Oleh : Era Puspita
(CERBUNG)
Bagian 1
Kiara melirik arlojinya, waktu sudah menunjukkan pukul 17.10 WIB. Dia
pun menoleh kearah jalan tidak terlihat tanda-tanda kedatangan sosok
yang dia tunggu sejak tiga puluh menit yang lalu. Halte yang pada
awalnya sepi, mulai di padati oleh orang - orang yang menunggu busway di
setiap sorenya. Kiara menggoyang-goyangkan kakinya yang terjuntai, dia
benar-benar gelisah, kekhawatirannya semakin bertambah setelah kembali
lagi ia melihat kearah kampus tidak ada juga terlihat orang yang dia
tunggu menampakkan diri. dia kembali membuka inbox pesan pada pesannya
tertulis jelas disana :
"kita bertemu di halte depan kampus pukul 5 sore, tapi jika bisa tunggu saya 30 menit sebelumnya"
Kiara menghela nafas, bukan karena ia kecewa atas keterlambatan orang
itu untuk menemuinya. tapi rasa risau, penasaran, dan bingung berkecamuk
didalam pikirannya. dia pun bertanya-tanya "ada apa sebenarnya Ustadz
Hanif ini ingin bertemu dengan saya disini, bukankah jika beliau
menginginkan laporan ini seharusnya beliau bisa bertemu dengannya
dikampus? apakah saya sudah melakukan satu kesalahan, sehingga beliau
tidak mau bertemu di kampus?lalu apa hubungannya dengan itu semua?
memang benar, penelitian ilmiah yang dia lakukan selama ini bersama
Ustadz Hanif cukup membuat terjadi kedekatan diantara mereka berdua.
Ustadz Hanif adalah seorang Dosen fiqh islam, di Pascasarjana Hukum
Islam di salah satu kampus terkemuka di kota medan ini. Beliau masih
muda, usia beliau hanya berselisih 6 tahun dengan kiara, dan dia adalah
satu-satunya dosen pascasarjana di kampus itu yang belum berumah
tangga. Tidak banyak yang tahu kenapa ia belum menikah, jika di lihat
dari fisik tentu tidak tepat jika itu alasannya, karena beliau adalah
seorang pria yang berdarah jawa-tionghoa, yang tentu saja dapat ditebak
seperti apa ketampanan yang beliau miliki itulah yang terpahat jelas
dari fisicly beliau. Dari sudut pandang karir dan ilmu, beliau termasuk
orang yang berhasil memperolehnya. Walaupun pada dasarnya tidak ada satu
pun manusia yang sempurna (kecuali rasulullah.pen), tapi jika di lihat
dari kriteria calon suami idaman wanita, maka akan banyak wanita yang
akan menunjuk kriteria seperti Ustadz Hanif Izzat ma’arif, Lc.M.Hi .
Apalagi beliau bukan tipe laki-laki yang bebas bergaul dengan banyak
wanita. Mungkin hal ini dikarenakan kesibukannya sebagai seorang dosen,
Ketua jurusan di salah satu jurusan pascasarjana di kampus itu, dosen
yang selalu haus dengan berbagai penelitian sekaligus seorang mahasiswa
Doktoral. Tapi yang jelas tidak ada satu pun yang tahu mengapa beliau
belum menikah dan terkesan cuek dengan wanita. Sehingga sebelum kiara
memiliki kejasama penelitian dengan beliau, kiara menganggap beliau itu
adalah dosen yang sangat arogan dan tidak nyambung sama sekali setiap
kali Kiara bertanya atau mendiskusikan sesuatu dengan beliau. Dan apa
yang terjadi hari ini merupakan suatu hal yang aneh pikirnya, Ustadz
Hanif menyuruhnya untuk menunggu di halte ini adalah sesuatu yang bahkan
tidak pernah terlintas sedikitpun di pikiran Kiara. Walaupun
hubungannya dengan beliau cukup dekat tapi itu hanya sebatas untuk
membahas penelitian saja tidak lebih. Walaupun Kiara sendiri yang sering
merasa gugup setiap kali bertemu denganbeliau. Tapi beliau selalu
bersikap biasa saja sebagaimana halnya sikap seorang dosen dan
mahasiswa. Kiara teringat satu kejadian ketika Ustadz Hanif keluar dari
mobilnya saat itu hari sedang hujan, di tangan beliau penuh dengan
tumpukan papper. Saat itu kiara sedang berjalan tidak jauh dari beliau
dan hanya memandang beliau saja tanpa ada usaha untuk membantu beliau,
apalagi meminjamkan payung yang sedang ia kenakan, sehingga ketika
beliau menyampaikan kuliah di kelas kiara. Ia menyampaikan kata-kata
seolah-olah untuk menyindirnya beliau mengatakan Bahwa sebagai seorang
manusia harus saling membantu baik laki-laki maupun perempuan contohnya
jika ada melihat seseorang dilanda kesulitan di saat hujan, apa salahnya
kita membantunya walaupun sekedar membantunya meminjamkan payung yang
ia kenakan. Kata-kata Ustadz hanif memang sangat tepat tertuju sekali
kepada dirinya, apalagi ketika menyampaikan hal itu beliau sempat
melirik ke arah Kiara . Kiara pun terdiam seribu bahasa dan pura-pura
tidak tahu. Beberapa hari setelahnya, kiara bertemu lagi dengan beliau
dalam kejadian yang sama, hujan deras pun turun ketika Ustadz Hanif
keluar dari mobilnya dengan membawa setumpuk pepper di tangannya, lalu
kiara mendekati beliau dan memayungi beliau. Ustadz Hanif kaget dengan
apa yang dilakukan oleh kiara tersebut, namun kiara tidak
memperdulikannya bahkan dia juga tidak peduli dengan bajunya yang
basah. Setelah sampai di depan kantor Jurusan Ustadz Hanif memandangnya
dengan heran.
