi wajahnya.
Apakah Kiara benar-benar akan menikah dengan Ustadz Hanif????Apakah
Ustadz Hanif benar-benar mencintainya?????tunggu di bagian
selanjutnya...................
BERSAMBUNG KE BAGIAN 4…..
SEKERLIP CINTA DI BAWAH DERAI HUJAN "bagian 2 dan 3"
Diposting oleh
Unknown
|
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 komentar:
Posting Komentar