“apa yang kamu lakukan?”tanya ustadz hanif
“saya
hanya tidak ingin ustadz kehujanan, maksud saya pepper yang ustadz bawa,
saya yakin sekali salah satu pepper itu adalah bahan penelitian yang
saya juga ikut terlibat mengerjakannya”jawab Kiara sambil sesekali
mengibaskan gaunnya yang basah.
“kemana lagi kamu setelah ini?”tanya Ustadz hanif sambil meletakkan Pepper di atas meja yang tidak jauh darinya.
“saya mau pulang lagi ustadz, saya harus cepat menuju halte karena busway nya pasti sebentar lagi akan lewat”ujar Kiara.
Ustadz Hanif membuka blazer yang ia kenakan, dan mengenakannya ke pundak kiara. Kiara terkejut dengan apa yang beliau lakukan.
“ap apa,,,,yang ustadz lakukan?”tanya kiara kikuk.
“apakah kamu mau bertemu dengan orang-orang di busway dengan pakaian
basah seperti itu?, setidaknya mereka tidak akan melihatnya” tukas
Ustadz Hanif
Kiara terdiam.
“Baiklah,,hati-hati di jalan,,
assalammu’alaikum” ucap beliau, kemudian belia mengambil pepper itu
kembali dan melangkah memasuki kantor,
“wa’alaikumussalam
warohmatullah”jawab Kiara gugup. Lalu matanya pun menyapu kesekeliling
tempat dimana ia berdiri. Dia takut kalau-kalau ada yang melihat
kejadian itu. Namun tidak ada terlihat ada siapa-siapa di sana.
Kiara menghela nafas lega. Jika ada yang lihat, dia takut akan ada spekulasi yang tidak baik dari orang-orang.
Kemudian di hari berikutnya, ketika ia sampai di gerbang kampus hujan
pun mengguyur derasnya. Tapi saat ini ia lupa membawa payung, sedangkan
ia harus cepat ke ruangan belajar karena ada kelas Sejarah Hukum Islam
dengan Ustadz Iqbal. Tiba-tiba seseorang yang mengenakan mantel hujan
memayunginya dengan payung yang ia kenakan. Kiara terkejut lalu di
lihatnya orang yang disampingnya itu, ternyata dia adalah Ustadz Hanif.
“karena saya tidak ingin merepotkan orang lagi maka saya membawa payung
sendiri sekarang dan anggap ini untuk membalas bantuanmu telah
memayungi saya waktu itu”ujar Ustadz Hanif dengan tenang.
Kiara
menjadi bingung, Ustadz Hanif menyadari kebingungannya. Lalu ia
memayungi Kiara dengan daerah yang teduh lebih banyak pada kiara,
sedangkan beliau mendapatkan bagian yang sedikit. Tapi payungnya lebih
besar ukurannya dibanding payung yang dimiliki kiara sehingga Payung
itu cukup melindungi tubuh beliau tapi karena jas hujan yang beliau
pakai membuat beliau tetap terlindung dari hujan. Ketika menuju ruangan
kuliah, Kiara benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya.
“terima kasih ustadz”ucap Kiara singkat sesampai nya di depan ruangan belajar itu.
“baiklah,,jangan lupa, bawa semua peppermu besok,assalammu’alaikum”tukas beliau sambil berlalu pergi.
“wa’alaikumussalam warohmatullah”jawab kiara dengan masih memasang
wajah bingung. Kiara menoleh ke kanan dan ke kiri tapi dilihatnya
koridor terlihat sepi hanya beberapa cleaning servis yang berlalu lalang
di sana. .
Ya itulah awal dari semua sikap aneh yang ditunjukkan
Ustadz Hanif kepada dirinya tapi ia tidak berani berpikir lebih jauh
mengapa beliau bersikap seperti itu, karena dia merasa dia bukan
siapa-siapa dia merasa Ustadz Hanif bersikap seperti itu karena dia
adalah orang yang baik bisiknya dalam hati. tiba-tiba ia merasakan
sesuatu terasa sesak di dadanya, dia pun meremas jemarinya sendiri,
entah kenapa perasaan gugup kembali menyelimuti dirinya. seketika
tatapannya pun tertunduk kebumi. Orang-orang semakin ramai memadati
halte itu. Waktu merambat semakin sore. tiba-tiba dia melihat sepasang
kaki berhenti di dekatnya. kiara menengadahkan pandangannya dan dia
melihat sosok yang dia tunggu telah berdiri di dekatnya. Kiara pun
tertegun sesaat. beliau tersenyum kepadanya. Kiara pun menjadi kikuk
dibuatnya.
"maaf sudah menunggu lama,"ujar beliau.
"iya Ustadz,
tidak apa-apa, hmmm,,ini laporannya...."tukas kiara dengan kikuknya
sembari menyerahkan sebuah berkas kearah beliau.
“luarbiasa,
ternyata kamu menyelesaikan laporan ini disini”ujar beliau sambil
membolak-balik laporan itu masih dengan wajah tanpa ekspresi apapun.
“saya kerjakan di rumah....Ustadz,”sela kiara. Ustadz Hanif duduk
disamping kiara, dengan meletakkan tas laptopnya di antara beliau dan
kiara. Kiara menoleh kearah ustadz hanif dan memperhatikan wajah beliau.
Lalu Cepat-cepat dia membuang muka kearah jalan dengan kikuk, ketika
beliau menoleh kearahnya.
“biar saya bawa laporan ini,,” ucap beliau sambil memasukan laporan itu kedalam tas laptopnya.
Kiara hanya memperhatikan tingkah ustadz hanif tanpa berani komentar
apapun. Dia tidak pernah sampai segugup ini, tidak seperti biasanya jika
dia berdiskusi mengenai penelitian dengan beliau dikampus atau ketika
sedang mengikuti kelas Fiqh Islam dengan beliau.
“Ada apa denganmu?kamu sakit?”tanya ustadz Hanif kepada kiara yang diam seribu bahasa.
“oh,,tidak , tidak apa-apa....hmmm boleh saya bertanya sesuatu, ustadz?”kiara berusaha mengalihkan pembicaraan.
“bertanya apa?”
Itu,,,kenapa ustadz tidak naik mobil seperti biasanya,,? Saya lihat ustadz selalu naik busway akhir-akhir ini?”
Apakah dengan naik busway, membuat saya menjadi pria yang kurang tampan?”
Kiara tertawa mendengarnya.. ustadz Hanif pun ikut tertawa pula. Dari
kejauhan Busway yang di tunggu pun semakin mendekati sisi halte.
Orang-orang semakin merepatkan diri ke pintu halte. Kiara pun
bersiap-siap sama seperti dengan yang lainnya.
“apakah kamu akan naik busway yang ini?”tanya ustadz Hanif
“iya., kenapa ustadz tetap duduk, ayo kita naik tunggu apa lagi”
“sepertinya busway ini bukan jurusan tempat tinggal saya...”ujar beliau.
Kiara mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
“baiklah ustadz saya mohon izin,,,ilal liqo’ assalammu’alaikum
wr.wb”ucap naya dan dia pun berbaur dengan kerumunan orang-orang yang
masuk kedalam busway yang telah berhenti tepat di pintu halte itu. Kiara
duduk dekat dengan jendela melihat kearah ustadz hanif yang masih
dengan santainya duduk sendiri di halte. Perlahan busway itu
meninggalkan halte, lalu ustadz hanif melemparkan senyum kerahnya dan
melambaikan tangannya kearah Kiara. Kiara tersenyum sendiri melihatnya.
Lalu dia tersadar ustadz hanif sebenarnya bukan sedang melambaikan
tangan, tapi dia sedang melambaikan sebuah ponsel yang sangat mirip
sekali dengan ponsel miliknya. Kiara pun mengaduk-aduk tas yang dia
bawanya, tidak ada ia menemukan ponsel genggamnya disana. Busway masih
terus melaju dengan kencang. Sedangkan kiara terus mencari-cari
Ponselnya. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke halte.
“pak tolong berhenti,tolong minggir pak, ....”seru Kiara panik kepada pengemudi Busway. Kemudian busway pun berhenti mendadak.
“maaf pak, saya meninggalkan ponsel saya di halte,biar saya turun
disini saja pak,sekali lagi saya mohon maaf” ujar Kiara panik.
Lalu
kiara pun turun dari busway itu, kiara setengah berlari menuju halte
yang sudah cukup jauh ditinggalkan oleh busway tadi. Dia teringat ponsel
yang digenggam oleh ustadz hanif tadi.apakah jangan-jangan itu memang
ponselnya. Didalam pikirannya dia benar-benar berharap itu adalah
ponselnya. Dengan panik dia berlari di trotoar menuju halte itu. Dia
tidak memperdulikan pejalan kaki yang menatap aneh ke arahnya.
Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika dia melihat ustadz Hanif berdiri di
trotoar. Dengan nafas yang masih tersengal-sengal dia menatap kearah
Ustadz Hanif yang tersenyum kesal kearahnya. Ustadz Hanif menyerahkan
ponsel berwarna silver itu kearahnya. Kiara mencoba mengatur nafas.
Dengan tersenyum lega dia menerima ponsel itu.
“alhamdulillah” ujar Kiara sambil memeluk ponsel itu.
“dasar ceroboh....”sungut Ustadz Hanif kesal.
“terima kasih ya ustadz,,,,”ujar Kiara
“iya sama-sama”jawab beliau dengan berlalu meninggalkan Kiara begitu saja.
“ustadz....satu lagi,,,!”seru kiara
Ustadz Hanif menoleh, “ada apalagi?”
“maafkan saya”
“untuk apa?”
“pertama karena saya ceroboh, kedua karena saya,,,,,,,,”
“karena apa?”
“ustadz meminta saya untuk menunggu di halte, itu membuat saya bertanya-tanya”
Ustadz hanif mendekati Kiara.
“apakah menurutmu, saya seperti seseorang yang membuat janji denganmu?”
“saya lihat seperti itu”
Darimana kamu mengetahuinya,,,?”
“dari penampilan ustadz...”
Ustadz Hanif memperhatikan penampilannya, baju koko yang di balut dengan blazer dan syal putih katun melingkar di leher.
“apakah ada yang aneh bukankah saya selalu berpenampilan seperti ini
setiap kali mengisi kuliah?”tanya beliau kepada Kiara yang tersenyum
geli melihatnya.
“gak aneh sih, Cuma kelihatan seperti mubaligh mau khutbah jumat,,”ledek Kiara.
Ustadz Hanif hanya tersenyum mendengarnya.
“ustadz mengapa mengajak saya bertemu di halte? apakah saya melakukan
hal yang mengecewakan ustadz sehingga ustadz tidak mau berjumpa dengan
saya di kampus?”
“pertanyaan kamu, tidak menunjukkan pertanyaan
dari seorang mahasiswa magister...”ujar Ustadz Hanif sambil meneruskan
langkahnya.
“tapi kenapa ustadz?” seru kiara. Suara kira membuat
Beberapa pejalan kaki di trotoar melihat kiara dengan aneh . Kiara pun
tersenyum kikuk kearah mereka, lalu mempercepat langkahnya mengejar
ustadz hanif, akhirnya dia pun berjalan disisi beliau.
“boleh saya tanya kenapa ustadz?”tanya Kiara penuh selidik.
“ada sesuatu, yang ingin saya bicarakan denganmu,,,”ujar beliau.
“mengenai.....?”tanya kiara masih dengan wajah penasaran.
“mengenai penelitian yang sedang kita kerjakan, kamu harus lebih
menyempurnakannya, dan saya ingin kamu mulai mentranslate
kalimat-kalimat itu kedalam bahasa inggris,,,,”terang beliau dengan
masih terus berjalan tanpa memandang ke arah kiara. Sedangkan kiara
memasang wajah kecewa,
“ ternyata Ustadz Hanif hanya ingin mengatakan itu” pikirnya.
Sayup-sayup terdengar alunan musik instrumental yang berasal dari
sebuah toko. Kiara mempercepat langkahnya mendahului ustadz Hanif, dan
ia pun berhenti tepat di depan estalase sebuah toko alat-alat musik.
Matanya tertuju pada sebuah biola yang dipajang disana. Ustadz hanif
menyusulnya, beliau berdiri di belakangnya, terlihat bayangan beliau
terpampang jelas dari kaca estalase toko itu. Terbayang olehnya, ketika
ia mengikuti less biola beberapa tahun yang silam. Namun itu tidak
berlangsung lama. Ketika ia harus disibukkan dengan urusan kuliah
sehingga ia harus meninggalkan alat musik yang sangat ia sukai itu.
“apakah kamu menyukainya...?” tanya Ustadz Hanif .
Kiara terdiam.
“saya menyukainya.....”ujar ustadz Hanif. Kiara tersenyum dengan tatapan yang tidak terlepas dari biola itu.
“ya semua orang boleh menyukainya, baik saya maupun ustadz”ucap kiara. Terlihat senyum tipis menghiasi wajah nya.
“Saya menyukai, tidak hanya barang berharga yang ada di dalam estalase itu, tapi juga sosok berharga yang ada di hadapan saya”
Kiara terkejut dengan ucapan beliau. Perlahan dia pandang wajah Ustadz
Hanif dari bayangan yang dipantulkan kaca estalase itu.
“menikahlah dengan saya,,”
Kiara terperanjat dengan kata-kata itu. Dia benar-benar tidak percaya
dengan apa yang baru saja di dengarnya. Dia menoleh ke arah Ustadz
Hanif. Dia pandang wajah beliau sekali lagi, terlihat jelas wajah beliau
yang tenang dan tidak ada tanda-tanda yang terlukis di wajah beliau
yang menyatakan bahwa beliau sedang bercanda apalagi berbohong. Kiara
benar-benar tidak tahu harus berbuat apa bahkan dia tidak mampu
mengatakan kata-kata apapun.
“ustadz,,apakah ini tidak terlalu
tiba-tiba?” Kiara berusaha mengalahkan kerisauannya. Lalu dia
menundukkan wajahnya yang masih tidak mampu menatap wajah beliau.
“sebaliknya saya berpikir,, saya terlalu banyak membuang waktu untuk
memulainya, saya ingin mengakhiri kesendirian ini dan mengisi sisa waktu
saya dengan seseorang,, yaitu kamu”
Ustadz Hanif mengeluarkan
sesuatu di dalam sakunya, sebuah kotak kecil berwarna jingga dan
memberikannya kepada Kiara. Dia hanya diam memandang dengan ragu kotak
itu, melihat keraguan tersirat dari wajah gadis itu, ustadz Hanif
menarik syalnya dan membalut tangan kirinya dengan syal tersebut dan
mengangkat tangan kanan Kiara dan meletakkan kotak tersebut di atas
telapak tangannya
“saya kira kamulah yang pantas mengenakannya...... “ ucap ustadz hanif kemudian.
Kiara membuka kotak itu dan dia melihat sebuah cincin. Dia pernah
mengetahui cincin itu sebelumnya, ketika beliau pernah kehilangan sebuah
cincin pemberian ibunya dan Kiaralah yang menemukan cincin itu di
antara tumpukan berkas penelitiannya. Airmatanya menetes membasahi
pipinya, tangisnya pun tidak bisa lagi dibendung, dia pun menutup
mulutnya seketika mencoba menahan sedu sedan yang ia rasakan. Antara
perasaan bahagia, tidak percaya bercampur menjadi satu dan semua itu
bergejolak di dalam hatinya.
“Apakah,,,saya sedang bermimpi Ustadz...?”tanya kiara mencoba menyakinkan dirinya.
Ustadz Hanif menggelengkan kepala dan tersenyum. Tiba-tiba hujan pun
turun, orang-orang dan pejalan kaki berlarian mencari tempat berteduh.
Kiara menatap lekat kearah ustadz Hanif, sedangkan mata beliau mengitari
di sekilingnya mencari tempat untuk berteduh. Kemudian beliau menarik
lengan Kiara dan mereka pun berlari menuju satu tempat untuk berlindung
dari hujan. Sayup-sayup terdengar lagu “cinta tanpa syarat” yang di
populerkan oleh Afghan yang mengalun dari toko tersebut :
Aku ingin terus,,,, ada di hatimu
Aku lelaki yang tak bisa mudah menggantimu
Meski pun diriku takut akan kelemahanmu
Ku takkan lari,,, karena cintaku sempurna
(bersambung...................
SEKERLIP CINTA DI BAWAH DERAI HUJAN
Diposting oleh
Unknown
|
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 komentar:
Posting Komentar